Friday, 02 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Inflasi Lampung 3,51 Persen, Beras dan Cabai Jadi Penyumbang Utama

02 October 2026 12:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Inflasi Lampung 3,51 Persen, Beras dan Cabai Jadi Penyumbang Utama
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Tekanan inflasi di Provinsi Lampung masih dipengaruhi kenaikan harga beragam komoditas pangan, terutama cabai. Kondisi tersebut terjadi di tengah fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu pasokan hortikultura.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyampaikan berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Lampung mengalami inflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (mtm) pada September 2026.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi pada Agustus 2026 yang mencapai 0,23 persen. Namun, realisasi inflasi September sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi September dalam tiga tahun terakhir yang berada di angka 0,12 persen.

"Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat sebesar 3,51 persen atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen," ungkapnya, Jumat (2/10/2026).

Menurut Bimo, tekanan inflasi pada September 2026 terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.

beragam komoditas yang memberikan andil inflasi antara lain cabai merah sebesar 0,12 persen, beras 0,10 persen, cabai rawit 0,06 persen dan tomat 0,02 persen secara mtm.

"Kenaikan harga komoditas hortikultura tersebut tidak lepas dari gangguan pasokan akibat kondisi cuaca," jelasnya.

BI Lampung mencatat fenomena El Nino yang tengah mencapai titik puncaknya turut menekan ketersediaan air irigasi di wilayah hulu. Kondisi ini berdampak terhadap pasokan berbagai komoditas hortikultura, khususnya aneka cabai dan tomat.

Tekanan juga terjadi pada komoditas beras. Penurunan produktivitas panen gadu akibat menurunnya daya dukung lahan menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga beras.

Namun, tekanan inflasi tersebut tertahan oleh penurunan harga beragam komoditas pangan. Bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,09 persen, daging ayam ras 0,06 persen, bawang putih 0,03 persen, jagung manis 0,02 persen dan minyak goreng 0,02 persen.

BI Lampung memprakirakan inflasi daerah masih akan berada dalam sasaran 2,5±1 persen secara tahunan pada akhir 2026. Meski demikian, beragam risiko tetap perlu diwaspadai, terutama dampak El Nino terhadap produksi pangan dan hortikultura.

Selain itu, belum optimalnya panen gadu serta meningkatnya harga Gabah Kering Panen (GKP) juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku penggilingan dan harga beras.

"Persoalan pasokan juga dapat muncul akibat persaingan pembelian gabah oleh agen dari luar Lampung yang berpotensi mendorong arus keluar gabah dan mengurangi pasokan bagi penggilingan lokal, " ungkapnya.

Tekanan harga komoditas cabai tersebut mulai terasa di tingkat konsumen Kota Bandar Lampung. Harga cabai di beragam pasar disebut mulai mengalami kenaikan meski belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pangan Kota Bandar Lampung, Ni Made Ayu Kumala Dewi, menuturkan perkembangan harga pangan tersebut telah dibahas dalam rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Kalau itu kan kita sudah bahas ya di rapat TPID kemarin. Di Tim Pengendalian Inflasi Daerah memang kita sudah siaga secara nasional, itu angkanya memang sudah merangkak naik untuk komoditas cabai,” kata Ni Made.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bandar Lampung mendorong masyarakat kembali memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai.

Program tersebut sebelumnya telah didorong melalui Dinas Pertanian dengan konsep tanam cabai menggunakan media sederhana, termasuk pot.

“Paling yang bisa kita lakukan sebagai antisipasi adalah memperkuat yang di masyarakat. Ada kan yang menanam-nanam tabula pot cabai itu dari Dinas Pertanian, itu kita sosialisasikan kembali,” ujarnya.

Menurut Ni Made, pemanfaatan pekarangan tersebut setidaknya dapat membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan cabai sendiri ketika harga di pasar meningkat.

“Jadi paling tidak rumah tangga bisa bertahan dengan tanaman yang ada,” katanya.

Meski demikian, Pemkot Bandar Lampung memastikan kenaikan harga cabai saat ini masih dalam batas kewajaran.

“Kalau untuk di pasar, untuk mengendalikan harga sih sejauh ini, kalau untuk Kota Bandar Lampung memang ada kenaikan, tapi kenaikannya belum terlalu signifikan ya, artinya masih di tahap yang wajar,” jelasnya. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari