BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
JAKARTA- Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Reviu dan Validasi Peta Jalan Riset Bidang Pendidikan, Selasa 13 Mei 2026.
aktivitas yang berlangsung di Gedung D Kemdiktisaintek ini merupakan bagian dari langkah strategis pemerintah dalam menyempurnakan Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, dalam arahannya menekankan bahwa peta jalan riset nasional kini tidak lagi hanya berfokus pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Bidang sosial humaniora, terutama pendidikan, kini mendapatkan porsi yang sangat kuat.
"Pendidikan adalah aspek kunci dalam pembangunan daerah talenta nasional. Ini adalah fondasi penting bagi berbagai bidang strategis lainnya. Kita memberi ruang kuat bagi sosial humaniora, termasuk ekonomi, bisnis, hukum, hingga mitigasi bencana dan infrastruktur," ujar Fauzan.
Sementara itu, Tim Penyusun Bidang Pendidikan yang dipimpin oleh Prof. Markus Diantoro dari Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (ALPTKI), memaparkan bahwa riset pendidikan ke depan akan bertumpu pada tiga fokus utama.
Pertama, Pendidikan Dasar dan Menengah yakni memastikan lulusan siap melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Kedua, Pendidikan Tinggi dengan menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan sains, teknologi, dan kebutuhan dunia usaha serta dunia industri (DUDI).
Ketiga, Pendidikan Nonformal, dengan memperkuat akses dan kesetaraan agar lulusannya memiliki pengakuan yang sama untuk melanjutkan studi maupun berwirausaha
"Pada dasarnya yang harus kita bangun adalah manusianya. Keberhasilan teknologi dan industri sangat ditentukan oleh SDM yang siap dan mampu mendahului perubahan," tegas Prof. Markus.
Dalam forum tersebut, berbagai masukan krusial muncul dari pemangku kepentingan. Mulai dari Kemendikdasmen, pemerintah daerah, hingga pelaku industri seperti PT Pindad.
Beberapa poin yang menjadi perhatian antara lain pemerataan distribusi guru, penguatan pendidikan anak usia dini (PAUD), hingga riset yang lebih peka terhadap konteks lokal seperti pesantren dan daerah tertinggal.
Tak hanya itu, penggunaan teknologi digital dan Kecerdasan Artifisial (AI) juga menjadi perhatian serius.
Peserta FGD menekankan pentingnya kajian etika dan integritas akademik agar teknologi tidak justru berdampak negatif pada ekosistem pendidikan.
Melalui validasi ini, diharapkan Buku Peta Jalan Riset Pendidikan menjadi lebih tajam dan relevan dalam mendorong kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan industri demi mencetak talenta unggul Indonesia. (rls)