BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
berkepanjangan mulai mengancam sektor pertanian di ujung selatan Kabupaten Tanggamus, Lampung. Ratusan hektare lahan persawahan tadah hujan di Kecamatan Pematangsawa terancam gagal panen akibat pasokan air yang terus menyusut, Rabu (15/7/2026).
Kondisi ini memicu kekhawatiran petani setempat karena berpotensi menurunkan produksi gabah sekaligus menggerus pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Lahan persawahan yang terdampak berada di Pekon Tampang Tua, Tampang Muda, Martanda, Kaurgading, dan Pekon Tirom.
Seluruh areal tersebut merupakan sawah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan sebagai sumber pengairan sehingga sangat rentan ketika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.
Dalam beberapa pekan terakhir, tanaman padi di beberapa lokasi mulai menunjukkan gejala kekeringan. Pertumbuhan tanaman terhambat, daun menguning, bahkan sebagian mulai mengering sebelum memasuki masa panen.
Apabila kondisi ini terus berlangsung, petani diperkirakan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Padahal, setiap musim panen kawasan ini mampu menghasilkan padi hingga ratusan ton yang menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan masyarakat di wilayah selatan Kecamatan Pematangsawa.
Nursa, petani di Pekon Tampang Muda menyampaikan, para petani menginginkan Pemerintah Kabupaten Tanggamus segera turun tangan membantu mengatasi krisis air yang sedang terjadi.
"Kami menginginkan pemerintah segera memberikan bantuan, terutama mesin pompa air atau Alkon, sehingga kami masih bisa mengalirkan air ke sawah dan menyelamatkan tanaman padi yang belum sepenuhnya kering," kata Nursa Rabu (15/7/2026).
Menurut Nursa, bantuan pompa air menjadi kebutuhan paling mendesak karena masih terdapat sebagian tanaman yang berpeluang diselamatkan apabila pasokan air dapat segera dipenuhi.
Selain bantuan mesin pompa, petani juga menginginkan pemerintah merealisasikan program penanganan kekeringan melalui infrastruktur dan pengembangan jaringan irigasi, penyediaan embung atau sumber cadangan air, serta bantuan benih bagi petani yang mengalami gagal panen agar dapat kembali menanam pada musim berikutnya.
Para petani menilai, tanpa langkah cepat dari pemerintah, produksi padi di wilayah tersebut dipastikan turun drastis.
"Dampaknya tidak hanya dirasakan petani melalui berkurangnya pendapatan, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan pangan masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Tanggamus," ujar Yadi, petani lainnya.
Berdasarkan berbagai kajian Kementerian Pertanian, sawah tadah hujan merupakan lahan yang paling rentan terdampak anomali iklim dan musim kemarau berkepanjangan karena tidak memiliki jaringan irigasi teknis.
Fenomena El Niño maupun penurunan curah hujan dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi tantangan serius bagi daerah-daerah yang bergantung pada pertanian tadah hujan.
Sementara itu, Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pertanian terus mendorong pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi kekeringan melalui penyediaan pompa air, optimalisasi sumber air, infrastruktur dan pengembangan embung, percepatan rehabilitasi jaringan irigasi, hingga pendampingan petani agar produksi pangan tetap terjaga di tengah ancaman perubahan iklim.
Para petani di Pematangsawa Selatan menginginkan langkah serupa segera direalisasikan di Kabupaten Tanggamus. Mereka menilai penyelamatan tanaman yang masih tersisa harus dilakukan secepat mungkin sebelum seluruh areal persawahan mengalami puso atau gagal panen total.
"Bagi kami, setiap hari sangat menentukan. Kalau air segera datang, masih ada harapan panen. Namun jika kemarau terus berlanjut tanpa bantuan, kami khawatir sebagian besar sawah akan gagal panen," ungkap Toto, petani di Pekon Martanda.