BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
perjalanan panjang seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Di antara hamparan pasir yang selama bertahun-tahun menjadi sumber nafkahnya, Satria menanam satu keyakinan sederhana: anak-anaknya harus memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya. Minggu (12/7/2026), keyakinan itu akhirnya berbuah manis.
Dua putri kembarnya, Shafira dan Shabila, resmi diterima di Universitas Indonesia (UI), kampus yang menjadi impian banyak pelajar di Tanah Air. Shafira, lulusan SMAN 1 Pesisir Tengah, berhasil menembus Fakultas Kedokteran.
Sementara saudara kembarnya, Shabila, yang pernah menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Kebangsaan, diterima di Fakultas Hukum. Dua fakultas bergengsi, dua mimpi yang terwujud dalam satu keluarga.
Namun, keberhasilan itu tidak lahir dari jalan yang mudah. Di balik kabar bahagia tersebut, tersimpan kisah tentang tangan yang kasar karena bertahun-tahun mengangkut pasir di pesisir Krui.
Satria rela memeras tenaga demi memastikan kedua putrinya tetap bisa bersekolah, membeli buku, mengikuti bimbingan belajar, hingga mengejar cita-cita yang tampak begitu jauh dari kehidupan sederhana mereka.
Baginya, pendidikan bukan sekadar pilihan, melainkan jalan untuk mengubah nasib keluarga. Prinsip itu terus dipegang meski kehidupan kerap menguji.
"Anak saya harus sekolah setinggi-tingginya," menjadi kalimat yang selalu ia tanamkan, bahkan ketika penghasilan sehari-hari tak selalu mampu menjawab kebutuhan rumah tangga.
Demi membuka peluang yang lebih besar bagi masa depan anak-anaknya, Satria mengambil keputusan besar. Ia memboyong istri beserta kedua putrinya merantau ke Bekasi, Jawa Barat.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Ia meninggalkan pekerjaan lamanya dan memulai hidup dari awal dengan menjadi pedagang pakaian keliling, menyusuri jalan demi jalan untuk menghidupi keluarga.
Perubahan profesi tak membuat semangatnya surut. Dari memikul pasir di pantai hingga memikul dagangan di kota, Satria tetap percaya setiap tetes keringat yang jatuh akan menjadi bekal bagi masa depan anak-anaknya.
Keyakinan itu pula yang menjadi penyemangat Shafira dan Shabila untuk belajar tanpa mengenal lelah hingga akhirnya mampu bersaing dengan ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Keberhasilan si kembar asal Pesisir Barat ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menggapai pendidikan terbaik.
Prestasi mereka mematahkan anggapan bahwa kampus-kampus ternama hanya dapat dijangkau oleh mereka yang berasal dari keluarga berada.
Dengan disiplin, kerja keras, dan doa yang terus mengalir dari orang tua, mimpi besar ternyata dapat tumbuh dari keluarga sederhana.
Kisah Shafira, Shabila, dan Satria pun menjadi kebanggaan masyarakat Pesisir Barat. Pemerintah daerah turut memberikan apresiasi atas capaian tersebut dan memiliki harapan perjuangan keluarga ini mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.
Sebab, perjalanan mereka mengajarkan satu hal penting: asal-usul mungkin sederhana, tetapi cita-cita tidak pernah mengenal batas.
Ketika orang tua rela berjuang tanpa henti dan anak-anak membalasnya dengan tekad yang kuat, mimpi setinggi langit pun dapat menjadi kenyataan.