Tuesday, 18 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kisah Sugeng Eks Anggota JI, Dulu Menolak NKRI Kini Berdiri Hormat kepada Merah Putih

18 August 2026 14:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Kisah Sugeng Eks Anggota JI, Dulu Menolak NKRI Kini Berdiri Hormat kepada Merah Putih
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Pagi itu, halaman depan Kantor Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dipenuhi peserta upacara. Di antara jajaran pejabat dan unsur Forkopimda, seorang pria dengan kemeja putih, celana hitam, dan peci sederhana berdiri tegak mengikuti jalannya upacara. Wajahnya tampak tenang saat menyaksikan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada Senin, 17 Agustus 2026.

Pria kelahiran 1970 itu adalah Sugeng. Sehari-hari, ia berjualan sepatu. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan perjalanan hidup yang panjang. Sugeng pernah terlibat dalam jaringan Jamaah Islamiah (JI), hingga keberadaannya sempat menjadi perhatian aparat keamanan.

Saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada Selasa (18/8/2026), Sugeng menceritakan masa lalu yang menurutnya penuh ketidaktenangan. Ia mengaku bergabung dengan JI pada 2000. Awalnya, ia mengikuti beberapa pengajian sebelum kemudian menjalani proses baiat.

"Saya awalnya ikut pengajian, kemudian dibaiat. Itu sekitar tahun 2000," ujar Sugeng.

Dalam jaringan tersebut, Sugeng mengaku mendapat peran di bidang pengembangan ekonomi. Menurutnya, saat itu penguatan ekonomi menjadi salah satu bagian yang dianggap penting untuk membangun kemandirian jaringan.

Selama sekitar satu dekade, Sugeng mengaku hidup berpindah-pindah tempat. Ia juga mengakui pada masa itu dirinya tidak menerima konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia memiliki pandangan untuk membangun negara yang berlandaskan syariat Islam.

Kondisi tersebut membuat kehidupan Sugeng tidak pernah benar-benar tenang. Ia merasa pergerakannya selalu diawasi dan mengaku selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran.

Hingga pada 2021, ketika hendak berangkat berjualan sepatu, perjalanan hidupnya berubah. Sugeng mengaku ditangkap oleh Densus 88 Antiteror Polri. Ia menjelaskan tidak melakukan perlawanan dan mengikuti perintah aparat keamanan.

Setelah menjalani proses hukum dan hukuman, Sugeng menjelaskan pandangannya terhadap NKRI berubah. Ia kini mengaku merasa lebih damai dan nyaman menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

"Setelah menjalani hukuman, saya merasa lebih damai. Sekarang saya mengakui NKRI dan merasa nyaman," katanya.

Pengalaman masa lalu itu kini justru menjadi pelajaran yang ia bagikan kepada masyarakat. Sugeng mengaku kerap memberikan edukasi agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah terjerumus ke dalam organisasi atau paham yang bertentangan dengan NKRI.

Bagi Sugeng, kehadirannya dalam upacara kemerdekaan bukan sekadar mengikuti rangkaian seremonial. Berdiri di tengah peserta upacara, memberi hormat ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan, menjadi simbol perjalanan panjangnya untuk kembali menerima NKRI.

"Sekarang saya merasa nyaman. Sudah beberapa kali setiap hari kemerdekaan saya selalu mengikuti upacara. Ini bentuk bahwa saya sudah kembali ke NKRI seutuhnya," ucapnya.

Di halaman depan Pemkab Lampung Timur pagi itu, Sugeng berdiri di antara masyarakat dan jajaran pejabat daerah. Kemeja putih, celana hitam, serta peci yang dikenakannya memang sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada kisah perubahan—dari masa lalu yang penuh kegelisahan menuju kehidupan yang ia sebut lebih damai sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari