Wednesday, 09 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Sekolah Daring Diperpanjang 9–10 September, Erupsi Anak Krakatau dan Arah Angin Jadi Pertimbangan

08 September 2026 22:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Sekolah Daring Diperpanjang 9–10 September, Erupsi Anak Krakatau dan Arah Angin Jadi Pertimbangan
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung kembali memperpanjang kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menyusul perkembangan terbaru aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi sebaran abu vulkanik ke wilayah Lampung.

Seluruh satuan pendidikan mulai jenjang PAUD, SD, SMP hingga SMA/SMK di Provinsi Lampung diminta melaksanakan pembelajaran secara daring pada Rabu-Kamis, 9-10 September 2026.

Wakil Pimpinan tertinggi Provinsi Lampung Jihan Nurlela menuturkan, agenda belajar mengajar (KBM) tatap muka yang sebelumnya direncanakan kembali digelar harus ditunda setelah adanya perkembangan terbaru aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Pimpinan tertinggi Provinsi Lampung Nomor 100.3.4/14/V.01/2026 tentang Pelaksanaan agenda Belajar Mengajar (KBM) Akibat Dampak Abu Vulkanik yang ditujukan kepada kepala daerah di 15 kabupaten/kota se-Lampung.

"Karena ada perkembangan terbaru serta mempertimbangkan arah angin yang menuju Provinsi Lampung dan adanya potensi paparan abu vulkanik kembali, maka kami memutuskan untuk menyesuaikan kembali kebijakan tersebut," kata Jihan dalam konferensi pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Selasa (8/9/2026) malam.

Erupsi Sore Lebih Lama, Arah Angin Menuju Lampung

Kebijakan memperpanjang PJJ diambil setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan perkembangan pada Selasa sore.

Sejak Selasa pagi, tercatat empat kali erupsi, yakni pukul 05.35 WIB dengan durasi 15 detik, pukul 05.44 WIB selama 10 detik, pukul 07.49 WIB selama 19 detik, serta pukul 11.34 WIB selama 17 detik.

Namun, pada pukul 17.51 WIB kembali terjadi erupsi dengan durasi lebih panjang, mencapai 31 detik. Aktivitas tersebut terekam kamera pemantauan, sementara seismograf menunjukkan amplitudo sekitar 50.

Selain durasi erupsi yang lebih panjang, pemerintah juga mencermati pergerakan angin yang mengarah ke barat laut dan utara atau menuju wilayah Provinsi Lampung dengan kecepatan rendah hingga sedang.

Pergerakan angin yang dapat berubah sewaktu-waktu membuat potensi sebaran abu vulkanik kembali ke beberapa wilayah Lampung masih perlu diwaspadai.

Keselamatan Siswa Jadi Pertimbangan Utama

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Thomas Amirico menuturkan, keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam memperpanjang PJJ selama dua hari.

Menurut Thomas, empat erupsi yang terjadi sejak pagi relatif singkat. Namun, kondisi berubah setelah erupsi pada sore hari berlangsung lebih lama dan arah angin terpantau menuju Lampung.

"Ada pertimbangan bahwa erupsinya memang relatif rendah, kurang dari 20 detik, tapi tadi sore ternyata durasinya agak panjang dan arah anginnya menuju Lampung. Maka kemudian demi keselamatan anak-anak kita karena memang ada potensi akan ada abu lagi, kami putuskan tadi berdasarkan arahan pimpinan untuk memperpanjang daring atau PJJ-nya selama dua hari, dari hari Rabu sampai hari Kamis," ujar Thomas.

Thomas mengharapkan kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kualitas udara segera membaik sehingga pembelajaran tatap muka dapat kembali digelar pada Jumat, 11 September 2026.

Sekolah Diminta Bersihkan Ruang Kelas

Selama PJJ berlangsung, seluruh satuan pendidikan diminta memanfaatkan waktu untuk membersihkan lingkungan sekolah, terutama ruang kelas dan fasilitas yang sebelumnya berpotensi terpapar abu.

Pembersihan dapat dilakukan dengan melibatkan petugas kebersihan maupun berkoordinasi dengan BPBD setempat agar lingkungan sekolah benar-benar aman sebelum siswa kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.

"Selama proses dua hari ini kami juga tekankan kepada seluruh satuan pendidikan untuk terus berkoordinasi dalam rangka membersihkan dengan petugas kebersihan atau BPBD supaya nanti dipastikan pada saat proses pembelajaran anak itu betul-betul steril ruang kelas dan lingkungan sekolahnya," jelas Thomas.

Thomas menekankan, kebijakan pendidikan di Lampung akan terus disesuaikan dengan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta potensi penyebaran abu vulkanik.

Pemprov Lampung bersama instansi terkait akan terus melakukan pemantauan untuk memperoleh perkembangan terbaru sebagai dasar menentukan kebijakan pembelajaran berikutnya.

"Kita akan selalu menyesuaikan dengan kondisi. Perkembangan tentu kita akan selalu monitor. Kemudian dengan otoritas yang berwenang, kita selalu kontak supaya jam per jam kita tahu informasi, sehingga kita tentu akan menyesuaikan dengan apa yang terjadi terkait dengan perkembangan erupsi Anak Gunung Krakatau," katanya.

Apabila aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap masyarakat, pemerintah akan menyiapkan kebijakan lanjutan. Sebaliknya, jika situasi membaik, pembelajaran tatap muka akan kembali digelar.

"Artinya, kalau dia meningkat, tentu ada kebijakan lanjutan. Kalau dia tidak meningkat, tentu ya kita akan tatap muka proses belajar," tandasnya. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari