Thursday, 05 November 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Memotret Kisah Aiptu Tri Putro Nugroho, Polisi Penggali Kubur di Metro Lampung

05 November 2026 15:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
Memotret Kisah Aiptu Tri Putro Nugroho, Polisi Penggali Kubur di Metro Lampung
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

penghalang untuk mengambil cangkul. Pangkat Aiptu yang melekat di pundaknya bukan alasan untuk menjaga jarak dari pekerjaan kasar.

Ketika kabar duka datang dari warga, Aiptu Tri Putro Nugroho justru kerap menjadi salah satu orang yang datang membantu. Bukan untuk melakukan penegakan hukum, melainkan ikut menggali tanah, menyiapkan liang lahat bagi warga yang meninggal dunia.

Pemandangan itu bukan cerita sesaat, apalagi aktivitas yang baru dilakukan untuk menarik perhatian. Selama bertahun-tahun, anggota Polri yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Lampung, tersebut telah terbiasa turun langsung membantu masyarakat.

Di tengah tugas menjaga keamanan dan ketertiban, Tri menemukan makna pengabdian lain, yaitu hadir ketika warga membutuhkan pertolongan, termasuk pada saat-saat paling berat dalam kehidupan mereka.

Lahir di Kota Metro pada 26 Juni 1981, Tri merupakan putra asli daerah yang telah mengabdikan diri selama kurang lebih 15 tahun di Kelurahan Banjarsari.

Ia juga tinggal di Jalan Cendana RT 20 RW 05, sehingga hubungan dengan masyarakat bukan hanya sebatas hubungan kedinasan antara polisi dan warga. Baginya, Banjarsari telah menjadi rumah kedua, tempat ia tumbuh bersama masyarakat, mengenal persoalan mereka, sekaligus merasakan suka dan dukanya.

"Pengalaman penugasan saya cukup banyak suka dukanya. Tetapi di Banjarsari ini saya memiliki keluarga, yaitu masyarakat. Maka ketika warga senang maupun sedang mengalami kesulitan, kami akan selalu mendampingi karena kami sudah seperti keluarga dengan masyarakat di sini," ungkap Tri saat diwawancarai Kupas Tuntas di Pemakaman Umum Kelurahan Banjarsari, Kamis (5/11/2026).

Kedekatan itulah yang membuatnya tidak berpikir panjang ketika mendengar ada warga meninggal dunia. Ia berusaha datang dan ikut mengambil peralatan serta bekerja bersama warga lainnya menyiapkan Liang lahat.

Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah ketika tujuannya membantu sesama. Apalagi, keluarga yang sedang berduka sering kali membutuhkan dukungan lebih dari sekadar ucapan belasungkawa.

"Kalau ada informasi atau siaran bahwa ada warga yang mengalami musibah meninggal dunia, saya selaku Bhabinkamtibmas memiliki keinginan untuk selalu membantu. aktivitas menggali kubur ini sudah saya lakukan selama bertahun-tahun bersama warga di Banjarsari," tuturnya.

Kebiasaan tersebut semakin terasa penting ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, suasana duka datang bersamaan dengan keterbatasan dan kekhawatiran masyarakat. Mencari orang yang bersedia membantu menggali kubur bukan perkara mudah.

Di tengah situasi tersebut, Tri memilih tidak tinggal diam. Ia ikut turun tangan bersama masyarakat, membantu menyiapkan pemakaman bagi warga yang meninggal dunia. Sebuah tindakan sederhana, tetapi sangat berarti bagi keluarga yang sedang kehilangan orang tercinta.

Pengabdiannya pun tidak hanya berlangsung di satu lingkungan. Kelurahan Banjarsari memiliki wilayah cukup luas dengan sekitar lima tempat pemakaman umum (TPU). Mulai dari wilayah RW 02, RW 06, RW 10 hingga RW 12 yang berada di bagian paling ujung.

Tri mengaku pernah ikut menggali makam di seluruh lokasi tersebut. Bahkan, ia sudah tidak mampu menghitung berapa banyak liang lahat yang pernah digalinya selama bertugas.

"Jumlahnya sudah tidak bisa saya hitung lagi. Kelurahan Banjarsari ini cukup luas dan aktivitas itu sudah saya lakukan bersama masyarakat di lima tempat pemakaman umum. Mulai dari makam di RW 02, RW 06, RW 10, sampai yang paling ujung di RW 12. Saya sudah pernah menggali makam di semua TPU tersebut," jelasnya.

Di balik aktivitas itu, ada persoalan sosial yang sering kali luput dari perhatian. Tidak semua keluarga yang ditinggalkan memiliki kemampuan ekonomi untuk membayar jasa penggali kubur. Dalam kondisi seperti itu, semangat gotong royong menjadi penopang.

Tri bersama warga saling membantu agar proses pemakaman dapat berlangsung tanpa menambah beban keluarga yang sedang berduka. Tidak ada yang saling mengandalkan karena setiap orang berusaha mengambil bagian sesuai kemampuannya.

"Kalau ada masyarakat yang tidak mampu dan meninggal dunia, kemudian keluarganya tidak mampu membayar penggali kubur, kami bersama masyarakat Banjarsari bergotong royong untuk menggali makamnya. Saya berada di tengah-tengah masyarakat dengan harapan bisa sedikit membantu," katanya.

Apa yang dilakukan Tri ternyata bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Ketua RT 041 RW 008 Kelurahan Banjarsari, Gatot Suwarno, menjadi salah satu warga yang menyaksikan langsung kedekatan tersebut.

Ia menilai Tri merupakan sosok Bhabinkamtibmas yang tidak menjaga jarak dengan masyarakat. Dalam berbagai aktivitas, mulai dari peristiwa kematian, gotong royong lingkungan hingga urusan pertanian, kehadirannya sudah menjadi sesuatu yang dikenal warga.

"Saya sangat mengenal Pak Bhabin. Beliau seperti keluarga bagi masyarakat di Banjarsari. Sosok Pak Tri dikenal sangat mengayomi dan dekat dengan warga kami. Beliau selalu ada di mana pun masyarakat Banjarsari membutuhkannya," kata Gatot.

Bagi Gatot, ada satu hal yang membuat pengabdian Tri terasa berbeda. Ia bukan hanya datang ketika warga mengalami musibah, tetapi bersedia bekerja langsung bersama masyarakat. Bahkan, beberapa kali Tri terlihat menggali kubur dengan masih mengenakan seragam kepolisian.

Gatot memastikan, apa yang dilakukan tersebut bukan aktivitas sesaat untuk membangun citra, melainkan kebiasaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan disaksikan sendiri oleh masyarakat.

"Pak Bhabin selalu hadir dalam kedukaan warga dan ikut langsung gotong royong menggali kubur. Bahkan, beliau kadang-kadang masih memakai seragam polisi. Ini benar dan nyata, bukan pencitraan. Apa yang dilakukan beliau sudah dijalani bertahun-tahun. Kami melihat itu sebagai keikhlasan seorang anggota polisi dalam menjalankan tugasnya," tegasnya.

Kedekatan itu pula yang membuat masyarakat menaruh harapan besar kepada Tri. Gatot memiliki harapan sosok seperti dirinya dapat menjadi teladan bagi anggota kepolisian lainnya.

Menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri perlu terus dirawat melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui slogan.

"Walaupun ada sebagian oknum polisi yang tidak bagus, Pak Tri adalah polisi yang menjadi kebanggaan kami. Saya pribadi memiliki harapan beliau bisa menjadi sosok anggota Polri panutan bagi polisi lainnya, yang selalu mengayomi dan memberikan perlindungan kepada masyarakat," ungkap Gatot.

Apresiasi juga datang dari Kapolsek Metro Utara AKP Teguh Puji Ruswanto. Ia menyebut Tri sebagai Bhabinkamtibmas yang aktif dan responsif dalam menjalankan tugas. Setiap menerima laporan masyarakat terkait situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Tri dinilai cepat mendatangi lokasi dan berupaya menyelesaikan persoalan melalui pendekatan langsung.

Teguh menuturkan lebih lanjut, Polsek Metro Utara juga terus mendorong pendekatan humanis melalui program Jumat Keliling, Subuh Keliling, Polisi Peduli Pengangguran, serta aktivitas berkumpul bersama masyarakat dengan melibatkan Bhabinkamtibmas.

"Bhabinkamtibmas Kelurahan Banjarsari, Pak Tri Putro Nugroho, cukup aktif dan responsif. Setiap mendapat laporan masyarakat terkait situasi kamtibmas, beliau selalu cepat menuju lokasi permasalahan dan beberapa kali juga menyelesaikan persoalan tersebut," jelas Teguh.

Lima belas tahun mengabdi di Banjarsari telah mempertemukan Tri dengan begitu banyak cerita kehidupan. Ia menyaksikan masyarakat tertawa dalam kebahagiaan, bekerja bersama dalam gotong royong, dan saling menguatkan ketika kehilangan datang. Ia memiliki harapan ikatan kekeluargaan tersebut tidak pernah luntur. 

Kisah Aiptu Tri Putro Nugroho menghadirkan pelajaran sederhana tentang arti pengabdian. Bahwa menjadi pelindung dan pengayom masyarakat tidak selalu harus ditunjukkan melalui tindakan besar atau pekerjaan yang terlihat gagah.

Terkadang, ketulusan justru tampak dari tangan yang bersedia memegang cangkul, dari langkah yang tidak ragu mendatangi rumah warga yang berduka, dan dari kehadiran seseorang yang tidak membiarkan sesamanya menghadapi kesulitan sendirian.

Di Banjarsari, Tri menunjukkan bahwa seragam polisi bukan sekadar simbol kewenangan, tetapi juga dapat menjadi lambang kemanusiaan.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari