Monday, 06 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Saat Harapan Habis Dilahap Tikus

06 July 2026 17:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Saat Harapan Habis Dilahap Tikus
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

hamparan sawah di Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

Dari kejauhan, lahan itu tampak hijau seperti menjanjikan panen yang melimpah. Namun saat kaki menginjak pematang, pemandangan yang tersaji justru menyisakan kepedihan.

Batang-batang padi rebah dan patah, sementara bulir yang seharusnya menguning telah lenyap dimakan tikus. Yang tersisa hanyalah dua hingga tiga baris tanaman di tepi galengan, seolah menjadi saksi bisu perjuangan petani yang kembali berakhir dengan kekecewaan.

Musim tanam yang semestinya menjadi awal harapan berubah menjadi awal kerugian. Sebagian petani bahkan harus menanam ulang karena benih yang baru ditebar habis dilahap hama.

Biaya produksi membengkak, tenaga terkuras, sementara keyakinan untuk menikmati hasil panen perlahan memudar. Setiap musim, ancaman yang sama datang tanpa benar-benar mampu dibendung.

Seorang petani mengaku hampir kehilangan semangat setelah melihat kondisi sawahnya. Bagian tengah petakan habis dirusak tikus, menyisakan sedikit tanaman di pinggir yang masih bisa dipanen.

Baginya, kerusakan itu bukan sekadar kehilangan padi, melainkan hilangnya harapan yang telah dirawat selama berbulan-bulan.

Cerita serupa dialami Dwi Hartoyo. Sekitar sepuluh hari lalu ia memanen sawahnya dengan perasaan campur aduk.

Biasanya lahan yang digarap mampu menghasilkan sekitar 1 ton 2 kuintal gabah. Namun kali ini hasil panennya merosot tajam hingga hanya sekitar 5 kuintal. Separuh lebih hasil panen lenyap akibat serangan tikus yang semakin sulit dikendalikan.

Di balik angka-angka itu tersimpan beban hidup yang tak ringan. Hasil panen bukan sekadar komoditas yang dijual, tetapi menjadi sumber biaya sekolah anak, kebutuhan dapur, hingga modal untuk kembali mengolah sawah pada musim berikutnya.

Ketika panen gagal, bukan hanya pendapatan yang hilang, melainkan juga rasa aman keluarga petani dalam menyongsong hari esok.

Menurut Dwi, persoalan hama tikus tidak lagi bisa diatasi dengan cara-cara sederhana yang dilakukan masing-masing petani.

Ia menginginkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian maupun Dinas Pertanian hadir lebih nyata dengan program pengendalian yang terencana, penyediaan sarana pengendalian seperti belerang atau metode lain yang efektif, serta menghidupkan kembali gerakan gropyokan tikus secara serentak agar populasi hama dapat ditekan.

Ia juga mengingatkan agar pengambil kebijakan tidak hanya melihat laporan di atas meja. Menurutnya, kondisi nyata di lapangan jauh lebih memprihatinkan dibandingkan angka-angka statistik.

Petani membutuhkan kehadiran pemerintah di tengah sawah untuk melihat sendiri bagaimana jerih payah berbulan-bulan dapat lenyap hanya dalam waktu singkat akibat serangan hama.

Di tengah ambisi mewujudkan swasembada pangan, kisah para petani di Trimurjo menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan dimulai dari sawah yang mampu menghasilkan panen.

Selama petani masih dibiarkan berjuang sendiri menghadapi serangan tikus, cita-cita memperkuat lumbung pangan nasional akan terus menghadapi tantangan.

Sebab ketika padi gagal dipanen, yang hilang bukan hanya gabah, melainkan juga harapan keluarga-keluarga yang menggantungkan hidup pada setiap bulir yang tumbuh di sawah.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari