BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
BANDAR LAMPUNG- Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Dinas Pertanian terus memperkuat program ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Salah satu fokus utamanya adalah optimalisasi urban farming atau pertanian perkotaan yang dijalankan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di berbagai wilayah kecamatan.
Kepala Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung, Dedeh Ernawati Fauzie, mengungkapkan bahwa saat ini program urban farming telah menyasar 18 kecamatan dengan total 80 KWT yang aktif mengolah lahan pekarangan maupun demplot.
"Kami terus mendorong optimalisasi pekarangan rumah tangga melalui urban farming. Dari 80 KWT yang tersebar di kelurahan se-Kota Bandar Lampung, sebagian besar memanfaatkan teknik penanaman konvensional, hidroponik, hingga vertikultur menggunakan media pot maupun polybag," ujar Dedeh sapaan akrab dari Dedeh Ernawati Fauzie.
Meskipun sebarannya kian meluas, sambung Dedeh, Dinas Pertanian terus melakukan pendampingan dan perapihan administrasi di tingkat bawah.
Seperti halnya di Kecamatan Teluk Betung Timur, KWT baru dibentuk oleh penyuluh pertanian setempat dan saat ini tengah dalam proses registrasi.
Sementara itu, untuk Kecamatan Enggal, pemetaan terus dilakukan karena belum memiliki wadah KWT.
Menurut Dedeh, keberadaan program urban farming membawa dampak positif langsung bagi perekonomian dan pemenuhan gizi keluarga.
"Manfaat utamanya tentu untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri skala rumah tangga. Selain itu, komoditas sayuran yang ditanam di lahan terbatas juga dapat dijual sehingga memberi nilai tambah bagi penghasilan para anggota KWT," jelas Dedeh.
Guna menjaga keberlangsungan program ini, sambung Dedeh, Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung memberikan dukungan nyata berupa penyaluran bantuan bibit tanaman sayuran, penyediaan pupuk, hingga pendampingan inovasi teknologi pertanian.
"Monitoring berkala juga dilakukan untuk memastikan setiap KWT tetap aktif memproduksi hasil pertanian perkotaan,"tegas Dedeh.