BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Lampung melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung membuka pendaftaran SMA Terbuka mulai 20 Juli hingga 13 Agustus 2026.
Program ini ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada lulusan SMP maupun anak putus sekolah agar tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengungkapkan SMA Terbuka menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka putus sekolah di Provinsi Lampung.
Program tersebut dapat diikuti oleh lulusan SMP yang baru menyelesaikan pendidikannya maupun masyarakat yang sebelumnya terhenti sekolah, dengan rentang usia 15 hingga 21 tahun.
"Mulai 20 Juli sampai 13 Agustus kita membuka pendaftaran SMA Terbuka. Yang boleh mengikuti adalah lulusan SMP maupun anak-anak yang putus sekolah dengan usia 15 sampai 21 tahun," kata Thomas saat dimintai keterangan, Rabu (15/7/2026).
Menurut Thomas, batas usia hingga 21 tahun diberikan agar masyarakat yang sempat berhenti sekolah tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan menengah dan mendapatkan ijazah SMA Negeri.
Program SMA Terbuka tidak dipungut biaya. Seluruh peserta dapat mengikuti pendidikan secara gratis dengan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel dibanding sekolah reguler.
Proses belajar dilakukan secara mandiri, daring melalui Learning Management System (LMS) Lampung Belajar, serta tatap muka secara terbatas sesuai kebutuhan peserta didik.
"Ijazahnya adalah ijazah SMA Negeri dari sekolah induk. Jadi sama seperti siswa reguler, hanya proses belajarnya lebih fleksibel menyesuaikan kondisi masing-masing siswa," ujarnya.
Untuk aktivitas tatap muka, pembelajaran tidak harus berlangsung di sekolah. Guru pamong akan memberikan pembelajaran di lokasi yang disepakati bersama, seperti balai desa maupun rumah warga sehingga lebih mudah dijangkau peserta.
Thomas menjelaskan SMA Terbuka berbeda dengan Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Pada program PJJ, peserta harus memenuhi persyaratan tertentu dengan rentang usia 16 hingga 18 tahun dan saat ini hanya diselenggarakan di empat sekolah.
"Sementara SMA Terbuka dapat langsung diikuti oleh peserta tanpa harus menunggu satu tahun setelah berhenti sekolah. Selain itu, SMA Terbuka juga berbeda dengan pendidikan kesetaraan Paket C yang diselenggarakan Pusat aktivitas Belajar Masyarakat (PKBM)," kata dia.
Menurutnya lulusan PKBM memperoleh ijazah Paket C, sedangkan lulusan SMA Terbuka mendapatkan ijazah SMA Negeri dari sekolah induk penyelenggara.
Pada tahap awal, Disdikbud Provinsi Lampung menunjuk 15 SMA Negeri sebagai sekolah induk penyelenggara SMA Terbuka, yakni SMA Negeri 6 Bandar Lampung, SMA Negeri 1 Jati Agung, SMA Negeri 1 Kalianda, SMA Negeri 1 Terusan Nunyai, SMA Negeri 1 Kalirejo, SMA Negeri 1 Batanghari.
"SMA Negeri 1 Way Jepara, SMA Negeri 1 Padang Cermin, SMA Negeri 2 Pringsewu, SMA Negeri 1 Banjar Agung, SMA Negeri 1 Kota Agung, SMA Negeri 1 Kotabumi, SMA Negeri 1 Baradatu, SMA Negeri 1 Liwa, dan SMA Negeri 1 Tulang Bawang Tengah," katanya.
Menurut Thomas, sekolah-sekolah tersebut dipilih karena memiliki kesiapan tenaga pendidik serta penyebaran wilayah yang dapat mempermudah akses masyarakat untuk mengikuti pendidikan.
Ia memastikan tidak ada pembatasan jumlah peserta dalam program SMA Terbuka. Pemerintah justru menginginkan semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan program tersebut sebagai bagian dari upaya menekan angka putus sekolah di Lampung.
"Target kita sebanyak-banyaknya. Tujuan utama program ini adalah menurunkan angka putus sekolah. Harapan kita dalam lima tahun ke depan angka putus sekolah di Lampung dapat ditekan secara bertahap," katanya.
Thomas juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk membuka SMP Terbuka sehingga penanganan anak putus sekolah dapat dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat SMP hingga SMA.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), angka partisipasi sekolah di Lampung masih menunjukkan adanya anak usia sekolah yang belum melanjutkan pendidikan, terutama pada kelompok usia 16 - 18 tahun.