BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Transformasi pendidikan dinilai tidak cukup hanya dibangun melalui kebijakan di tingkat pemerintah, tetapi harus benar-benar terasa di ruang kelas. Kreativitas guru dalam merancang pembelajaran sekaligus menanamkan karakter menjadi salah satu kunci untuk mendorong kemajuan peserta didik.
Hal tersebut disampaikan Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, saat menghadiri Festival KREASI Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di GOR Ajisaka, Kawasan Sekuting Terpadu, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat, Selasa (1/9/2026).
Menurut Maila, guru memiliki posisi penting dalam menentukan pengalaman belajar yang diterima siswa. Karena itu, pendidik dituntut tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga kreatif dalam merancang pembelajaran yang dapat menumbuhkan karakter dan potensi setiap peserta didik.
"Kita membutuhkan guru yang kreatif dalam merancang pembelajaran sekaligus menanamkan karakter untuk kemajuan siswa," ujar Maila.
Ia menekankan, perubahan dalam dunia pendidikan sejatinya tidak hanya terjadi di balik meja kebijakan. Transformasi justru akan terasa ketika guru berada di dalam kelas, berinteraksi langsung dengan siswa, mendampingi anak yang mengalami ketertinggalan belajar, serta menghadapi berbagai hambatan yang muncul dalam proses pendidikan.
Maila juga menekankan pentingnya membangun sinergi antara sekolah dan orang tua. Menurutnya, keberhasilan pendidikan seorang anak tidak dapat hanya dibebankan kepada guru maupun sekolah, tetapi membutuhkan dukungan keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
Ia kemudian mencontohkan perjalanan Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, yang menurutnya juga pernah berada di posisi sebagai seorang murid sebelum akhirnya menjadi kepala daerah. Hal tersebut menjadi gambaran bahwa kesempatan yang diberikan kepada seorang siswa melalui pendidikan dapat menjadi titik penting yang mengubah perjalanan hidupnya.
"Pak Bupati hari ini dulunya adalah murid dan kemudian menjadi bupati berkat guru. Ini menunjukkan bahwa satu kesempatan yang diberikan kepada siswa bisa mengubah hidupnya," katanya.
Selain mendorong kreativitas pembelajaran, Maila menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi guru maupun peserta didik. Menurutnya, semangat kreativitas dalam pendidikan harus berjalan beriringan dengan upaya memberikan perlindungan kepada guru ketika menjalankan tugasnya.
Ia menyampaikan, kebijakan Kemendikdasmen juga diarahkan untuk memperkuat perlindungan hukum bagi guru, terutama dalam menjalankan fungsi pendidikan dan pendisiplinan di lingkungan sekolah. Kebijakan tersebut, menurutnya, perlu diterjemahkan secara tepat agar guru dapat menjalankan tugas secara profesional tanpa merasa kehilangan perlindungan.
"Semangat KREASI ini bertemu dengan tema perlindungan guru. Kita ingin guru terlindungi dalam melakukan pendisiplinan di kelas. Arah kebijakan perlindungan hukum bagi guru ini perlu diterjemahkan untuk melindungi guru kita," jelasnya.
Maila memiliki harapan forum Festival KREASI GTK dapat dimanfaatkan untuk membahas persoalan tersebut secara terbuka. Menurutnya, sekolah yang aman bukan hanya menjadi kebutuhan siswa, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Sementara itu, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus memiliki harapan kehadiran Festival KREASI GTK dapat membawa atmosfer baru bagi dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Lampung Barat. Ia mengapresiasi kehadiran perwakilan Kemendikdasmen yang tetap memenuhi undangan pemerintah daerah meskipun Menteri Abdul Mu’ti berhalangan hadir.
Parosil menilai acara tersebut dapat menjadi wadah untuk mendorong lahirnya pola pembelajaran yang lebih menyenangkan. Menurutnya, pendidikan saat ini harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih baik dan mampu menciptakan suasana belajar yang berbeda sesuai dengan perkembangan zaman.
Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan pendidikan tidak dapat diseragamkan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Faktor budaya, karakter masyarakat dan kondisi lingkungan menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam membangun sistem pendidikan.
"Bagaimana kita melakukan sinergi antarinstansi pendidikan di Lampung. Tidak bisa disamakan satu daerah dengan daerah yang lain, terutama dalam budaya pendidikannya. Festival ini menjadi salah satu wadah untuk kita berkolaborasi," kata Parosil.
Dalam kesempatan tersebut, Parosil juga menyampaikan beragam program pemerintah daerah yang berkaitan langsung dengan upaya meringankan beban masyarakat. Salah satunya program pembagian seragam sekolah gratis sebanyak tiga stel beserta buku tulis yang kembali diluncurkan dalam rangkaian Festival KREASI GTK.
Program tersebut, kata Parosil, ditujukan untuk membantu orang tua sekaligus menjadi bagian dari upaya menekan angka anak putus sekolah. Ia menilai kebijakan pendidikan harus memiliki manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat, terutama keluarga yang secara ekonomi membutuhkan dukungan.
"Bagi orang yang mampu mungkin program ini tidak penting, tetapi bagi masyarakat menengah ke bawah ini sangat berarti. Kami ingin program ini meringankan beban orang tua dan membantu memutus angka anak putus sekolah," ujarnya.
Parosil bahkan meminta seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta di Lampung Barat, untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Ia menekankan tidak ingin program seragam gratis yang diluncurkan pemerintah justru diikuti dengan adanya penawaran pembelian seragam lain yang kembali menambah beban orang tua siswa.
"Saya tidak ingin program diluncurkan, tetapi masih ada penawaran pembelian seragam sekolah. Jangan lagi menambah beban orang tua siswa," tegasnya.
Selain program seragam dan buku gratis, Parosil menyebut Pemerintah Kabupaten Lampung Barat juga telah menggulirkan beragam program beasiswa, termasuk beasiswa kedokteran, seni budaya dan bidang lainnya. Program tersebut diarahkan untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat Lampung Barat.
Menurut Parosil, pemerintah daerah harus terbuka terhadap kritik dan evaluasi terhadap seluruh program yang dijalankan. Ia mengungkapkan siap menerima kritik apabila program pendidikan yang digulirkan pemerintah tidak memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan masyarakat.
"Saya siap dikritik jika program yang digulirkan pemerintah tidak memberikan manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.
Melalui Festival KREASI GTK, pemerintah memiliki harapan kolaborasi antara guru, tenaga kependidikan, orang tua, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat semakin kuat. Dengan begitu, kreativitas pembelajaran, perlindungan guru dan dukungan terhadap kebutuhan siswa dapat berjalan beriringan untuk menciptakan pendidikan yang lebih aman, menyenangkan dan berpihak pada masa depan peserta didik. (*)