BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Lampung Timur – Aroma kayu bakar dan sambal kacang terasa menyatu dengan suasana pedesaan di sebuah warung sederhana di Desa Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur.
Warung itu dikenal dengan nama Pecel Mbah Mondreng. Bangunannya sederhana, nyaris tanpa sentuhan modern. Dindingnya masih menggunakan papan kayu, sementara lantainya berupa tanah. Namun, kesederhanaan itulah yang justru menjadi daya tarik bagi para pembeli.
Minggu (9/8/2026) siang, aktivitas di warung tersebut terlihat cukup ramai. sebagian pembeli datang silih berganti. Ada yang memilih menyantap pecel langsung di tempat, sementara lainnya membawa pulang pesanan.
Di dalam warung berukuran sekitar 4 x 5 meter itu, suasana dapur tradisional masih begitu terasa. Dua tungku besar berbahan tanah liat berada di bagian kanan ruangan. Api menyala dari tumpukan kayu bakar yang digunakan untuk memasak.
Seorang perempuan tampak sibuk menggoreng tempe. Di sisi lain, Suryani, perempuan paruh baya yang kini menjalankan usaha tersebut, dengan cekatan melayani pembeli dan meracik nasi pecel sesuai pesanan.
Tidak ada meja makan seperti warung pada umumnya. Hanya terdapat dua bangku kayu panjang berukuran sekitar 1,8 meter yang biasa digunakan pembeli untuk duduk sembari menunggu pesanan.
Menu yang disajikan pun sederhana. Sepiring nasi pecel berisi nasi, sambal kacang, serta aneka sayuran rebus seperti daun bayam, kacang panjang, kangkung dan kates. Semua disajikan dengan cara yang masih mempertahankan tradisi.
Yang menarik, nasi pecel tersebut disajikan di atas piring yang dialasi daun jati. Cara ini membuat aroma dan nuansa makanan terasa berbeda, sekaligus membawa pembeli seolah kembali ke suasana dapur tradisional zaman dahulu.
Proses memasaknya juga masih menggunakan kayu bakar. Bagi Suryani, cara tersebut sudah menjadi bagian dari tradisi yang dipertahankan sejak usaha Pecel Mbah Mondreng berdiri sekitar 30 tahun lalu.
"Sudah sekitar 30 tahun warung ini berjalan. Sekarang sudah generasi kedua yang meneruskan," kata Suryani saat ditemui di warungnya, Minggu (9/8/2026).
Suryani menyebutkan, meski menu yang ditawarkan sederhana, ia tetap berusaha mempertahankan cita rasa pecel yang sudah dikenal pelanggan sejak dahulu. Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau, yakni sekitar Rp10 ribu per porsi.
Kesederhanaan warung justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati pecel. Pengunjung tidak hanya datang untuk menyantap makanan, tetapi juga merasakan suasana dapur desa yang masih alami.
Salah seorang pembeli, Wati, mengaku cukup sering membeli nasi pecel di warung tersebut. Menurutnya, rasa pecel yang khas dan harga yang murah menjadi alasan dirinya kembali datang.
"Nasi pecelnya khas banget dan harganya murah. Tempatnya juga masih natural seperti dapur orang desa. Adem dan nyaman," ujar Wati.
Di tengah banyaknya tempat makan yang menawarkan konsep modern, Pecel Mbah Mondreng memilih bertahan dengan kesederhanaannya. Kayu bakar, dinding papan, lantai tanah, daun jati dan racikan sambal kacang menjadi bagian dari cerita panjang warung yang telah melewati dua generasi itu.
Bagi pelanggan, sepiring nasi pecel seharga Rp10 ribu di warung tersebut bukan sekadar makanan. Ada rasa, aroma kayu bakar, suasana pedesaan, serta jejak tradisi yang masih dipertahankan selama puluhan tahun. (*)