Saturday, 18 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Menjaga Marwah Akademik dengan Adab, Tabayyun dan Integritas, Oleh: Koderi

18 July 2026 17:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Menjaga Marwah Akademik dengan Adab, Tabayyun dan Integritas, Oleh: Koderi
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

telah menjadi ruang yang terbuka bagi setiap orang untuk menyampaikan kritik, aspirasi, maupun keluhan terhadap pelayanan publik, termasuk perguruan tinggi.

Kritik merupakan bagian dari budaya akademik yang sehat dan harus dihargai sebagai sarana evaluasi. Namun demikian, kebebasan berpendapat juga harus disertai tanggung jawab moral, etika, serta komitmen terhadap kebenaran.

Narasi yang disampaikan kepada publik hendaknya didasarkan pada fakta, bukti, dan proses klarifikasi (tabayyun), bukan pada generalisasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan banyak pihak.

Menjaga kehormatan dalam Islam, seseorang maupun sebuah lembaga merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus dijunjung tinggi.

Kritik Boleh, Tetapi Jangan Menjadi Fitnah

Baru-baru ini beredar sebuah narasi di media sosial yang menggambarkan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Raden Intan Lampung seolah-olah menjadi tempat terjadinya penyalahgunaan jabatan secara sistematis.

Narasi tersebut menggunakan kalimat-kalimat yang bersifat umum sehingga dapat menimbulkan persepsi bahwa seluruh dosen dan pengelola program studi melakukan praktik yang sama.

Tentu apabila terdapat dugaan pelanggaran etika yang dilakukan oleh oknum tertentu, hal tersebut harus disikapi secara serius melalui mekanisme resmi yang telah disediakan oleh universitas.

Namun demikian, sangat tidak bijaksana apabila pengalaman individu kemudian digeneralisasikan menjadi wajah seluruh institusi tanpa proses verifikasi yang objektif.

Islam mengajarkan keadilan dalam memberikan penilaian. Allah Swt. berfirman:

 *يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينْ 

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, sehingga kamu menyesali perbuatanmu."

(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap informasi harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum dijadikan dasar penilaian atau pun disebarluaskan kepada masyarakat.

Budaya Program Studi PAI: ISI (Intelektualitas, Spiritualitas, dan Integritas)

Fakta yang berkembang di lingkungan Program Studi PAI menunjukkan komitmen kuat dalam membangun budaya akademik yang berlandaskan nilai ISI (Intelektualitas, Spiritualitas, dan Integritas).

Budaya tersebut diwujudkan melalui pelayanan akademik yang ramah, suasana belajar yang kondusif, penuh kebahagiaan (happy learning), dan sarat dengan nilai-nilai hikmah.

Ketua Program Studi bersama seluruh dosen terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa. Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut adalah komunikasi yang intensif dengan mahasiswa melalui berbagai media, termasuk grup WhatsApp.

Komunikasi tersebut bukan sekadar menyampaikan informasi akademik, tetapi juga menjadi ruang dialog untuk mengetahui berbagai kendala yang dihadapi mahasiswa, baik terkait administrasi, penyusunan skripsi, bimbingan akademik, maupun persoalan lain yang berpotensi menghambat masa studi.

Mahasiswa juga didorong untuk segera berkonsultasi dengan dosen pembimbing akademik maupun dosen pembimbing skripsi sehingga berbagai permasalahan dapat diselesaikan sedini mungkin. Tujuan akhirnya adalah agar mahasiswa dapat lulus tepat waktu dengan kompetensi akademik yang baik sekaligus memiliki karakter Islami.

Hubungan Dosen dan Mahasiswa dalam Perspektif Pendidikan Islam

Hubungan dosen dan mahasiswa dalam tradisi pendidikan Islam, bukan sekadar hubungan administratif, melainkan hubungan ilmiah dan ruhani antara guru dan pencari ilmu.

Karena itu, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh adab terhadap ilmu, guru, dan sesama penuntut ilmu.

Imam Burhānuddīn Az-Zarnūjī dalam kitab Ta'līm al-Muta'allim menulis:

* لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَتَعْظِيمِ الْأُسْتَاذِ، وَتَوْقِيرِهِ.

"Seseorang tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut kecuali dengan mengagungkan ilmu, memuliakan para ahlinya, menghormati guru, dan memuliakannya."

Beliau juga menyebutkan: 

وَمِنْ تَعْظِيمِ الْعِلْمِ تَعْظِيمُ الْأُسْتَاذِ، وَقِيلَ: مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ إِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ إِلَّا بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ.

"Termasuk memuliakan ilmu adalah memuliakan guru. Dikatakan: tidaklah seseorang mencapai keberhasilan kecuali karena menjaga adab dan kehormatan, dan tidaklah seseorang terjatuh kecuali karena meninggalkan adab."

Nasihat tersebut tidak berarti dosen bebas dari kritik. Sebaliknya, kritik merupakan bagian dari amar ma'ruf nahi munkar. Namun kritik harus disampaikan secara santun, berdasarkan fakta, melalui mekanisme yang benar, dan bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.

Adab Mahasiswa sebagai Jalan Keberkahan Ilmun

Para ulama memastikan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh adab penuntut ilmu.

Imam Az-Zarnūjī menjelaskan:

أَلَا تَرَى أَنَّ الْإِنْسَانَ يَصِلُ بِالْأَدَبِ إِلَى أَعْلَى الْمَرَاتِبِ، وَإِنْ كَانَ فِي الْعِلْمِ مُقَصِّرًا، وَلَا يَصِلُ بِالْعِلْمِ إِلَى ذَلِكَ إِذَا كَانَ بِلَا أَدَبٍ.

"Tidakkah engkau melihat bahwa seseorang dapat mencapai derajat yang tinggi karena adabnya meskipun ilmunya belum sempurna. Sebaliknya, seseorang tidak akan mencapai derajat tersebut hanya dengan ilmu apabila ia tidak memiliki adab."

Karena itu, mahasiswa hendaknya senantiasa menjaga etika dalam berkomunikasi, menghormati dosen, memanfaatkan ruang dialog yang telah disediakan, serta mengedepankan musyawarah apabila menghadapi persoalan akademik.

Sebaliknya, dosen juga berkewajiban menjadi teladan dalam akhlak, memberikan pelayanan yang adil, profesional, dan mengayomi seluruh mahasiswa tanpa diskriminasi.

Budaya Dialog Lebih Baik daripada Polarisasi

Perguruan tinggi adalah rumah bersama bagi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat. Setiap persoalan yang muncul semestinya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki mutu layanan, bukan memperuncing konflik melalui opini yang belum tentu mewakili kenyataan secara utuh.

Budaya dialog, musyawarah, tabayyun, dan evaluasi merupakan ciri perguruan tinggi yang sehat. Kritik yang konstruktif akan memperkuat institusi, sedangkan narasi yang berlebihan dan menggeneralisasi keadaan justru berpotensi menimbulkan fitnah, merusak reputasi lembaga, serta menghilangkan kepercayaan masyarakat.

Penutup: Menjaga Marwah Akademik sebagai Amanah Bersama

Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Raden Intan Lampung terus berkomitmen membangun budaya akademik yang berlandaskan ISI (Intelektualitas, Spiritualitas, dan Integritas).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelayanan yang ramah, pembinaan yang humanis, komunikasi yang terbuka, serta pendampingan intensif kepada mahasiswa agar mampu menyelesaikan studi tepat waktu dengan kompetensi yang unggul dan akhlak yang mulia.

Marwah institusi tidak hanya dijaga oleh pimpinan dan dosen, tetapi juga oleh mahasiswa sebagai bagian dari sivitas akademika.

Oleh karena itu, mari membangun budaya akademik yang menjunjung tinggi adab, kejujuran, tabayyun, keadilan, dan saling menghormati, sehingga ilmu yang dipelajari tidak hanya menghasilkan gelar akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat, keberkahan, dan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan peradaban.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari