BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
204 titik panas (hotspot) terdeteksi di Provinsi Lampung hingga 25 Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD Lampung di tengah musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.
Data tersebut dihimpun dari Aplikasi SIPONGI Kementerian Kehutanan dan laman Monitoring Titik Panas (Hot Spot) BMKG Stasiun Klimatologi Lampung per 25 Agustus 2026.
Dari total 204 titik panas tersebut, sebanyak 6 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 187 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 11 titik tingkat kepercayaan rendah.
Kepala BPBD Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto, menyampaikan keberadaan ratusan titik panas tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu terus dipantau, terlebih saat Lampung memasuki periode puncak musim kemarau.
Menurut Rudy, pemantauan hotspot penting dilakukan sebagai bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, keberadaan titik panas tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan apakah benar terdapat kebakaran.
“Titik panas ini menjadi perhatian kita. Yang tingkat kepercayaannya tinggi harus menjadi prioritas untuk dilakukan pengecekan di lapangan, sehingga bisa diketahui kondisi sebenarnya dan segera ditindaklanjuti apabila memang terdapat kebakaran,” ujar Rudy saat dimintai keterangan, Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan data per 25 Agustus 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebar di beragam wilayah Lampung.
Di antaranya berada di Terbanggi Ilir, Kecamatan Bandar Mataram, Lampung Tengah, Kagungan Dalam, Kecamatan Tanjung Raya, Mesuji, Hanakau Jaya, Kecamatan Sungkai Utara, Lampung Utara; serta Gunung Katun, Kecamatan Baradatu, Way Kanan, masing-masing satu titik.
"Sementara dua titik lainnya berada di Gunung Sangkaran, Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan," tuturnya.
Rudy menjelaskan, confidence level atau tingkat kepercayaan merupakan skala yang menunjukkan probabilitas suatu titik panas mengindikasikan adanya kebakaran. Semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar pula potensi titik tersebut berkaitan dengan kejadian kebakaran.
“Karena itu, kita tidak hanya melihat jumlah hotspot, tetapi juga tingkat kepercayaannya. Titik dengan tingkat kepercayaan tinggi harus segera diverifikasi agar potensi karhutla dapat ditangani sedini mungkin,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan publikasi BMKG pada Maret 2026, musim kemarau di Provinsi Lampung diprediksi berlangsung secara bertahap mulai Mei hingga Juni 2026.
Adapun puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026.
Wilayah yang lebih dahulu memasuki musim kemarau meliputi Lampung bagian selatan, seperti Lampung Selatan, Bandar Lampung, Metro, dan Pesawaran.
"Kemudian Lampung bagian timur hingga utara, meliputi Lampung Timur, Mesuji, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, serta sebagian Lampung Tengah bagian timur," kata dia.
Kemarau juga terjadi di wilayah barat, khususnya sebagian Pesisir Barat dan Lampung Barat bagian utara.
Sementara itu, puncak kemarau pada September diperkirakan terjadi di beragam wilayah, di antaranya Lampung Tengah bagian tengah hingga barat, Pringsewu, Lampung Utara bagian utara, Way Kanan, Mesuji, Tulang Bawang bagian timur hingga tengah, serta Tulang Bawang Barat.
"Kondisi kemarau tersebut diperkirakan masih berlanjut. Berdasarkan peta prediksi curah hujan Provinsi Lampung, beragam wilayah, khususnya Lampung bagian utara, timur, dan tengah, masih berpotensi mengalami kondisi kemarau hingga Oktober 2026," katanya.
Rudy menyampaikan kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap potensi karhutla harus terus ditingkatkan.
“Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Pemantauan titik panas akan terus dilakukan dan setiap informasi yang masuk akan dikoordinasikan dengan pihak terkait untuk memastikan kondisi di lapangan,” jelasnya.
BPBD Lampung juga terus mendorong penguatan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, TNI-Polri, Manggala Agni, pengelola kawasan hutan, serta unsur terkait lainnya dalam melakukan pencegahan dan penanganan karhutla.
Rudy mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya pembakaran lahan secara terbuka selama musim kemarau.
“Kami menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, karena kondisi kering membuat api lebih mudah menyebar. Pencegahan jauh lebih penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas,” pungkasnya. (*)