Tuesday, 28 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Tanggamus Bakal Olah Kakao dan Kopi Sendiri Agar Petani Dapat Nilai Tambah

28 July 2026 16:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Tanggamus Bakal Olah Kakao dan Kopi Sendiri Agar Petani Dapat Nilai Tambah
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

pembangunan daerah sektor perkebunan dari sekadar penghasil bahan baku menuju pusat industri pengolahan.

Momentum peringatan World Chocolate Day 2026 dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Tanggamus untuk menggarisbawahi komitmen membangun hilirisasi kakao, kopi dan kelapa, agar nilai tambah hasil perkebunan tidak lagi dinikmati daerah lain, melainkan kembali kepada petani dan perekonomian lokal.

Komitmen menjadikan Kabupaten Tanggamus sebagai pusat pengolahan komoditas perkebunan kembali ditegaskan Bupati Tanggamus Mohammad Saleh Asnawi saat membuka peringatan World Chocolate Day 2026 bertema Strengthening Sustainable Cocoa Partnerships through Agroforestry and Market Collaboration di Pekon Sidomulyo, Kecamatan Semaka, Selasa (28/7/2026).

Di hadapan perwakilan Kementerian Perindustrian RI, Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, Bank Indonesia, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Rikolto Indonesia, Preferred by Nature, perusahaan pengolahan kakao nasional dan internasional, akademisi, serta ratusan petani kakao dari Kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, dan Lampung Timur, Saleh menggarisbawahi bahwa masa depan perkebunan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi, tetapi juga harus dibarengi pembangunan daerah industri pengolahan di daerah.

Menurutnya, selama ini komoditas unggulan Tanggamus, terutama kopi robusta, lebih banyak dikirim ke luar daerah untuk diolah sehingga nilai tambah ekonomi justru dinikmati wilayah lain.

"Kita memiliki harapan ke depan seluruh hasil pertanian yang ada di Tanggamus hilirisasinya ada di sini. Kalau nanti ada pabrik di sini, proses di sini, pemerintah akan mendapatkan pajak untuk pembangunan daerah, masyarakat memperoleh manfaat CSR, harga lebih terjamin, dan lapangan kerja juga akan terbuka," ujar Saleh Asnawi.

Ia mencontohkan kopi robusta Tanggamus yang telah dikenal luas di pasar nasional, namun proses pengolahannya masih banyak dilakukan di luar daerah.

"Selama ini kopi robusta dari Tanggamus dibawa ke daerah lain untuk diproduksi. Yang menikmati nilai tambah bukan Tanggamus. Karena itu kami ingin hilirisasi dilakukan di daerah sendiri," katanya.

Komitmen tersebut juga diarahkan pada komoditas kakao dan kelapa. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Tanggamus berencana mendorong tumbuhnya industri pengolahan cokelat skala rumah tangga melalui pemberdayaan kelompok PKK agar mampu menghasilkan produk olahan bernilai ekonomi tinggi.

"Kakao ke depan akan kita hilirisasi di sini. Saya ingin nantinya menjadi peluang usaha bagi ibu-ibu PKK dengan mesin sederhana sehingga mampu menghasilkan produk cokelat yang memiliki nilai jual," ujarnya.

Tak hanya mengandalkan potensi lokal, pemerintah daerah juga membuka peluang investasi untuk mempercepat pembangunan daerah industri hilir perkebunan.

Salah satu peluang yang tengah dijajaki ialah kerja sama dengan investor dari Korea Selatan guna mendukung pengembangan industri pengolahan kakao, kopi, dan kelapa.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tanggamus, luas perkebunan kakao rakyat di daerah itu mencapai 13.640 hektare dengan produksi sekitar 8.672 ton per tahun. 

Komoditas tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sedikitnya 17.634 kepala keluarga petani sehingga dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi.

Sementara Direktur Program Kakao Asia Tenggara Rikolto, Nuzul Qodri, menyampaikan bahwa Program Climate Change Adaptation Modality (CCAM) yang berjalan sejak 2023 telah memperkuat kapasitas petani kakao di Kecamatan Semaka, Wonosobo, dan Pematangsawa.

Sebanyak 950 petani, kata dia, telah mendapatkan pelatihan budidaya kakao yang baik, penerapan sistem agroforestri, hingga penguatan kemampuan agribisnis. 

Program tersebut juga menyalurkan ribuan bibit tanaman pendukung untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan kebun kakao menghadapi perubahan iklim.

"Sebanyak 950 petani telah mengikuti pelatihan budidaya kakao yang baik dan agroforestri. Kami juga memberikan pelatihan agribisnis serta distribusi ribuan bibit tanaman pendukung sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan ketahanan kebun kakao," katanya.

Sementara itu, perwakilan Preferred by Nature, Kiswara Santi, menilai penerapan agroforestri menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi kakao di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, petani, lembaga pendamping, dan industri diperlukan agar kakao Lampung mampu kembali bersaing di pasar global.

"Kami ingin mempertemukan seluruh pemangku kepentingan agar kakao Lampung kembali menjadi primadona dunia. Tanpa agroforestri, perubahan iklim dikhawatirkan akan memengaruhi kualitas bahkan keberlanjutan tanaman kakao di masa depan," ujarnya.

Selain seremoni pembukaan, rangkaian World Chocolate Day 2026 diisi dengan penanaman pohon bersama, kunjungan ke demplot agroforestri, Farmer Business Showcase, serta agenda business matching antara kelompok tani dan pelaku industri. 

aktivitas tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok kakao berkelanjutan sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani Tanggamus.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari