BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Tanggamus — Minggu sore (19/7/2026), yang semula berjalan biasa berubah menjadi petaka bagi Patoni (60), seorang tukang servis televisi di Lingkungan Pancawarna Atas, RT 14 RW 05, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus.
Dalam hitungan menit, rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat tinggal sekaligus tempat mencari nafkah hangus dilalap api. Di balik perjuangan memadamkan kobaran, seorang petugas pemadam kebakaran bahkan mengalami patah tulang saat menjalankan tugas.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 15.20 WIB, Minggu (19/7/2026). Asap hitam membumbung tinggi dan kobaran api dengan cepat menguasai bangunan rumah semi permanen milik Patoni. Warga sekitar pun berhamburan menuju lokasi untuk membantu sekaligus menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Beruntung, saat api mulai membesar, Patoni tidak berada di dalam rumah. Pria berusia 60 tahun itu diketahui sedang duduk di teras bersama seorang tetangganya sehingga berhasil menyelamatkan diri.
Meski demikian, ketika menyadari api mulai melahap rumahnya, Patoni sempat berusaha masuk untuk menyelamatkan beragam barang berharga. Upaya itu membuat tangannya mengalami luka lecet ringan.
Rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal. Di sana pula Patoni selama ini menjalankan pekerjaannya sebagai tukang servis televisi. Berbagai peralatan servis, komponen elektronik, hingga perlengkapan kerja yang menjadi sumber penghidupan sehari-hari ikut musnah dalam kebakaran.
Api yang terus membesar membuat petugas harus berpacu dengan waktu agar kobaran tidak merembet ke permukiman padat di sekitarnya.
Komandan Regu Pos Pemadam Kebakaran Kotaagung, Trio Larido, menuturkan empat armada diterjunkan ke lokasi, terdiri atas dua unit mobil pemadam kebakaran dan dua kendaraan bantuan milik TNI AD Yonif TP 945/PPC.
"Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.15 WIB setelah petugas melakukan pemadaman selama lebih dari satu jam," ujar Trio.
Petugas berjibaku memadamkan api agar tidak menjalar ke rumah-rumah lain. Namun besarnya kobaran membuat api sempat merembet ke rumah milik Sodian Hadi (56) yang berada tepat di sebelah lokasi kebakaran.
Beruntung, kesigapan petugas dan warga berhasil mencegah kebakaran meluas. Rumah Sodian Hadi hanya mengalami kerusakan pada bagian dapur sehingga tidak sampai menghanguskan seluruh bangunan.
Di tengah proses pemadaman, musibah kembali terjadi. Salah seorang anggota Damkar, Tasmin Hadi, terjatuh saat menjalankan tugas.
Akibat insiden tersebut, Tasmin mengalami patah tulang pada tangan kiri dan langsung dievakuasi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Ketua RT 14 RW 05 Kelurahan Kuripan, Iskandar menuturkan, berdasarkan informasi sementara, penyebab kebakaran diduga berasal dari korsleting arus listrik.
"Untuk sementara penyebabnya diduga akibat korsleting listrik. Saat kejadian pemilik rumah sedang berada di teras sehingga tidak ada korban jiwa," kata Iskandar.
Ia menjelaskan, kobaran api membesar sangat cepat sehingga warga tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan barang-barang di dalam rumah.
Selain bangunan rumah yang ludes hingga rata dengan tanah, seluruh perabotan rumah tangga dan aset milik korban ikut terbakar. beragam dokumen penting seperti sertifikat tanah, Kartu Keluarga (KK), kartu BPJS, ijazah, serta berbagai dokumen penting lainnya juga hangus dilalap api.
"Satu unit sepeda motor Honda Vario berhasil diselamatkan dari kobaran api. Sementara satu unit sepeda motor Suzuki milik korban ikut terbakar," ujar Iskandar.
Menurutnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Patoni hanya mengalami luka lecet ringan pada bagian tangan saat berusaha menyelamatkan barang-barangnya dari dalam rumah.
Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian. Dugaan korsleting listrik masih akan didalami melalui olah tempat kejadian perkara.
Trio Larido menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran, mulai dari personel Damkar, TNI AD Yonif TP 945/PPC, Polsek Kotaagung, Koramil Kotaagung, hingga masyarakat yang bahu-membahu membantu proses pemadaman.
"Kolaborasi semua pihak membuat api berhasil dikendalikan sehingga tidak meluas ke bangunan lain," ujarnya.
Musibah ini menjadi pengingat bahwa kebakaran tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga dapat memusnahkan sumber penghidupan dalam sekejap.
Bagi Patoni, rumah yang terbakar bukan sekadar tempat berlindung, melainkan juga bengkel kecil tempat ia memperbaiki televisi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dalam hitungan menit, rumah, peralatan kerja, dokumen penting, hingga kenangan yang tersimpan di dalamnya lenyap menjadi abu.
Sementara di sisi lain, pengorbanan seorang petugas Damkar yang mengalami patah tulang menjadi gambaran nyata besarnya risiko yang harus dihadapi demi menyelamatkan warga dan mencegah kebakaran meluas. (*)