BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Universitas Bandar Lampung (UBL) terus membuktikan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berdaya saing global.
Teranyar, salah satu dosen terbaiknya, Aditya Mahatidanar Hidayat, Ph.D., sukses merampungkan program bergengsi 2026 ASEAN Program for Teacher Capacity Enhancement di Xuzhou, Tiongkok, 29 Mei–7 Juni 2026.
Dalam forum yang digelar Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology tersebut, Aditya mendalami kurikulum bertajuk "Smart Construction and Operation & Maintenance of Transportation Engineering Infrastructure".
Selama sepuluh hari, ia ditempa langsung oleh para pakar dan praktisi infrastruktur kelas dunia.
Fokusnya bukan sekadar teori, melainkan aplikasi nyata teknologi digital seperti Building Information Modeling (BIM), Digital Twin, hingga pemanfaatan drone untuk pemetaan presisi dan manajemen transportasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Rektor UBL, Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman, MBA, memberikan apresiasi tinggi atas keterlibatan dosennya di panggung internasional.
Baginya, ini adalah investasi strategis bagi kemajuan UBL.
"UBL konsisten mendorong dosen untuk menjemput ilmu di forum global. Ini adalah cara kita memastikan mutu akademik dan riset di kampus ini tidak tertinggal. Ilmu yang didapat harus segera ditransformasikan ke dalam kelas, agar mahasiswa kita memiliki wawasan yang relevan dengan kebutuhan infrastruktur dan pengembangan masa depan," ujar Prof. Yusuf, pada Rabu, 10 Juni 2026.
Senada dengan hal tersebut, Aditya Mahatidanar Hidayat mengungkapkan antusiasmenya membawa "oleh-oleh" teknologi dari Tiongkok.
Menurutnya, sektor infrastruktur dunia tengah bergeser ke arah integrasi digital yang masif.
"Dunia sudah bergerak ke arah Smart Construction. Mahasiswa teknik kita tidak cukup hanya khatam teori di buku.
Mereka harus paham bagaimana Digital Twin dan Intelligent Transportation Systems bekerja di lapangan," ungkap Aditya.
Selain perkuliahan intensif, Aditya juga berkesempatan meninjau langsung operasional Xuzhou Metro Group.
Kunjungan teknis ini memberinya gambaran nyata bagaimana teknologi digital memangkas biaya pemeliharaan infrastruktur transportasi rel menjadi lebih efisien.
Meski tantangan infrastruktur di Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan Tiongkok, Aditya optimistis prinsip inovasi dan efisiensi yang ia pelajari sangat relevan untuk diadaptasi.
"Prinsip efisiensi dan keberlanjutan adalah kunci. Saya yakin, dengan adaptasi yang tepat, kita bisa mendukung infrastruktur dan pengembangan infrastruktur transportasi di Indonesia yang lebih cerdas dan berkelanjutan," pungkasnya.
Keikutsertaan ini tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga membuka lebar pintu kolaborasi riset dan pertukaran akademik antara UBL dengan institusi pendidikan serta industri mancanegara, yang semakin mengukuhkan posisi UBL sebagai perguruan tinggi unggul dan inovatif.