BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Lampung pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp7 triliun atau 43,4 persen dari target investasi yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp16,2 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Provinsi Lampung, Samsurijal, menyebutkan jika target investasi Provinsi Lampung tahun 2026 yang ditetapkan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar Rp16,2 triliun.
"Target yang ditentukan BKPM untuk Provinsi Lampung sekitar Rp16,2 triliun. Sampai semester pertama, realisasi investasi kita sudah mencapai sekitar Rp7 triliun atau 43,4 persen dari target tersebut," kata Samsurijal saat dimintai keterangan, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, pada triwulan I 2026 realisasi investasi Lampung mencapai Rp2,3 triliun, atau sekitar 14,53 persen dari target tahunan. Sementara pada triwulan II terjadi peningkatan yang cukup signifikan.
"Di triwulan kedua, investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sekitar Rp1,3 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sekitar Rp3,3 triliun. Jadi total realisasi triwulan kedua mencapai sekitar Rp4,6 triliun atau 28,65 persen dari target," ujarnya.
Dengan capaian tersebut, kata Samsurijal, tren investasi di Lampung menunjukkan peningkatan dibanding triwulan pertama.
Berdasarkan data realisasi investasi semester I 2026, Provinsi Lampung menempati posisi yang cukup kompetitif baik di tingkat Sumatera maupun nasional.
Untuk investasi Penanaman Modal Asing (PMA), Lampung berada di peringkat ke-6 di Pulau Sumatera dan peringkat ke-24 secara nasional. Tercatat terdapat 593 proyek PMA yang mampu menyerap 1.802 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 34 tenaga kerja asing (TKA).
"Sementara pada sektor Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Lampung berada di peringkat ke-5 di Sumatera dan peringkat ke-20 nasional dengan realisasi 6.095 proyek, yang menyerap 7.378 tenaga kerja Indonesia serta 1 tenaga kerja asing," tuturnya.
Secara keseluruhan, realisasi investasi Lampung menempatkan provinsi ini di peringkat ke-5 di Sumatera dan peringkat ke-22 secara nasional, dengan total 6.688 proyek investasi yang menyerap 9.180 tenaga kerja Indonesia dan 35 tenaga kerja asing.
Samsurijal menjelaskan, untuk investasi PMA, Kabupaten Lampung Tengah menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar mencapai sekitar Rp972 miliar, yang didominasi sektor industri makanan. Posisi tersebut diikuti Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan.
"Sedangkan untuk investasi PMDN, Kota Bandar Lampung mencatat realisasi tertinggi sekitar Rp1,9 triliun, dengan sektor terbesar berasal dari jasa lainnya senilai sekitar Rp1,2 triliun" katanya.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Selatan.
Jika digabungkan antara PMA dan PMDN, Bandar Lampung menjadi daerah dengan total realisasi investasi terbesar mencapai sekitar Rp2,17 triliun.
Kontribusi terbesar berasal dari sektor jasa lainnya sebesar sekitar Rp1,23 triliun, disusul sektor transportasi, pergudangan dan telekomunikasi sekitar Rp490 miliar, serta sektor hotel dan restoran sekitar Rp170 miliar.
Dari sisi pertumbuhan investasi secara tahunan (year on year/yoy), Kabupaten Pesisir Barat mencatat pertumbuhan realisasi investasi tertinggi mencapai 205,16 persen, didorong oleh investasi di sektor pengolahan kayu.
"Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Lampung Selatan dengan pertumbuhan sekitar 22,13 persen, disusul Kabupaten Lampung Tengah sekitar 7,12 persen. Sementara pertumbuhan investasi terendah tercatat di Kabupaten Lampung Barat," kata dia.
Menurut Samsurijal, sektor industri makanan masih menjadi penyumbang investasi terbesar di Provinsi Lampung sepanjang semester I 2026.
Setelah itu disusul sektor pertambangan, energi dan kelistrikan, serta berbagai sektor yang berkaitan dengan ketahanan pangan, seperti pertanian, perikanan, hingga peternakan.
"Industri makanan masih menjadi sektor investasi terbesar. Kemudian disusul pertambangan, energi dan kelistrikan. Setelah itu sektor-sektor yang mendukung ketahanan pangan seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan lainnya juga terus mengalami peningkatan," jelasnya.
Pemprov Lampung juga tengah menyiapkan investasi strategis untuk pengembangan ekosistem bioetanol yang diperkirakan memiliki nilai investasi sekitar Rp2,5 triliun.
Menurut Samsurijal, beberapa waktu lalu Wakil Menteri terkait telah meninjau langsung lokasi yang disiapkan untuk proyek tersebut.
Dua kawasan yang dipersiapkan berada di Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan, serta Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Lahan tersebut berasal dari pemerintah daerah maupun PTPN.
"Insyaallah dalam waktu dekat akan dilakukan groundbreaking oleh pemerintah pusat. Jika investasi ini mulai terealisasi tahun ini, nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp2,5 triliun," katanya.
Ia menuturkan lebih lanjut, di tengah kondisi ekonomi global yang masih belum sepenuhnya pulih, Jajaran Pemprov Lampung terus berupaya menjaga iklim investasi agar tetap kondusif.
Menurutnya, Orang nomor satu di Lampung Rahmat Mirzani Djausal secara konsisten mengarahkan seluruh perangkat daerah untuk memberikan kepastian layanan dan informasi kepada para calon investor.
"Pak Gubernur selalu mengarahkan agar kita mampu memberikan keyakinan kepada para investor bahwa Lampung merupakan salah satu daerah yang sangat potensial dan menjadi magnet investasi, khususnya pada tahun 2026 ini," pungkasnya.