Thursday, 10 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kekeringan Landa 470 Hektare Lahan Tanggamus, Pemkab Siapkan 13 Ton Benih Antisipasi Puso

10 September 2026 20:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Kekeringan Landa 470 Hektare Lahan Tanggamus, Pemkab Siapkan 13 Ton Benih Antisipasi Puso
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kupastuntas.co, Tanggamus — Kekeringan mulai menekan sektor pertanian Kabupaten Tanggamus. Hingga Kamis (10/9/2026), sedikitnya 470 hektare lahan pertanian terdampak, dengan 33 hektare di antaranya telah dilaporkan mengalami puso.

Data tersebut terdiri atas kerusakan ringan seluas 263 hektare, kerusakan sedang 115 hektare, kerusakan berat 59 hektare, serta lahan yang mengalami puso 33 hektare.

Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah daerah di tengah ancaman kekeringan yang belum sepenuhnya berakhir.

Terlebih, sektor pertanian juga menghadapi potensi gangguan lain berupa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dapat berdampak terhadap tanaman apabila berlangsung dalam waktu panjang.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanggamus, Rahmat Hidayat mengungkapkan, data tersebut merupakan laporan kerusakan yang telah diterima pihaknya hingga Kamis (10/9/2026).

Menurut Rahmat, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipasi atau skenario apabila kerusakan tanaman akibat kekeringan maupun kondisi ekstrem berkembang menjadi gagal panen dalam skala lebih luas.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengoptimalkan Cadangan Benih Daerah (CBD).

"Jika terjadi, mudah-mudahan tidak terjadi (gagal panen atau puso), kita bantu petani itu dengan mengeluarkan cadangan benih daerah. Dikeluarkan untuk membantu petani yang gagal panen, dan itu gratis," kata Rahmat.

Pemkab Tanggamus saat ini memiliki cadangan benih daerah sebanyak 13 ton. Benih tersebut disiapkan sebagai salah satu instrumen bantuan bagi petani yang mengalami gagal panen akibat bencana maupun kondisi cuaca ekstrem.

Rahmat menjelaskan, bantuan benih tidak diberikan secara otomatis kepada seluruh lahan yang terdampak. Petani yang mengalami kerusakan terlebih dahulu harus melalui proses pendataan dan verifikasi di lapangan.

Petugas akan mendata petani serta luas lahan yang mengalami kerusakan atau gagal panen. Hasil pendataan tersebut kemudian dilaporkan secara berjenjang kepada dinas untuk menjadi dasar pemberian bantuan.

"Petugas di lapangan melakukan pendataan petani yang mengalami gagal panen. Selanjutnya data itu dilaporkan secara berjenjang dan akan memperoleh cadangan benih," ujarnya.

Antisipasi Abu Vulkanik

Selain kekeringan, pemerintah daerah juga memperhitungkan skenario apabila paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Kondisi tersebut dikhawatirkan menambah tekanan terhadap tanaman yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan air akibat musim kemarau.

Karena itu, keberadaan CBD menjadi penting sebagai cadangan untuk menjaga keberlanjutan musim tanam apabila petani mengalami gagal panen.

Rahmat mengungkapkan, pemerintah tentu mengharapkan kerusakan tanaman tidak berkembang menjadi puso lebih luas. Namun, pemerintah tetap harus menyiapkan skenario terburuk agar petani tidak kehilangan kesempatan untuk kembali menanam setelah kondisi memungkinkan.

Cadangan benih tersebut nantinya diberikan kepada petani yang telah dinyatakan mengalami gagal panen berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi petugas.

Dengan mekanisme tersebut, bantuan diharapkan tepat sasaran sekaligus dapat disesuaikan dengan kebutuhan luas lahan yang terdampak.

Jaga Produksi Pangan

Cadangan Benih Daerah pada dasarnya merupakan persediaan benih yang disiapkan pemerintah daerah untuk membantu petani menghadapi kondisi yang menyebabkan kerusakan tanaman, termasuk bencana alam dan cuaca ekstrem.

Bagi pemerintah daerah, bantuan benih bukan sekadar mengganti tanaman yang gagal dipanen. Lebih jauh, CBD menjadi bagian dari upaya menjaga agar siklus produksi pangan tidak terputus setelah terjadi bencana atau kerusakan tanaman.

"Harapan kita tentu jangan sampai terjadi gagal panen. Tetapi kalau memang terjadi, cadangan benih daerah itu kita siapkan untuk membantu petani," kata Rahmat.

Dengan kondisi saat ini, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada 33 hektare lahan yang sudah puso, tetapi juga pada ratusan hektare tanaman yang mengalami kerusakan ringan hingga berat.

Pemerintah daerah perlu memastikan kerusakan tersebut tidak terus meluas dan berubah menjadi puso, sekaligus memastikan petani memiliki dukungan untuk kembali berproduksi apabila gagal panen benar-benar terjadi. (*) 

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari