BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
inovasi Low cost smart Irrigation milik Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung membuktikan hasil nyata di lapangan.
Panen Raya Bawang Merah di Pekon Margomulyo, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, pada Senin (2/11/2026), menjadi momentum keberhasilan kolaborasi Bapeltan Lampung dengan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Lampung dalam mendorong pertanian modern, efisien, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Hadir Wakil Bupati Pringsewu, sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan ketahanan pangan dan pengembangan inovasi pertanian.
Panen raya ini bukan hanya tentang hasil produksi, melainkan juga tentang bagaimana teknologi pertanian yang terjangkau mampu menjadi solusi bagi petani menghadapi tantangan budidaya, mulai dari efisiensi biaya, pengelolaan air, hingga risiko cuaca ekstrem. Melalui pendekatan pertanian modern smart farming yang mengusung tema hemat biaya dan mudah diterapkan, petani diperkenalkan pada sistem budidaya yang lebih terukur, efisien, dan berpotensi direplikasi di berbagai wilayah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa transformasi pertanian harus berorientasi pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. Modernisasi melalui penerapan teknologi menjadi langkah penting untuk memperkuat produksi pangan nasional sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.
“Pertanian harus semakin modern, produktif, dan efisien. Teknologi yang diterapkan harus memberikan manfaat nyata bagi petani, meningkatkan hasil produksi, menekan biaya usaha tani, serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Kita ingin petani semakin maju, mandiri, dan sejahtera”.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dr. Idha Widhi Arsanti, menekankan bahwa keberhasilan transformasi pertanian sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia dalam mengadopsi teknologi.
“Transformasi pertanian tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga SDM yang mampu mengimplementasikannya. Bapeltan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan, pendampingan, dan demonstrasi inovasi yang aplikatif. Smart farming low cost menjadi pendekatan penting agar teknologi pertanian semakin mudah diadopsi, efisien, dan berkelanjutan”.
Kehadiran Wakil Bupati Pringsewu dalam aktivitas panen raya menunjukkan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan pertanian berbasis inovasi dan teknologi.
“Pengembangan demplot bawang merah ini menjadi contoh bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bapeltan Lampung, dan petani dapat menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kami menginginkan teknologi smart farming ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi sehingga produktivitas pertanian meningkat, kesejahteraan petani semakin baik, serta ketahanan pangan Kabupaten Pringsewu semakin kuat”.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyampaikan bahwa pengembangan demplot bawang merah merupakan bagian dari sinergi strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan pengendalian inflasi daerah.
“Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan mitra strategis dalam menjaga ketahanan pangan serta stabilitas harga. Pengembangan demplot bawang merah berbasis smart farming menjadi salah satu langkah konkret untuk mendorong produktivitas, memperkuat pasokan komoditas strategis, dan mendukung pengendalian inflasi daerah”.
Kepala Bapeltan Lampung, Adi Destriadi Sutisna menyampaikan bahwa panen raya merupakan bukti penting bahwa inovasi pertanian perlu dibangun melalui sinergi teknologi, penguatan kapasitas petani, dan pendampingan berkelanjutan.
“Smart farming low cost kami dorong sebagai pendekatan pertanian modern yang lebih terjangkau dan aplikatif bagi petani. Melalui demplot ini, petani dapat melihat, mempelajari, dan mempraktikkan langsung teknologi budidaya bawang merah. Harapannya, inovasi ini tidak berhenti di demplot, tetapi berkembang menjadi praktik budidaya yang direplikasi oleh kelompok tani secara mandiri,” jelasnya.
Menurutnya, Bapeltan Lampung tidak hanya berperan sebagai lembaga pelatihan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mendiseminasikan inovasi dan memperkuat kapasitas petani melalui demonstrasi teknologi yang nyata di lapangan.
Manfaat inovasi juga dirasakan langsung oleh petani. Widodo, salah satu anggota Kelompok Tani Bahagia, mengungkapkan bahwa penerapan smart farming memberikan pengalaman baru dalam pengelolaan budidaya bawang merah, khususnya menghadapi kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.
“Dengan adanya pendampingan dan teknologi smart farming, kami lebih terbantu dalam mengelola tanaman, terutama pengaturan kebutuhan air dan pemeliharaan tanaman. Cuaca sekarang semakin sulit diprediksi. Kami menginginkan teknologi ini dapat terus dikembangkan agar petani lebih siap menghadapi cuaca ekstrem dan hasil panen tetap optimal,” ungkap Widodo.
Testimoni tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pertanian bukan sekadar penerapan perangkat teknologi, tetapi juga memberikan harapan bagi petani untuk meningkatkan kemampuan adaptasi dan mengurangi risiko usaha tani.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap potensi El Niño dan cuaca ekstrem, sektor pertanian dituntut semakin adaptif. Perubahan pola hujan, risiko kekeringan, serta ketidakpastian ketersediaan air menjadi tantangan yang dapat memengaruhi produktivitas komoditas hortikultura.
Demplot bawang merah binaan Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung bersama dukungan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Lampung berhasil mencatat produktivitas mencapai 10 ton per hektare. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi smart farming low cost mampu menjadi solusi pengembangan pertanian modern yang efisien, adaptif, dan berdaya saing.
Bawang merah merupakan komoditas yang membutuhkan pengelolaan air secara tepat. Melalui penerapan sistem fertigasi dan sprinkler, petani didorong untuk mengoptimalkan pemberian air sesuai kebutuhan tanaman. Sementara penggunaan light trap dan pendampingan teknis mendukung pengelolaan budidaya yang lebih efisien.
Inovasi Low Cost Smart Irrigation System Bapeltan Lampung menjadi salah satu pendekatan adaptasi yang relevan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan memperkuat kesiapan petani menghadapi risiko iklim. Namun, keberhasilan adaptasi tetap memerlukan pengelolaan budidaya yang tepat, pemantauan kondisi lingkungan, dan pendampingan berkelanjutan.
Demplot bawang merah di Pringsewu dikembangkan melalui penerapan berbagai inovasi, antara lain penggunaan varietas Bima Brebes, mekanisasi pengolahan tanah menggunakan rotari, pemanfaatan kompos diperkaya biochar dan Trichoderma, sistem fertigasi, sprinkler, serta light trap.
Pendampingan teknis dilakukan oleh tim Bapeltan Lampung bersama penyuluh pertanian untuk memastikan teknologi diterapkan secara optimal dan dapat dipahami oleh petani.
Panen raya ini menjadi bukti bahwa inovasi pertanian yang dikembangkan melalui kolaborasi dapat menghadirkan manfaat nyata sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi petani. Demplot tidak hanya berfungsi sebagai lokasi produksi, tetapi juga sebagai ruang demonstrasi, transfer pengetahuan, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia pertanian.
Melalui dukungan Bank Indonesia, pemerintah daerah, Bapeltan Lampung, penyuluh, dan kelompok tani, smart farming low cost diharapkan dapat menjadi model pengembangan pertanian modern yang terjangkau, adaptif, dan berkelanjutan.
Dari demplot menuju panen, dari inovasi menuju replikasi. Bapeltan Lampung terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan dan diseminasi inovasi pertanian, menghadirkan teknologi yang tidak hanya modern, tetapi juga terjangkau dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
Sinergi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, dan mendorong terwujudnya petani Lampung yang semakin maju, mandiri, serta berdaya saing. (*)