BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
BANDAR LAMPUNG- Universitas Bandar Lampung (UBL) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi berbasis inovasi dan kewirausahaan (Entrepreneurial University).
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui kolaborasi internasional bersama PUM Netherlands.
UBL menghadirkan pakar pendampingan bisnis asal Belanda, Prof. Frans Stel, dalam program PUM Expert Visit 2026 yang berlangsung selama dua pekan.
Program ini berfokus pada penguatan ekosistem inovasi dan kewirausahaan, peningkatan kapasitas dosen sebagai business coach, serta pengembangan sistem pendampingan mahasiswa untuk mengubah ide kreatif menjadi peluang bisnis nyata.
Rektor UBL, Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, M.B.A., memastikan perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan yang siap bekerja.
Kampus harus mampu melahirkan generasi inovatif, mandiri, dan memiliki jiwa kewirausahaan.
"Menjadi Entrepreneurial University bukan sekadar mengajarkan mahasiswa membuka usaha. Kami ingin membangun pola pikir kewirausahaan agar mahasiswa mampu melihat persoalan sebagai peluang, menghadirkan inovasi, dan menciptakan nilai bagi masyarakat," ujar Yusuf, Senin (2/11/2026).
Menurut Yusuf, penguatan kewirausahaan harus didukung pembelajaran berbasis praktik dan pendampingan berkelanjutan.
Melalui Pusat Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (PPIK), sambung Yusuf, UBL terus mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa sekaligus meningkatkan kapasitas dosen sebagai pendamping bisnis
"Target kami bukan semata-mata melahirkan pengusaha, tetapi membentuk lulusan dengan entrepreneurial mindset, kemampuan memecahkan masalah, dan daya adaptasi tinggi. Jiwa kewirausahaan harus dimiliki setiap lulusan, apa pun profesi yang mereka pilih," tegasnya.
Sementara itu, Prof. Frans Stel menekankan keberhasilan entrepreneurship tidak hanya ditentukan oleh ide bisnis semata, tetapi juga kemampuan mengeksekusi peluang serta motivasi kuat dari dalam diri individu.
Melalui pendekatan Business Readiness Assessment dan coaching toolbox, Frans memperkenalkan metode mengidentifikasi kesiapan usaha, mengevaluasi hambatan, serta merancang langkah pengembangan bisnis.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan peran dosen dari sekadar pemberi materi menjadi business coach yang membantu mahasiswa menemukan solusi, mengembangkan kemandirian, dan mengasah kemampuan pengambilan keputusan.
Kolaborasi internasional ini sejalan dengan pengembangan Talent and Career Ecosystem UBL yang mengintegrasikan pengenalan minat bakat, pembelajaran, pengalaman praktis, hingga kesiapan karier mahasiswa.
Melalui kerja sama ini, UBL optimistis dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.