BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
di Kabupaten Lampung Timur. Ancaman kekeringan pada tanaman menjadi kekhawatiran karena dapat menurunkan hasil panen jika tidak segera diantisipasi.
Seperti yang dilakukan Amri, petani jagung asal Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur.
Demi menyelamatkan tanaman jagung miliknya yang sudah memasuki fase menjelang berbuah, Amri harus menyedot air dari rawa menggunakan mesin diesel dan selang khusus untuk kemudian dialirkan ke lahan pertaniannya.
Upaya tersebut dilakukan agar tanaman tetap memperoleh pasokan air di tengah minimnya curah hujan. Meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar dan operasional mesin, Amri memilih melakukan penyiraman daripada mengambil risiko gagal panen akibat kekeringan.
"Kalau tidak disiram, saya khawatir jagung tidak bisa berbuah maksimal. Memang modal bertambah, tetapi ini harus dilakukan agar hasil panen tetap baik," kata Amri saat ditemui di lahan jagungnya, Jumat (17/7/2026).
Lahan jagung milik Amri berada tidak jauh dari rawa sehingga proses penyedotan air masih memungkinkan dilakukan. Jarak antara lahan dengan sumber air hanya sekitar 100 meter, sehingga air masih dapat dialirkan menggunakan selang.
Meski demikian, proses penyiraman tidaklah mudah. Amri membutuhkan waktu hingga seharian untuk mengairi seluruh lahannya. acara tersebut juga harus dilakukan berulang kali selama musim kemarau agar tanaman tidak mengalami kekeringan.
"Untung lahan saya dekat dengan rawa, jaraknya sekitar 100 meter. Kalau lahan yang jauh dari sumber air, tentu lebih susah mendapatkan air untuk menyiram tanaman," ujarnya.
Petani menginginkan musim kemarau tidak berlangsung terlalu lama. Pasalnya, jika kekeringan terus berlanjut, biaya produksi akan semakin meningkat dan hasil panen jagung dikhawatirkan menurun sehingga berdampak pada pendapatan petani.