Friday, 11 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kekeringan Rusak 950 Hektare Sawah di Tanggamus, 33 Hektare Puso

11 September 2026 09:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
Kekeringan Rusak 950 Hektare Sawah di Tanggamus, 33 Hektare Puso
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

di Kabupaten Tanggamus. Sepanjang Agustus 2026, sedikitnya 950 hektare sawah dilaporkan rusak akibat kekeringan. Dari jumlah itu, 33 hektare dinyatakan puso dan dipastikan gagal panen.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanggamus, Rahmat Hidayat mengungkapkan, Data Laporan Kerusakan Tanaman Akibat Dampak Perubahan Iklim (DPI)/Kekeringan Agustus 2026 mencatat, kerusakan tersebar di lima kecamatan, yakni Pugung, Bulok, Limau, Cukuhbalak dan Bandar Negeri Semuong (BNS).

"Dari total 950 hektare terdampak, rinciannya adalah 480 hektare dalam kategori jumlah (J), 263 hektare rusak ringan (R), 115 hektare rusak sedang (S), 59 hektare rusak berat (B), dan 33 hektare puso (P)," kata Rahmat, Jumat (11/9/2026)

Angka puso menjadi sinyal paling mengkhawatirkan. Lahan yang masuk kategori ini tidak lagi memiliki peluang untuk dipanen. Petani kehilangan hasil, setelah biaya tanam yang telah dikeluarkan.

Kecamatan Bulok menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Pada tanaman padi berumur 55-90 hari setelah tanam (HST), fase yang seharusnya mendekati panen, tercatat kerusakan 198 hektare.

"Rinciannya 76 hektare rusak ringan, 43 hektare rusak sedang, 46 hektare rusak berat, dan 33 hektare puso," ungkap Rahmat didampingi Kabid Tanaman Pangan, Nauval.

"Artinya, seluruh lahan puso di Tanggamus pada periode Agustus terkonsentrasi di Bulok, pada tanaman yang sudah menghabiskan waktu dan biaya selama hampir tiga bulan," kata dia.

Kecamatan Pugung menyusul dengan kerusakan tak kalah luas. Pada tanaman berumur 45-60 HST, seluas 139 hektare terdampak, terdiri dari 68 hektare rusak ringan, 59 hektare rusak sedang, dan 12 hektare rusak berat. 

Bahkan tanaman muda di Pugung umur 15-40 HST pun tak luput, dengan 20 hektare terdampak.

"Di Bulok, tanaman muda umur 17-45 HST juga rusak seluas 58 hektare," ungkapnya 

Sementara di tiga kecamatan lain kerusakan terus meluas. Di Kecamatan Limau, tercatat kerusakan masing-masing 12 hektare dan 10 hektare pada kelompok umur berbeda. kecamatan Cukuhbalak mencatat 15 hektare pada tanaman muda dan 19 hektare pada tanaman umur 55-70 HST.

Adapun di Bandar Negeri Semuong (BNS), padi umur 30 HST rusak 9 hektare, dengan rincian 5 hektare ringan, 3 hektare sedang, dan 1 hektare berat.

Data tersebut menggarisbawahi satu hal, kekeringan di Tanggamus tidak lagi selektif. Sawah muda hingga yang siap panen sama-sama dihantam.

Kondisi ini berbahaya. Rusak ringan hari ini bisa menjadi rusak berat dan puso esok hari jika air tak kunjung datang. Terutama bagi sawah tadah hujan yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada langit.

Bagi petani, ini bukan sekadar soal tanaman layu. Ini soal pendapatan yang hilang, modal yang hangus, dan produksi pangan daerah yang terancam.

Total 950 hektare dalam satu bulan bukan angka kecil. Tanpa intervensi cepat, seperti pompanisasi, penyediaan sumber air alternatif, dan pendampingan intensif, maka luasan rusak berat dipastikan akan bertambah.

Data Agustus 2026 itu memberi peringatan keras: di Tanggamus hari ini, air bukan lagi sekadar penunjang tanam. Air adalah penentu apakah ratusan hektare sawah masih bisa menjadi lumbung pangan, atau berakhir menjadi hamparan lahan puso yang merugikan petani.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari