BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
(BDI) di Lampung yang akan berfokus pada pengembangan industri agro berbasis singkong.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza usai menghadiri Seminar Hilirisasi Berbasis Agro dan Peningkatan Daya Saing Industri Kecil Menengah (IKM) Pangan di Hotel Radisson, Bandar Lampung, Kamis (16/7/2026).
Faisol menyebutkan infrastruktur dan pengembangan BDI merupakan bentuk kolaborasi antara Kementerian Perindustrian dan Pemprov Lampung dalam menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan sektor industri.
"Kita akan bangun bersama-sama dengan Pemprov Lampung, BDI atau Balai Diklat Industri. Salah satu fokusnya adalah industri agro berbasis singkong. Mudah-mudahan akhir tahun ini atau tahun depan sudah mulai kita bangun," kata Faisol.
Menurutnya, keberadaan BDI tidak hanya memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri di Lampung, tetapi juga mencetak SDM industri yang siap bekerja di berbagai sektor manufaktur di daerah lain di Indonesia.
"BDI ini untuk menyiapkan sumber daya manusia bagi kebutuhan industri di Lampung. Namun, BDI juga akan menyiapkan SDM industri yang nantinya bisa masuk ke sektor-sektor industri lainnya di luar Lampung," ujarnya.
Faisol menilai Lampung memiliki seluruh prasyaratan untuk berkembang menjadi klaster industri pangan nasional. Letak geografis yang strategis, kekuatan sektor pertanian, serta dukungan infrastruktur menjadi modal besar dalam mengembangkan hilirisasi berbasis agro.
Ia mengungkapkan, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung mencapai 19,11 persen, sedikit lebih tinggi dibanding kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang berada di angka 19,07 persen.
"Capaian ini menunjukkan bahwa arah industrialisasi Lampung sudah berada di jalur yang tepat," katanya.
Selain itu, kinerja ekspor komoditas berbasis singkong juga menunjukkan tren positif. Faisol menyebut ekspor singkong Lampung meningkat 73,14 persen, sedangkan ekspor pati singkong tumbuh 37,7 persen.
Melihat potensi tersebut, pemerintah pusat berkomitmen mendorong pengembangan berbagai produk turunan singkong bernilai tambah tinggi, seperti Modified Cassava Flour (Mocaf), glukosa, sorbitol, hingga bioetanol, sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati industri, tetapi juga petani.
"Kita ingin singkong tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah tinggi sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelasnya.
Sementara itu Wakil Orang nomor satu di Lampung, Jihan Nurlela, menggarisbawahi komitmen Pemprov Lampung untuk memperkuat hilirisasi industri berbasis agro sebagai strategi meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Menurutnya, Lampung memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan industri agro nasional. Selain didukung infrastruktur seperti Jalan Tol Trans Sumatera, pelabuhan, jalur kereta api, hingga Bandara Radin Inten II, Lampung juga memiliki beragam komoditas unggulan.
"Produksi singkong Lampung mencapai sekitar 7,5 juta ton pada 2025 dan menjadi yang terbesar di Indonesia. Selain itu, Lampung juga merupakan salah satu sentra produksi padi, jagung, kopi, kakao, dan berbagai komoditas unggulan lainnya," ujarnya.
Jihan mengakui selama ini sebagian besar hasil pertanian Lampung belum diolah secara optimal karena keterbatasan industri pengolahan, sehingga nilai tambah yang diterima petani dan pelaku IKM masih rendah.
Ia menilai pengembangan industri pengolahan menjadi kunci untuk membangun ekosistem ekonomi daerah yang lebih kuat, termasuk melalui Program Desaku Maju yang mendorong tumbuhnya industri di tingkat desa.
Dalam kesempatan itu, Jihan juga menyoroti perkembangan komoditas singkong yang kini mulai menunjukkan kondisi lebih baik.
Menurutnya, persoalan harga singkong sempat menjadi tantangan terbesar di awal masa kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan dirinya.
Namun, melalui berbagai langkah pemerintah daerah, termasuk penerbitan Peraturan Gubernur dan koordinasi dengan pemerintah pusat serta seluruh pemangku kepentingan, harga singkong kini dinilai lebih stabil.
"Hari ini harga ubi kayu di Provinsi Lampung termasuk yang paling baik dibanding sebelumnya dan cukup stabil. Kami juga mendapat perhatian langsung dari Bapak Wakil Presiden yang akan mengawal stabilitas harga ubi kayu serta penguatan ekosistem pertaniannya," katanya.
Jihan menuturkan lebih lanjut, Pemprov Lampung bersama pemerintah pusat juga tengah menyiapkan pengembangan pusat riset singkong pertama di Indonesia yang akan berlokasi di Lampung.
Pusat riset tersebut diharapkan menjadi wadah penelitian dan pengembangan budidaya, teknologi, hingga hilirisasi singkong guna mendukung pengembangan industri berbasis ubi kayu di masa mendatang.
Selain itu, Jihan menginginkan sinergi antara Kementerian Perindustrian dan Pemprov Lampung terus diperkuat agar pengembangan industri daerah dapat menjadi bagian penting dari penguatan industri nasional.
"Kolaborasi yang berkelanjutan akan mempercepat terwujudnya ekosistem industri yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing Lampung," tutupnya. (*)