BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Tanggamus — Keindahan destinasi wisata tidak otomatis membuat wisatawan datang. Di tengah kebiasaan wisatawan yang semakin bergantung pada informasi digital, pengelola destinasi dituntut mampu menciptakan daya tarik, membangun kolaborasi, sekaligus memasarkan potensi wisata secara kreatif.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus meminta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengubah pola pengelolaan destinasi. Pokdarwis tidak lagi cukup hanya menjaga dan mengelola objek wisata, tetapi harus mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat di sekitar destinasi.
Dorongan itu disampaikan dalam Sosialisasi Media Sosial Majestic Tanggamus dan Kunjungan Wisatawan terhadap Pelaku Usaha Wisata (Pokdarwis) yang digelar di Aula Disparekraf Tanggamus, Rabu (12/8/2026).
Kepala Bidang Pengembangan Kelembagaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disparekraf Tanggamus, Winda Fidriani, menuturkan Pokdarwis harus menjadi motor penggerak pariwisata di wilayah masing-masing.
Menurutnya, pola pengelolaan wisata dengan hanya menunggu wisatawan datang sudah tidak relevan. Pengelola harus mampu menciptakan pengalaman wisata, mengemas potensi lokal menjadi daya tarik dan mempromosikannya secara aktif.
“Kami ingin Pokdarwis bergerak aktif, bukan hanya sebagai pengelola destinasi, tetapi juga menjadi penggerak pariwisata di wilayahnya. Harus berani berkolaborasi, berinovasi dan mulai benar-benar melek digital,” kata Winda.
Winda menilai media sosial kini menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan wisatawan dalam menentukan tujuan perjalanan. Destinasi yang memiliki keindahan tetapi minim promosi berisiko kalah bersaing dengan tempat wisata yang mampu mengemas dan menyebarkan kontennya secara konsisten.
Karena itu, setiap potensi wisata di Tanggamus harus dikemas menjadi konten yang informatif, menarik dan mudah dibagikan. Foto, video pendek, cerita perjalanan hingga informasi mengenai akses dan fasilitas dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi kepada calon wisatawan.
“Jangan sampai kita punya destinasi yang indah, tetapi orang tidak tahu. Media sosial harus kita manfaatkan sebagai etalase pariwisata Tanggamus. Melalui Majestic, kita ingin memperkuat promosi dan membuka ruang kolaborasi agar potensi-potensi wisata kita semakin dikenal,” ujarnya.
Menurut Winda, pengembangan pariwisata juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah maupun pengelola destinasi. Diperlukan kolaborasi antara Pokdarwis, pelaku usaha wisata, pemerintah, komunitas hingga mitra perjalanan wisata.
Kolaborasi tersebut penting agar pengembangan destinasi tidak berjalan secara terpisah. Ketika promosi meningkat dan jumlah wisatawan bertambah, manfaat ekonominya diharapkan ikut dirasakan pelaku UMKM dan masyarakat di sekitar kawasan wisata.
“Kalau semua bergerak bersama, saling mendukung dan saling mempromosikan, dampaknya akan jauh lebih besar. Wisatawan datang, UMKM ikut bergerak, ekonomi masyarakat tumbuh,” katanya.
Winda memastikan keberhasilan sektor pariwisata tidak semata-mata diukur dari keindahan sebuah destinasi. Lebih jauh, destinasi harus mampu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.
“Jadi, pariwisata itu bukan hanya soal destinasi, tetapi bagaimana destinasi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Kepala Disparekraf Kabupaten Tanggamus Marhasan Samba turut hadir dalam aktivitas tersebut. Ia memberikan dukungan terhadap upaya memperkuat kapasitas Pokdarwis dan pelaku usaha wisata dalam mengembangkan sektor pariwisata daerah.
aktivitas tersebut juga dihadiri Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Syarif Hidayat Bangsawan, jajaran Disparekraf Tanggamus, pelaku usaha wisata serta sebagian Pokdarwis.
Melalui aktivitas tersebut, Pokdarwis didorong tidak hanya memahami pengelolaan destinasi, tetapi juga mampu melihat potensi wisata sebagai produk yang harus dikembangkan dan dipasarkan.
Bagi Tanggamus yang memiliki beragam potensi wisata alam, bahari, budaya dan ekonomi kreatif, tantangannya bukan sekadar menjaga potensi yang ada. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat potensi tersebut dikenal, mendatangkan wisatawan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Disparekraf Tanggamus menginginkan Pokdarwis mulai bergerak lebih adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital, memperluas jejaring dan menciptakan inovasi di masing-masing destinasi.
Dengan demikian, Pokdarwis tidak lagi sekadar menjadi penjaga destinasi, tetapi mampu berperan sebagai penggerak ekonomi, pencipta inovasi, pembangun kolaborasi sekaligus promotor digital pariwisata Tanggamus.
Keindahan alam menjadi modal awal. Namun, kreativitas, kolaborasi dan kemampuan memasarkan potensi menjadi faktor penting agar destinasi tersebut benar-benar menghasilkan kunjungan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (*)