BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Sunda terus menunjukkan aktivitas erupsi hingga Rabu (26/8/2026) pagi. Dalam rentang sekitar 24 jam sejak Selasa (25/8/2026) pukul 07.44 WIB hingga Rabu pukul 07.00 WIB, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami 17 kali erupsi.
Jumlah tersebut merupakan akumulasi delapan erupsi yang terjadi sejak Selasa pagi hingga malam dan sembilan erupsi berikutnya mulai Selasa malam hingga Rabu pagi.
Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Andi Suwardi, menjelaskan aktivitas erupsi masih berlangsung hingga Rabu (26/8/2026) pagi.
"Sejak Selasa malam sampai Rabu pagi, tercatat sembilan kali erupsi. Beberapa erupsi tidak teramati secara visual karena terjadi pada malam hari," kata Andi Suwardi, dilansir Kompas.com, Rabu (26/8/2026).
Aktivitas erupsi kembali tercatat pada Selasa pukul 21.19 WIB. Letusan tidak teramati secara visual, tetapi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan durasi 24 detik.
Erupsi berikutnya terjadi pukul 22.36 WIB dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi 25 detik. Memasuki Rabu dini hari, erupsi terjadi pada pukul 00.33 WIB dengan amplitudo maksimum 38 milimeter dan durasi 14 detik.
Kemudian pada pukul 01.32 WIB, erupsi kembali terjadi dengan amplitudo maksimum 20 milimeter dan durasi 24 detik. Dua erupsi lainnya tercatat berdekatan, yakni pukul 02.52 WIB dan 02.59 WIB.
Saat laporan dibuat, kedua erupsi tersebut masih berlangsung sehingga belum seluruh parameternya tercatat. "Karena jarak antarerupsi cukup dekat, ada aktivitas yang belum sempat terekam secara lengkap oleh seismograf. Namun aktivitas erupsinya tetap kami pantau," ujar Andi.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kemudian kembali terlihat pada Rabu pagi. Pada pukul 06.03 WIB, erupsi menghasilkan kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak atau sekitar 307 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal teramati bergerak ke arah barat dan barat laut.
Terakhir, tepat pukul 07.00 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi. Kolom abu teramati mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat dan barat laut.
Andi menjelaskan, rangkaian erupsi tersebut menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih cukup dinamis sehingga pemantauan terus dilakukan.
"Yang perlu diperhatikan bukan hanya erupsi yang terlihat secara visual, tetapi juga aktivitas yang terekam oleh seismograf. Karena itu, pemantauan dilakukan terus-menerus," kata Andi.