BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Tanggamus — Beberapa langkah Aurora Bunga di Lapangan Merdeka Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Senin (17/8/2026), menjadi salah satu adegan yang menyita perhatian dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Siswi SMA Negeri 1 Kotaagung itu berjalan membawa baki berisi Bendera Merah Putih menuju mimbar Bupati Tanggamus. Langkahnya terukur. Sikap tubuhnya tegap. Konsentrasinya terjaga ketika menaiki tangga menuju mimbar.
Setelah menerima bendera, Aurora kembali menuruni tangga dengan langkah teratur sebelum menyerahkannya kepada petugas pengibar.
Sesaat kemudian, Sang Merah Putih dikibarkan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Lapangan Merdeka Kotaagung seketika dipenuhi suasana khidmat. Di tempat itu, seorang pelajar tidak hanya menjalankan tugas seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari simbol pewarisan nilai perjuangan dari generasi yang telah merebut kemerdekaan kepada generasi yang kini mengisinya.
Aurora merupakan bagian dari 33 pelajar yang dipercaya menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Tanggamus 2026. Mereka berasal dari 15 sekolah di Kabupaten Tanggamus.
Kepercayaan kepada para pelajar tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa peringatan kemerdekaan tidak semata-mata berbicara tentang masa lalu. Ada generasi yang sedang dipersiapkan untuk meneruskan masa depan.
Ketika Perjuangan Berubah Bentuk
Bupati Tanggamus Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., yang bertindak sebagai inspektur upacara, mengingatkan masyarakat bahwa kemerdekaan tidak boleh diperingati sebatas seremoni tahunan.
Menurut dia, perjuangan para pahlawan harus diterjemahkan dalam bentuk pengabdian dan kerja nyata pada masa kini.
“Jangan hanya seremonial untuk mengingat ini, tapi kita akan meneladani betapa perjuangan mereka sampai kita merdeka. Keteladanan itu yang harus diwariskan kepada kita, dan kita harus meneruskan perjuangan mereka,” ujar Saleh Asnawi.
Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan tenaga, pikiran, bahkan nyawa, kata dia, generasi saat ini memiliki bentuk perjuangan yang berbeda.
“Kalau dulu mereka berjuang dengan tenaga, pikiran dan nyawa, kita sekarang berjuang bagaimana cara untuk membawa kemaslahatan untuk masyarakat kita ke depan,” katanya.
Pesan itu seolah menemukan gambarnya melalui sosok Aurora.
Di satu sisi, para pahlawan telah menyerahkan masa depan bangsa kepada generasi setelahnya. Di sisi lain, generasi muda seperti Aurora kini memikul tanggung jawab untuk memastikan kemerdekaan tersebut memiliki arti dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, baki yang dibawa Aurora bukan sekadar perlengkapan upacara
Di dalamnya terdapat simbol negara yang menjadi bagian dari perjalanan panjang perjuangan bangsa.
Dari Paskibraka ke Generasi Masa Depan
Keterlibatan pelajar dalam Paskibraka juga bukan sekadar persoalan kemampuan baris-berbaris.
Proses latihan menuntut kedisiplinan, ketahanan fisik, kekompakan, kepatuhan terhadap komando, serta kemampuan menjaga tanggung jawab ketika berada di hadapan publik.
Nilai-nilai tersebut menjadi penting ketika para pelajar itu kelak memasuki kehidupan masyarakat.
Sebab, kemerdekaan yang diperjuangkan generasi terdahulu pada akhirnya harus diisi dengan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, pelayanan publik, infrastruktur dan pengembangan ekonomi, serta kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks Kabupaten Tanggamus, pesan tersebut menjadi semakin relevan karena upacara HUT ke-81 RI tidak hanya menghadirkan Paskibraka.
Suasana peringatan juga dimeriahkan penampilan drumband anak-anak taman kanak-kanak serta drumband SMA Negeri 1 Kotaagung.
Hadir dalam upacara itu Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto, Ketua TP PKK Kabupaten Tanggamus beserta jajaran, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah, para asisten dan kepala organisasi perangkat daerah, ASN, serta masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Tanggamus juga memberikan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada aparatur sipil negara sebagai penghargaan atas pengabdian, kesetiaan, kejujuran, kecakapan, dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas.
Penghargaan tersebut mengacu pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117/TK/Tahun 2025 tanggal 11 November 2025.
Sebanyak 65 ASN Tanggamus menerima penghargaan tersebut. Rinciannya, dua orang untuk masa pengabdian 30 tahun, lima orang untuk masa pengabdian 20 tahun, dan 58 orang untuk masa pengabdian 10 tahun.
Jika Paskibraka menggambarkan generasi yang sedang dipersiapkan untuk masa depan, Satyalancana Karya Satya menggambarkan bentuk pengabdian generasi yang telah bekerja dalam pelayanan pemerintahan.
Keduanya bertemu pada satu pesan: kemerdekaan membutuhkan pengabdian.
Mengingat Mereka yang Gugur
Makna tersebut kemudian berlanjut setelah upacara di Lapangan Merdeka Kotaagung.
Rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dilanjutkan dengan Upacara Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Kecamatan Kotaagung Timur.
Upacara dipimpin Komandan Kodim 0424 Tanggamus.
Setelah upacara, dilakukan tabur bunga di makam para pahlawan.
Prosesi itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati masyarakat hari ini tidak lahir secara cuma-cuma. Ada pengorbanan manusia yang bahkan tidak sempat menikmati hasil perjuangannya.
Dari makam para pahlawan, pesan kemerdekaan kemudian dibawa ke Rumah Dinas Bupati melalui ramah tamah bersama Legiun Veteran Republik Indonesia Kabupaten Tanggamus.
Di hadapan para veteran, Saleh kembali menyampaikan penghormatan kepada mereka yang telah mengorbankan jiwa, raga, dan harta untuk bangsa dan negara.
“Pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada para veteran dan pejuang yang telah berjuang mengorbankan harta, jiwa dan raga dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Menurut Saleh, perjuangan tidak pernah benar-benar selesai.
“Karena hidup itu memang harus berjuang. Tidak gampang mencapai sesuatu tanpa perjuangan. Tidak ada yang mudah, semuanya mesti berjuang untuk meraih tujuan,” katanya.
Sembilan Veteran dan Keluarga Menerima Tali Asih
Dalam ramah tamah tersebut, Pemerintah Kabupaten Tanggamus menyerahkan bantuan tali asih kepada sembilan penerima.
Mereka terdiri dari tiga veteran, empat janda veteran, satu keluarga veteran yang telah almarhum, dan satu koordinator veteran.
Saleh menyebutkan, bantuan tersebut tidak semata-mata harus dilihat berdasarkan nilainya.
“Jangan menilai dari besarannya, tetapi lihatlah dari keikhlasan kami kepada para veteran. Semoga tali silaturahmi antara pemerintah dengan para veteran dapat terus terjalin dengan baik,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan memiliki dua arah.
Masyarakat diajak menengok ke belakang untuk mengingat pengorbanan para pejuang, tetapi pada saat yang sama diminta menatap ke depan untuk memastikan perjuangan itu tidak berhenti pada generasi sekarang.
Bukan Lagi Mengangkat Senjata
Di Lapangan Merdeka Kotaagung, Aurora mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menyelesaikan tugasnya.
Namun, makna dari langkah tersebut jauh lebih panjang.
Ia membawa Merah Putih dalam sebuah upacara yang mempertemukan tiga generasi: para veteran yang pernah merasakan langsung perjuangan bangsa, aparatur dan masyarakat yang kini mengisi kemerdekaan, serta para pelajar yang akan menentukan wajah Indonesia pada masa mendatang.
Karena itu, ketika Bupati Saleh mengajak masyarakat menjadi “pahlawan untuk masa depan”, maknanya tidak lagi tentang mengangkat senjata.
Pahlawan masa kini dapat berarti orang yang bekerja dengan jujur, mendidik dengan sungguh-sungguh, melayani masyarakat, menjaga persatuan, membuka kesempatan ekonomi, merawat lingkungan, ataupun menyiapkan generasi yang lebih baik.
“Kita sekarang juga harus menjadi pahlawan untuk masa depan anak keturunan kita,” tegas Saleh.
Pesan itu kembali mengarah kepada generasi muda.
Kepada Aurora dan kawan-kawannya, tugas membawa dan mengibarkan Merah Putih mungkin selesai ketika upacara berakhir.
Tetapi tugas mengisi kemerdekaan justru baru dimulai.
Merah Putih telah sampai di tiang tertinggi.
Kini, tantangannya adalah memastikan nilai yang dikandungnya—kemerdekaan, persatuan, keadilan dan kemakmuran—juga ikut tumbuh dalam kehidupan masyarakat Tanggamus. (*)