BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah II mendorong perguruan tinggi swasta (PTS) untuk tidak lagi berhenti pada penelitian akademik semata, tetapi mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penguatan hilirisasi riset.
Dorongan tersebut disampaikan Kepala LLDikti Wilayah II, Prof. Iskhaq Iskandar, dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di lingkungan LLDikti Wilayah II yang berlangsung di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Selasa (23/6/2026).
aktivitas yang mengusung tema "Membangun Ekosistem Inovasi Semesta: Hilirisasi Riset Berdampak dan Elevasi IKU Perguruan Tinggi untuk Peningkatan Mutu Pendidikan" itu juga membahas strategi peningkatan Indikator Kinerja Utama (IKU) serta penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta.
Iskhaq menyampaikan, salah satu fokus utama pemerintah saat ini adalah mendorong perguruan tinggi berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan daerah melalui capaian IKU yang selaras dengan visi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
"Kami ingin perguruan tinggi swasta bersama-sama mewujudkan visi dan misi kementerian melalui peningkatan capaian IKU di masing-masing kampus," kata Iskhaq.
Selain itu, ia menilai hilirisasi hasil penelitian masih menjadi tantangan besar di lingkungan perguruan tinggi swasta. Sebagian besar penelitian yang dilakukan masih berada pada tahap riset dasar sehingga belum banyak menghasilkan produk, teknologi, atau solusi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
"Riset di banyak PTS masih didominasi penelitian dasar atau riset pemula. Hilirisasinya masih sangat terbatas. Karena itu perlu ada penguatan kebijakan dan dukungan agar hasil penelitian benar-benar memberikan dampak nyata," ujarnya.
Untuk mempercepat proses tersebut, LLDikti Wilayah II menggagas pembentukan konsorsium antara PTN dan PTS. Menurut Iskhaq, kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk mempercepat lahirnya inovasi yang dapat menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Ia mencontohkan inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Palembang melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga air sederhana untuk membantu daerah yang belum terjangkau jaringan listrik.
"Jika hanya dilakukan satu perguruan tinggi, tentu membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Namun jika dikerjakan bersama melalui kolaborasi PTN dan PTS, manfaatnya akan lebih cepat dirasakan masyarakat," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Iskhaq juga menyoroti pentingnya transformasi kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.
Menurutnya, masih banyak mahasiswa, khususnya di program pendidikan, yang memiliki pandangan sempit terhadap prospek karier setelah lulus. Selama ini, lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) maupun Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) cenderung menganggap profesi guru sebagai satu-satunya pilihan pekerjaan.
Padahal, kata dia, lulusan pendidikan memiliki peluang berkarier yang jauh lebih luas, mulai dari sektor pelatihan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), konsultan pendidikan, hingga berbagai lembaga nasional maupun internasional.
"Mindset mahasiswa harus dibuka. Lulusan pendidikan bukan hanya menjadi guru, tetapi juga dapat menjadi pendidik dan profesional di berbagai sektor," katanya.
Karena itu, LLDikti mendorong program studi pendidikan mulai mengenalkan konsep industri pendidikan kepada mahasiswa melalui pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif dan melibatkan praktisi.
Menurut Iskhaq, mahasiswa perlu memahami bagaimana mengelola sekolah, lembaga kursus, pusat pelatihan, hingga usaha berbasis pendidikan yang kini berkembang menjadi sektor industri yang menjanjikan.
"Jika ingin membangun sekolah atau lembaga kursus, mahasiswa harus memahami cara mengelolanya. Karena itu keterlibatan praktisi sangat penting untuk memberikan pengalaman dan wawasan langsung kepada mahasiswa," pungkasnya. (*)