Wednesday, 05 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Dosen UIN Jurai Siwo Lampung Ungkap Rahasia Psikologi Dibalik Demam Kaos One Piece

05 August 2026 14:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung Ungkap Rahasia Psikologi Dibalik Demam Kaos One Piece
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kontroversi yang bergulir di ruang publik ternyata tidak selalu melahirkan kerugian. Di Kota Metro, riuh perbincangan mengenai One Piece justru membuka peluang ekonomi yang tak terduga. beberapa pedagang mengaku penjualan kaus bergambar karakter anime tersebut melonjak drastis setelah simbol-simbol One Piece ramai menjadi perbincangan di media sosial dan dikaitkan dengan berbagai ekspresi kritik sosial.

Fenomena itu menarik perhatian Dosen UIN Jurai Siwo Lampung, Dr. Aguswan Khotibul Umam. Menurutnya, apa yang terjadi di Kota Metro merupakan contoh nyata bagaimana perhatian publik mampu mengubah sebuah produk biasa menjadi komoditas bernilai tinggi melalui proses psikologis yang bekerja di tengah masyarakat.

"Dalam dunia bisnis, tidak semua peluang lahir dari inovasi produk. Sebagian justru muncul dari dinamika sosial yang sedang menjadi perhatian publik. Fenomena meningkatnya penjualan kaus One Piece di Kota Metro adalah contoh nyata bagaimana perhatian masyarakat dapat menciptakan peluang ekonomi baru," kata Aguswan saat diminta tanggapannya oleh media, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan pengakuan salah seorang pedagang, lonjakan penjualan terjadi setelah segala sesuatu yang berkaitan dengan One Piece menjadi viral di berbagai platform media sosial. Besarnya perhatian masyarakat terhadap isu tersebut membuat produk yang sebelumnya biasa saja berubah menjadi barang yang banyak dicari.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, atau promosi. Perhatian kolektif masyarakat, identitas kelompok, serta makna psikologis yang melekat pada suatu simbol mampu mengubah barang biasa menjadi komoditas yang sangat diminati," ujarnya.

Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) itu menilai, dari perspektif psikologi terapan, simbol budaya populer memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar fungsi visual. Simbol mampu menjadi identitas sosial yang menghubungkan seseorang dengan kelompok tertentu sekaligus menjadi sarana mengekspresikan sikap dan pandangan.

"Dalam perspektif psikologi terapan, kaus One Piece bukan lagi sekadar pakaian. Ia telah berubah menjadi media komunikasi sosial yang menyampaikan pesan mengenai minat, solidaritas, bahkan cara seseorang memandang isu-isu yang sedang berkembang," jelasnya.

Aguswan mengutip Social Identity Theory yang dikembangkan Haslam, Jetten, Cruwys, Dingle, dan Haslam (2018). Menurut teori tersebut, manusia secara alami membangun identitas melalui kelompok sosial yang diikutinya. Karena itu, atribut seperti pakaian, logo, maupun simbol tertentu sering digunakan untuk menunjukkan rasa memiliki terhadap komunitas yang dianggap penting.

"Ketika banyak orang mengenakan simbol yang sama, terbentuklah shared identity atau rasa memiliki bersama yang memperkuat keterikatan psikologis antarpenggunanya. Itulah sebabnya sebuah kaus dapat memiliki makna yang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai pakaian," bebernya.

Ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan Identity-Based Motivation Theory yang dikembangkan Oyserman (2017). Menurutnya, seseorang akan terdorong melakukan suatu tindakan ketika tindakan itu dianggap sesuai dengan identitas dirinya.

"Keputusan membeli kaus One Piece tidak selalu didorong oleh kebutuhan berpakaian. Banyak orang membelinya karena ingin menunjukkan identitas dirinya di ruang publik. Nilai psikologis sebuah produk sering kali lebih besar daripada nilai materialnya," ungkap Aguswan.

Ia melanjutkan, ketika sebuah simbol dipersepsikan mewakili kebebasan, kreativitas, atau keberanian menyampaikan aspirasi, maka daya tarik produk tersebut akan meningkat secara signifikan. Kondisi inilah yang membuat permintaan pasar dapat berubah sangat cepat mengikuti arus perhatian publik.

Dalam pandangan Islam, lanjut Aguswan, kreativitas membaca peluang usaha merupakan sesuatu yang dibenarkan selama tetap berorientasi pada kemaslahatan. Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Qashash ayat 77 yang mengajarkan agar manusia mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kehidupan dunia serta senantiasa berbuat baik kepada sesama.

"Islam mendorong umatnya untuk kreatif menangkap peluang ekonomi. Namun, seluruh aktivitas bisnis harus tetap dilandasi kejujuran, tanggung jawab moral, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tegasnya.

Lebih lanjut, Aguswan menjelaskan bahwa media sosial telah mengubah cara masyarakat mengambil keputusan. Viralitas tidak lagi sekadar membentuk opini, tetapi juga memengaruhi perilaku ekonomi. Mengacu pada pemikiran Jonah Berger dalam The Catalyst (2020), emosi kolektif, identitas kelompok, dan pengaruh sosial menjadi faktor utama yang membuat sebuah simbol semakin diminati publik.

"Semakin tinggi intensitas pembicaraan terhadap suatu isu, semakin besar pula kemungkinan masyarakat memperhatikan simbol yang berkaitan dengan isu tersebut. Sementara efek social proof membuat orang menganggap suatu produk bernilai karena banyak orang membicarakan atau menggunakannya," jelasnya.

Aguswan menilai fenomena yang terjadi di Kota Metro memperlihatkan bagaimana ruang digital mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata. Pedagang yang cepat membaca perubahan psikologi pasar memiliki peluang besar mengubah momentum menjadi keuntungan melalui kemampuan yang dalam psikologi kewirausahaan dikenal sebagai opportunity recognition.

"Namun, keberhasilan bisnis yang lahir dari momentum kontroversi tetap harus dibarengi tanggung jawab sosial. Aktivitas ekonomi jangan sampai memperkeruh polarisasi, tetapi harus tetap menghormati keberagaman pandangan masyarakat," terangnya.

Ia menutup pandangannya dengan menekankan bahwa fenomena One Piece di Kota Metro menjadi bukti bahwa perilaku konsumen era digital semakin digerakkan oleh makna, identitas, dan emosi dibanding sekadar kebutuhan fungsional.

"Manusia membeli bukan hanya karena membutuhkan suatu barang, tetapi juga karena ingin memperoleh makna, menunjukkan identitas, dan menjadi bagian dari kelompok yang dianggap penting. Di sinilah pelajaran besarnya, keberhasilan bisnis hari ini tidak hanya ditentukan oleh modal finansial, tetapi juga oleh kemampuan memahami psikologi manusia," tandasnya. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari