BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Peluncuran Satelit Lampung-1 menjadi langkah baru Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dalam memanfaatkan teknologi antariksa untuk mendukung infrastruktur dan pengembangan berbasis data. Teknologi ini nantinya diharapkan mampu membantu berbagai sektor strategis, mulai dari ketahanan pangan, kelautan, perikanan, hingga infrastruktur dan pengembangan infrastruktur.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menuturkan keberadaan Satelit Lampung-1 merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta perusahaan teknologi antariksa Star.Vision.
Menurutnya, penamaan Lampung-1 menjadi bentuk apresiasi terhadap komitmen Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dalam mendorong pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk kepentingan infrastruktur dan pengembangan daerah.
"Melalui kerja sama dengan BRIN terwujudlah proses mengorbitnya Satelit Lampung-1. Nama Lampung-1 merupakan bentuk penghargaan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Lampung atas iktikad baik dan kesamaan visi dalam memanfaatkan teknologi untuk infrastruktur dan pengembangan," kata Marindo, Selasa (4/8/2026).
Namun, Marindo memastikan Satelit Lampung-1 bukan merupakan aset milik Pemerintah Daerah Provinsi Lampung. Satelit tersebut merupakan milik Star.Vision, sementara Pemprov Lampung bersama BRIN berperan sebagai mitra dalam pemanfaatan data yang dihasilkan.
"Satelit itu bukan milik Pemerintah Daerah Provinsi Lampung. Satelit tersebut merupakan milik Star.Vision. Pemerintah Daerah Provinsi Lampung bersama BRIN melakukan kolaborasi dalam pemanfaatan teknologi dan data yang dihasilkan satelit tersebut," jelasnya.
Ia menjelaskan, hal utama dari kerja sama tersebut bukan terletak pada kepemilikan satelit, melainkan pemanfaatan data citra satelit yang dikombinasikan dengan teknologi AI untuk mendukung perencanaan infrastruktur dan pengembangan.
Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk memantau berbagai sektor, seperti kondisi lahan pertanian, sistem irigasi, potensi perikanan, wilayah kelautan, infrastruktur dan pengembangan jalan, hingga perencanaan infrastruktur dan pengembangan gedung.
"Teknologi ini dimanfaatkan untuk memastikan kondisi pertanian, irigasi, perikanan, kelautan, infrastruktur dan pengembangan jalan, hingga infrastruktur dan pengembangan gedung. Jadi yang dimanfaatkan adalah data dan teknologinya," ujarnya.
Marindo menyebut pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan memberikan dampak langsung bagi pemerintah daerah, petani, nelayan, serta masyarakat secara luas. Dengan data yang lebih akurat, pemerintah dapat mengambil kebijakan secara lebih tepat sasaran.
Menurutnya, program tersebut sejalan dengan visi Orang nomor satu di Lampung dalam mendorong transformasi digital pemerintahan. Ke depan, kebijakan infrastruktur dan pengembangan akan semakin diarahkan menggunakan data yang telah dianalisis melalui teknologi AI.
"Hari ini sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa pemerintah daerah harus menggunakan digitalisasi. Kita ingin memastikan kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan data yang akurat," katanya.
Meski demikian, ia memastikan pemanfaatan data satelit tidak dapat dilakukan secara bebas. Terdapat aturan dan pengawasan dari pemerintah pusat melalui BRIN terkait jenis data yang dapat digunakan.
"Pemerintah Daerah Provinsi Lampung tidak bisa memanfaatkan data sesuka hati. Ada kewenangan pemerintah pusat dan BRIN yang memberikan arahan mengenai data apa saja yang dapat dimanfaatkan," jelasnya.
Marindo menerangkan, kerja sama utama berlangsung antara BRIN dan Star.Vision, sedangkan Pemprov Lampung dilibatkan untuk memanfaatkan hasil teknologi tersebut bagi kepentingan masyarakat.
"Kerja samanya bukan hanya dengan Pemprov Lampung, tetapi antara BRIN dan Star.Vision. Pemerintah Daerah Provinsi Lampung digandeng oleh BRIN untuk memanfaatkan hasil kerja sama tersebut," katanya.
Lebih lanjut, ia menuturkan salah satu fokus utama pemanfaatan teknologi satelit tersebut adalah memperkuat ketahanan pangan yang menjadi bagian dari program infrastruktur dan pengembangan daerah dalam RPJMD Provinsi Lampung.
Dengan teknologi hypersatellite yang mampu menangkap data lebih detail dibandingkan citra satelit biasa, pemerintah dapat melakukan pemetaan wilayah berdasarkan karakteristik tertentu.
"Teknologi ini bukan hanya menghasilkan citra biasa, tetapi sudah hypersatellite sehingga mampu membaca hingga partikel-partikel yang sangat kecil. Data ini nantinya dapat digunakan untuk menentukan klaster wilayah yang cocok untuk kopi, lada, hortikultura, perkebunan, maupun komoditas pertanian lainnya," ungkapnya.
Selain sektor pertanian, teknologi tersebut juga dapat membantu pengelolaan sumber daya laut. Data satelit dapat digunakan untuk membaca kondisi perairan hingga memperkirakan wilayah yang memiliki potensi ikan.
"Bahkan untuk melihat kondisi laut maupun potensi keberadaan ikan dapat dilakukan melalui teknologi ini. Semua diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.
Marindo memastikan program pemanfaatan teknologi satelit tersebut tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Program tersebut berjalan melalui kolaborasi dan jejaring kerja sama antara pemerintah daerah, BRIN, dan Star.Vision.
"Program ini tidak menggunakan APBD. Ini merupakan inisiasi Pak Gubernur dan Bu Wakil Gubernur yang kemudian dikolaborasikan dengan BRIN," katanya.
Ia memiliki harapan kehadiran Satelit Lampung-1 menjadi momentum bagi Lampung untuk semakin maju dalam pemanfaatan teknologi antariksa, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Lampung. Kita memiliki harapan lompatan teknologi ini benar-benar memberikan manfaat, berdampak nyata bagi masyarakat, dan menjadi berkah bagi Lampung maupun Indonesia," pungkasnya. (*)