Thursday, 02 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Air Mata Syukur Parsilah, Dua Anaknya Akhirnya Bisa Sekolah Gratis

02 July 2026 14:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Air Mata Syukur Parsilah, Dua Anaknya Akhirnya Bisa Sekolah Gratis
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

(55) dan Sudarto (65), warga Jalan Mayor Salim Batu Bara, Gang Cempaka Kuning, Kelurahan Kupang Teba, Kecamatan Teluk Betung Utara, Bandar Lampung.

Di tengah keterbatasan ekonomi yang selama ini mereka jalani, secercah harapan akhirnya datang setelah dua dari enam anak mereka diterima sebagai peserta didik Sekolah Rakyat.

Parsilah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang urut panggilan, sementara sang suami mencari nafkah sebagai buruh bangunan, tak kuasa menahan rasa syukur saat mengetahui anak-anaknya mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.

Untuk menambah penghasilan keluarga, mereka juga membuka warung kecil di rumah yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Meski begitu, penghasilan yang diperoleh belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan keluarga yang memiliki enam orang anak.

Dua anak yang diterima di Sekolah Rakyat adalah Dewi Nurhafizah yang akan menempuh pendidikan jenjang SMA dan Edi Kurniawan yang akan melanjutkan pendidikan di jenjang SMP.

Dengan mata berkaca-kaca, Parsilah mengaku tak pernah membayangkan kedua anaknya bisa memperoleh kesempatan tersebut. Baginya, Sekolah Rakyat menjadi jawaban atas kegelisahan selama ini tentang masa depan pendidikan anak-anaknya.

"Alhamdulillah saya dapat dukungan dari Pemerintah Kota Bandar Lampung sama Bu Lurah. Sekarang anak saya bisa masuk Sekolah Rakyat. Saya sangat, bukan senang lagi, pokoknya luar biasa. Saya senang sekali karena mungkin cita-cita anak saya bisa mulai berjalan dari sini," ujarnya saat dimintai keterangan, Kamis (2/7/2026).

Sebelumnya, salah satu anaknya sempat direncanakan melanjutkan pendidikan di sebuah yayasan di Pulau Jawa. Namun, kondisi ekonomi membuat keluarga itu harus berpikir berkali-kali.

Selain biaya perjalanan yang tidak sedikit, Parsilah mengaku berat jika harus berpisah jauh dengan anaknya. Sebagai seorang ibu, ia ingin tetap bisa melihat perkembangan anak-anaknya meski mereka tinggal di asrama.

"Kalau saya kangen, di Sekolah Rakyat ini saya masih bisa datang menjenguk. Dulu anak saya mau dibawa ke yayasan di Jawa. Saya merasa berat karena ongkosnya juga berat. Sekarang alhamdulillah lebih dekat," tuturnya.

Di balik senyum bahagianya, tersimpan perjuangan panjang keluarga sederhana tersebut.

Dengan penghasilan yang tidak menentu dari pekerjaan sebagai buruh bangunan, tukang urut panggilan, serta warung kecil yang mereka kelola di rumah, memenuhi kebutuhan enam anak bukanlah perkara mudah.

Karena itu, diterimanya dua anak mereka di Sekolah Rakyat menjadi harapan baru agar pendidikan tidak lagi menjadi beban yang sulit dijangkau.

Parsilah mengharapkan kedua anaknya dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh dan tumbuh menjadi pribadi yang sukses sehingga mampu mengubah masa depan keluarga.

"Harapan saya, semoga di Sekolah Rakyat ini anak saya mendapat bimbingan yang baik, menjadi anak yang berhasil, dan bisa menuju kesuksesan mereka," katanya.

Bagi keluarga Parsilah dan Sudarto, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat menimba ilmu. Program tersebut menjadi titik balik yang membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap memiliki kesempatan meraih cita-cita.

Di rumah sederhana yang juga menjadi tempat mereka membuka warung kecil, kini tumbuh harapan baru bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan keluarga mereka menjadi lebih baik.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari