Friday, 18 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

BI Dorong Hilirisasi dan Digitalisasi untuk Perkuat Ekonomi Lampung

18 September 2026 19:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
BI Dorong Hilirisasi dan Digitalisasi untuk Perkuat Ekonomi Lampung
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

(BI) mendorong Provinsi Lampung memperkuat hilirisasi komoditas unggulan dan memperluas digitalisasi ekonomi untuk meningkatkan nilai tambah serta kualitas pertumbuhan ekonomi daerah.

Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Lampung Begawi x SIGER FEST 2026 di Lampung City Mall, Telukbetung, Bandar Lampung, Jumat (18/9/2026).

agenda yang berlangsung pada 18-20 September 2026 itu mengusung tema “Sai Bumi Sejuta Nilai: Penguatan Hilirisasi dan Digitalisasi untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing”.

Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia, Thomas A.M. Djiwandono, menyampaikan perekonomian Lampung menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.

Pertumbuhan tersebut sama dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama. Lampung juga disebut menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi di kawasan Sumatera.

Namun, menurut Thomas, tingginya pertumbuhan perlu diikuti peningkatan kualitas ekonomi melalui penciptaan nilai tambah dari berbagai komoditas unggulan daerah.

"Kita sudah tahu Lampung memiliki berbagai komoditas unggulan, mulai dari pertanian hingga produk kreatif. Tantangan kita adalah bagaimana kekuatan tersebut terus ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah, memperkuat rantai produksi, dan membuka kesempatan usaha baru,” kata Thomas.

Ia menggarisbawahi, hilirisasi membutuhkan investasi agar komoditas unggulan Lampung tidak berhenti sebagai bahan mentah.

"Hilirisasi itu hanya akan tercapai kalau ada investasi,” ujarnya.

Thomas menyampaikan BI terus mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, sektor keuangan dan berbagai pemangku kepentingan untuk membuka peluang investasi di daerah.

Menurutnya, koordinasi tersebut penting agar potensi yang dimiliki daerah dapat diterjemahkan menjadi program dan investasi yang memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.

"Artinya memang kolaborasi dan komunikasi menjadi luar biasa penting,” katanya.

Selain hilirisasi, BI juga mendorong penguatan UMKM melalui tiga pendekatan, yakni penguatan kemitraan usaha, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.

Melalui kemitraan, UMKM didorong untuk masuk ke dalam ekosistem usaha yang lebih kuat, termasuk melalui klaster dan keterhubungan dengan rantai nilai yang lebih luas.

Sementara peningkatan kapasitas diarahkan pada perbaikan kualitas produk, tata kelola usaha, kemampuan manajerial hingga kesiapan pelaku UMKM menembus pasar yang lebih luas.

"Artinya, UMKM perlu semakin terhubung, semakin kuat kapasitas usahanya, dan semakin mudah memperoleh pembiayaan,” ujar Thomas.

BI juga menempatkan digitalisasi sebagai bagian penting dalam memperkuat daya saing UMKM.

Thomas menyebut digitalisasi tidak sekadar mengubah transaksi tunai menjadi transaksi digital, tetapi harus mampu membuat pelaku usaha lebih efisien, memperluas pasar dan terhubung dengan ekosistem ekonomi yang lebih besar.

Salah satu instrumen yang terus diperluas adalah QRIS.

Hingga triwulan II 2026, jumlah merchant QRIS di Provinsi Lampung telah melampaui 916 ribu merchant. Jumlah tersebut tumbuh 29,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nominal transaksi mencapai sekitar Rp2,3 triliun.

Sementara jumlah pengguna QRIS di Lampung mencapai sekitar 1,6 juta pengguna dan tumbuh sekitar 17 persen secara tahunan.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyampaikan digitalisasi merupakan bagian dari upaya meningkatkan efisiensi ekonomi.

"Digitalisasi kami percaya bahwa ini merupakan upaya efisiensi, bagaimana efisiensi juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” kata Bimo.

Menurut Bimo, penguatan hilirisasi dan digitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi Lampung yang tidak hanya menghasilkan transaksi selama agenda berlangsung, tetapi juga menciptakan peluang usaha berkelanjutan.

"Acara ini tentu saja dirancang tidak berhenti pada penciptaan transaksi selama agenda berlangsung, tapi membangun ekosistem untuk mendukung peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, pembiayaan, digitalisasi, dan kolaborasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Lampung Begawi x SIGER FEST 2026 sendiri menghadirkan tiga ruang utama, yakni Lamban Kupi untuk penguatan ekosistem kopi Lampung, Main Stage sebagai ruang kolaborasi, diskusi, literasi dan digitalisasi, serta Lamban Wastra untuk eksplorasi dan inovasi pengembangan nilai tambah wastra Lampung.

Bimo menyampaikan agenda tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan UMKM, komunitas, dunia usaha, agregator, perbankan dan masyarakat dalam membangun peluang ekonomi yang lebih luas.

"Penyelenggaraan Lampung Begawi x SIGER FEST 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan produk unggulan daerah, tetapi juga platform penciptaan nilai,” katanya.

Sementara itu, Pimpinan tertinggi Provinsi Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan Pemprov Lampung memiliki target mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sebagai bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045.

Ia menyebut potensi pertanian dan komoditas Lampung sangat besar, namun baru sekitar 30 persen komoditas yang telah masuk proses hilirisasi.

Karena itu, Pemprov Lampung bersama BI akan mendorong hilirisasi hingga tingkat desa, termasuk pengembangan pakan ternak, pengeringan kopi, pengolahan cokelat dan berbagai produk turunan komoditas unggulan lainnya.

"Untuk mencapai 8 persen, tidak bisa hanya dengan regulasi. Harus ada kolaborasi, kreativitas, inovasi, dan tentunya kita harus melakukan hilirisasi,” kata Mirza.

Karena itu, Pemprov Lampung akan mendorong pengembangan industri pengolahan hingga ke tingkat desa, sehingga peningkatan produksi yang dilakukan petani dapat diikuti dengan peningkatan nilai tambah.

"Fokus kami adalah bagaimana memberikan nilai tambah semua komoditas yang ada di Provinsi Lampung,” ujarnya.

Mirza mencontohkan pengembangan hilirisasi dapat dilakukan melalui pengolahan pakan ayam, pengering kopi, pengolahan cokelat, hingga pengembangan industri lanjutan yang membutuhkan investasi lebih besar.

Ia menyampaikan, peningkatan produktivitas pertanian juga mulai terlihat dari meningkatnya penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan).

"Pertumbuhan Alsintan di kami ini hampir 200 persen,” katanya.

Menurutnya, peningkatan produktivitas tersebut harus diantisipasi dengan membangun kapasitas industri pengolahan. Jika produksi komoditas meningkat tanpa diikuti peningkatan kapasitas industri, maka potensi nilai tambah justru tidak dapat dimaksimalkan di daerah.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari