Tuesday, 01 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

‎Di Balik Karung dan Sepeda Butut, Bocah SMP Memulung hingga Malam di Pemalang

01 September 2026 20:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
‎Di Balik Karung dan Sepeda Butut, Bocah SMP Memulung hingga Malam di Pemalang
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

‎Malam mulai turun di Kota Pemalang. Lampu-lampu swalayan menerangi halaman yang masih ramai oleh kendaraan dan aktivitas warga.

‎Di tengah keramaian itu, dua anak laki-laki dengan sepeda tua terlihat menyusuri area parkir. Bukan untuk bermain atau sekadar menghabiskan waktu.

Mereka membawa karung plastik dan sibuk mencari sesuatu di antara tumpukan sampah.

‎Satu per satu botol plastik, kaleng, dan kardus bekas dipungut. Barang-barang itu dimasukkan ke dalam karung yang mereka bawa.

‎Usia mereka diperkirakan baru 13 dan 14 tahun.

‎Di usia ketika sebagian besar anak menghabiskan malam untuk belajar, bermain, atau beristirahat, kedua bocah itu justru masih berada di jalan untuk mencari barang yang bisa dijual.

‎Pemandangan tersebut terlihat di depan sebuah swalayan di Jalan Pemuda, kawasan Kota Pemalang, Selasa malam (1/9/2026), sekitar pukul 19.00 WIB.

‎Salah seorang anak mengaku bernama Bima Mukti Aji, warga Desa Saradan, Kecamatan Pemalang.

‎Dengan sepeda tuanya, Bima mengaku hampir setiap hari menjalani aktivitas tersebut setelah pulang sekolah.

‎"Saya setiap hari setelah pulang sekolah berangkat dari rumah naik sepeda untuk mencari barang bekas," kata Bima.

‎Ia mengaku masih duduk di bangku SMP Negeri. Setelah jam sekolah berakhir, ia pulang ke rumah, kemudian kembali keluar untuk mencari botol plastik, kardus, dan barang bekas lainnya.

‎Hasil yang diperoleh tidak seberapa

‎Dalam sehari, Bima mengaku rata-rata mendapatkan sekitar 4 hingga 5 kilogram barang bekas. Barang tersebut tidak langsung dijual, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu.

‎"Kalau per kilogram sekitar Rp2.000. Biasanya saya kumpulkan dulu, baru dijual sebulan sekali," ujarnya.

‎Dalam sebulan, uang yang diterimanya dari hasil memulung disebut sekitar Rp150 ribu.

‎Jumlah itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Bima, uang tersebut memiliki arti tersendiri.

Bima mengaku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

‎Di sampingnya, seorang anak lain yang usianya tidak jauh berbeda juga melakukan aktivitas serupa. Menurut Bima, anak tersebut bahkan masih bersekolah di tempat yang sama dengannya.

‎"Saya sering lihat anak itu satu sekolah dengan saya, kelas 7H kalau tidak salah," tuturnya.

‎Setelah bel sekolah berhenti berbunyi, ada ironi yang terlihat dari aktivitas kedua bocah tersebut.

‎Pada siang hari, mereka adalah anak sekolah. Mereka mengenakan seragam, duduk di ruang kelas dan mengikuti pelajaran seperti anak-anak seusianya.

‎Namun ketika bel sekolah berhenti berbunyi dan sebagian besar anak mulai kembali ke rumah, kehidupan mereka belum benar-benar selesai.

‎Sepeda tua menjadi alat transportasi.

‎Karung plastik menjadi perlengkapan kerja.

‎Tempat sampah menjadi lokasi mencari penghasilan.

‎Malam hari menjadi waktu untuk memulung.

Seorang warga yang berada di lokasi dan meminta identitasnya tidak disebutkan menyebutkan, dirinya beberapa kali melihat anak-anak tersebut mencari barang bekas hingga malam.

‎Menurutnya, kondisi itu patut menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan dan masa depan anak-anak tersebut.

‎"Anak-anak seusia itu seharusnya belajar dan beristirahat. Kalau mereka harus mencari barang bekas sampai malam, tentu perlu ada perhatian dari pemerintah," ujarnya.

‎Antara Generasi Emas dan Realitas di Jalanan

‎Pemandangan tersebut menjadi potret lain dari persoalan sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat.

‎Di satu sisi, pemerintah terus mendorong pembangunan daerah sumber daya manusia dan mempersiapkan Generasi Emas 2045.

‎Namun di sisi lain, masih ada anak usia sekolah yang harus membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan bekerja di luar jam sekolah.

‎Pemerhati sosial kemasyarakatan Kabupaten Pemalang, Andi Rustono, menilai kondisi tersebut tidak boleh hanya dilihat sebagai aktivitas memulung biasa.

‎Menurutnya, pemerintah perlu mencari tahu alasan seorang anak usia sekolah harus bekerja hingga malam.

‎"Ini harus menjadi perhatian bersama. Anak usia sekolah semestinya mendapatkan kesempatan untuk belajar, beristirahat, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman. Kalau mereka harus memulung untuk membantu ekonomi keluarga, pemerintah perlu mengetahui persoalan yang mendasarinya," ujar Andi.

‎Ia menyebutkan, pemerintah daerah perlu melakukan pendataan dan pendekatan secara langsung terhadap keluarga anak-anak tersebut.

‎Bukan untuk menyalahkan orang tua, tetapi untuk mengetahui apakah terdapat persoalan ekonomi, akses pendidikan, maupun faktor sosial lainnya yang menyebabkan anak harus ikut mencari penghasilan.

‎"Jangan sampai persoalan ekonomi keluarga akhirnya membuat anak kehilangan haknya untuk tumbuh dan belajar secara layak," katanya.

‎Jangan Biarkan Mereka Tersisih

‎Apa yang dilakukan Bima dan temannya mungkin hanya menghasilkan beberapa kilogram botol dan kardus setiap hari.

‎Namun di balik karung yang mereka bawa, terdapat cerita tentang kehidupan keluarga dan perjuangan anak-anak yang belum seharusnya memikirkan bagaimana mendapatkan uang.

‎Mereka masih terlalu muda untuk memahami kerasnya persaingan ekonomi.

‎Mereka masih berada pada usia untuk belajar, bermain, bermimpi dan mempersiapkan masa depan.

‎Karena itu, persoalan ini tidak cukup berhenti pada rasa iba.

‎Diperlukan langkah nyata untuk memastikan mereka tetap bersekolah, mendapatkan perlindungan, sekaligus membantu keluarga mereka keluar dari persoalan ekonomi yang mungkin menjadi latar belakang aktivitas tersebut.

‎Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Dinas Sosial maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang mengenai kondisi kedua anak tersebut.

‎Harapannya sederhana: ketika malam kembali datang, karung plastik dan sepeda tua itu tidak lagi menjadi teman mereka mencari nafkah.

‎Melainkan, mereka sudah berada di rumah membuka buku pelajaran, menyelesaikan pekerjaan rumah, kemudian tidur dengan tenang.

‎Sebab masa depan seorang anak seharusnya tidak ditentukan oleh berapa banyak botol plastik yang mampu dikumpulkannya dalam sehari.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari