BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Pasar Kopindo, Kota Metro, melonjak tajam. Saat ini, harga daging ayam di tingkat pengecer berada di kisaran Rp42 ribu hingga Rp44 ribu per kilogram (Kg).
Kenaikan tersebut membuat harga salah satu komoditas pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat itu berada jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Kondisi tersebut kontras dengan harga sebelumnya yang masih relatif terjangkau. Berdasarkan informasi yang dihimpun media, sebelum mengalami lonjakan, harga daging ayam di pasar domestik Kota Metro berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Artinya, konsumen kini harus membayar hingga Rp14 ribu lebih mahal untuk setiap kilogram ayam.
Lonjakan harga itu tidak terjadi dalam sehari. Pedagang menyebut kenaikan berlangsung secara bertahap selama beberapa pekan terakhir.
Namun, tren yang terus bergerak naik membuat harga di tingkat konsumen akhirnya menembus angka Rp40 ribuan, sementara daya beli masyarakat belum tentu ikut meningkat.
Kenaikan harga dari sisi konsumen ternyata berbanding terbalik dengan kondisi pedagang. Di satu sisi mereka harus mengikuti harga modal dari pemasok, tetapi di sisi lain kenaikan harga membuat sebagian pembeli mengurangi jumlah belanja.
Pedagang pun berada dalam posisi serba sulit karena menahan harga berarti menggerus keuntungan, sementara menaikkannya berisiko membuat pembeli semakin sepi.
Salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Kopindo, Sutrisno (54), mengungkapkan mahalnya harga beli modal mulai memberikan dampak nyata terhadap omzet harian.
Ia menjelaskan volume penjualan yang sebelumnya bisa mencapai puluhan kilogram per hari kini mengalami penurunan sekitar 20 persen.
"Selama harga ayam naik ini, penjualannya juga ikut turun. Biasanya satu hari bisa jual 80 kilogram, sekarang turun jadi 60, sampai 65 kilogram saja," keluh Sutrisno.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa persoalan harga ayam bukan hanya menyangkut konsumen, tetapi juga mengancam keberlangsungan pedagang kecil.
Ketika harga komoditas naik terlalu tinggi, konsumen cenderung mengurangi pembelian atau mencari alternatif protein yang lebih murah. Pada saat yang sama, pedagang tetap harus menanggung biaya operasional dan risiko barang tidak habis terjual.
Pedagang ayam potong lainnya, Fatma (51), menyebut kenaikan harga sudah dirasakan sekitar satu bulan terakhir.
Menurutnya, perubahan harga mulai terasa setelah aktivitas sekolah kembali normal pascalibur. Ia menduga meningkatnya permintaan ayam turut berkaitan dengan kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Sudah satu bulan ini naik lagi, naik lagi. Kira-kira mulai dari anak-anak masuk sekolah ini. Mungkin karena MBG mulai jalan lagi kan, makanya harga ayam jadi naik," cetus Fatma.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa meningkatnya permintaan dalam jumlah besar berpotensi memberikan tekanan terhadap pasokan apabila tidak diimbangi produksi dan distribusi yang memadai.
Meski demikian, dugaan keterkaitan dengan kembali berjalannya MBG tetap perlu dibuktikan melalui data mengenai produksi, distribusi, kebutuhan pasar, serta volume permintaan dari berbagai sektor.
Yang terjadi di Pasar Kopindo saat ini memperlihatkan bagaimana perubahan harga di tingkat hulu dapat dengan cepat dirasakan konsumen di tingkat pengecer.
Pedagang tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual dengan modal yang mereka keluarkan. Akibatnya, beban kenaikan harga pada akhirnya kembali ditanggung masyarakat.
Para pedagang memiliki harapan pemerintah tidak berhenti pada pemantauan harga, tetapi mengambil langkah konkret untuk memastikan pasokan ayam tetap tersedia dengan harga yang wajar.
Pengawasan terhadap rantai distribusi dari peternak, pengepul, distributor hingga pedagang eceran juga dinilai penting agar tidak terjadi ketimpangan harga yang semakin memperberat konsumen.
"Mudah-mudahan bulan depan sudah turun nih harganya. Karena ya itu pak, yang beli sepi. Kalau penjualan menurun, omzet juga ikut turun, pendapatan saya juga turun," tandas Fatma.
Melonjaknya harga daging ayam hingga Rp44 ribu per kilogram menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa dianggap sepele.
Pemerintah perlu segera mencari penyebab utama kenaikan, apakah berkaitan dengan pasokan, distribusi, meningkatnya permintaan, biaya produksi, atau kombinasi berbagai faktor.
Sebab jika harga terus bertahan di level tersebut, yang tertekan bukan hanya konsumen, tetapi juga pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan hariannya dari perdagangan ayam.