BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bandar Lampung, Andika Wibawa, menanggapi mulai meluasnya krisis air bersih yang dialami warga Kota Bandar Lampung akibat musim kemarau. Menurutnya, bantuan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memang diperlukan sebagai langkah darurat, namun pemerintah daerah harus segera menyiapkan solusi jangka panjang.
Berdasarkan data BPBD Kota Bandar Lampung, sebanyak 1.963 warga terdampak kekeringan dan telah menerima bantuan air bersih di beberapa wilayah, di antaranya Kelurahan Pidada, Way Laga, dan Sukamaju.
Andika mengapresiasi langkah cepat BPBD dalam menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat. Namun, ia menilai kapasitas BPBD memiliki keterbatasan sehingga tidak bisa terus-menerus menjadi solusi utama setiap kali terjadi kekeringan.
"Untuk membantu masyarakat memang perlu adanya bantuan dari BPBD. Tetapi BPBD juga tidak bisa terus-menerus membantu daerah tersebut. Artinya, kita harus mencari solusi terbaik," kata Andika, Rabu (29/7/2026).
Ia mengusulkan agar Pemerintah Kota Bandar Lampung mulai membangun sumur bor di wilayah-wilayah yang rutin mengalami kekeringan. Menurutnya, satu sumur bor dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat dalam satu kelurahan ketika pasokan air bersih terganggu.
"Kalau memungkinkan, Pemkot bisa membantu pembuatan sumur bor. Misalnya, satu sumur bor untuk satu kelurahan yang memang sering terdampak kekeringan. Ketika musim kemarau datang, sumur tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga," ujarnya.
Andika mengakui infrastruktur dan pengembangan sumur bor membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, terutama jika pengeboran dilakukan hingga mencapai sumber air tanah yang lebih dalam. Karena itu, ia meminta pemerintah memprioritaskan wilayah yang paling rentan mengalami krisis air bersih.
"Biaya membuat sumur bor memang cukup besar, apalagi jika pengeborannya dalam. Karena itu, minimal daerah yang paling terdampak bisa menjadi prioritas bantuan pemerintah," jelasnya.
Menurut Andika, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki hanya bersifat sementara. Dengan jumlah armada yang terbatas, BPBD harus membagi pelayanan ke berbagai wilayah yang juga membutuhkan bantuan.
"Hari ini BPBD membantu satu lokasi, besok harus berpindah ke tempat lain. Sarana yang dimiliki juga terbatas, termasuk mobil tangki air. Karena itu, harus ada solusi yang lebih permanen," katanya.
Ia juga menyoroti kondisi wilayah pesisir Bandar Lampung yang selama ini memang rentan mengalami kesulitan air bersih. Selain jumlah air yang terbatas, kualitas air tanah di kawasan tersebut juga dinilai kurang baik.
"Sebagian besar warga masih menggunakan sumur gali yang tidak terlalu dalam. Saat musim kemarau, airnya lebih cepat mengering. Kalau menggunakan sumur bor yang lebih dalam hingga mencapai sumber air tanah, kemungkinan air tidak cepat habis," ungkapnya.
Selain itu, Andika meminta pemerintah mengevaluasi fasilitas pendukung seperti pompa air apabila ditemukan tidak berfungsi secara optimal.
"Kalau pompa air tidak berjalan, tentu harus dicari penyebabnya. Jangan sampai sudah ada fasilitas, tetapi tidak bisa dimanfaatkan masyarakat," ujarnya.
Terkait aspirasi masyarakat, Andika mengaku belum menerima banyak keluhan mengenai kekeringan dalam acara reses sebelumnya karena jadwal reses belum diselenggarakan. Meski demikian, ia meyakini persoalan krisis air bersih akan menjadi salah satu aspirasi yang banyak disampaikan warga selama musim kemarau berlangsung.
"Wilayah yang mengalami kekurangan air masih berada di daerah pemilihan kami. Saya yakin kalau musim kemarau terus berlanjut, persoalan ini akan semakin banyak dikeluhkan masyarakat," katanya.
Karena itu, Andika memiliki harapan Pemerintah Kota Bandar Lampung terus mengantisipasi potensi meluasnya kekeringan dan segera menyiapkan kebijakan yang lebih berkelanjutan.
"Kita dorong Pemkot untuk mencari solusi terbaik, baik melalui infrastruktur dan pengembangan sumur bor maupun langkah lainnya. Saya yakin Pemkot sudah melakukan antisipasi, tetapi upaya tersebut harus terus diperkuat karena kekeringan berpotensi meluas selama musim kemarau," pungkasnya. (*)