BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
(Pemprov) Lampung melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) tengah mematangkan konsep pelaksanaan Festival Krakatau 2026.
Salah satu rangkaian utama yang disiapkan adalah Festival Tapis yang akan melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk menampilkan kekayaan budaya khas Lampung.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Tony Ferdinansyah, menyampaikan Festival Tapis direncanakan menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Festival Krakatau yang digelar pada 25 hingga 30 Agustus 2026.
Pelaksanaan agenda tersebut akan menggandeng event organizer (EO) sebagai pelaksana teknis, sementara konsep acara masih terus disempurnakan.
"Kita menggunakan EO. Jadi memang dalam rangkaian Festival Krakatau 2026 nanti, salah satu acaranya adalah Festival Tapis atau festival budaya," kata Tony saat dimintai keterangan, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, Festival Tapis akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelajar SMA, perguruan tinggi, hingga berbagai komunitas dan stakeholder lainnya.
Mereka akan menampilkan busana berbahan kain tapis dengan kreasi masing-masing, namun tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan ciri khas tapis sebagai identitas masyarakat Lampung.
"Kita ingin mengundang berbagai elemen stakeholder untuk berpartisipasi, termasuk dari dunia pendidikan, SMA, perguruan tinggi, dan lainnya. Mereka akan menampilkan busana yang mengangkat budaya Lampung melalui tapis dengan kreasi masing-masing, tetapi tidak menghilangkan nilai dan karakter tapis sebagai budaya khas Lampung," ujarnya.
Tony menyampaikan konsep keseluruhan Festival Tapis masih terus disusun sehingga detail pelaksanaannya akan diumumkan setelah proses perencanaan selesai.
Selain Festival Tapis, Pemprov Lampung juga sebelumnya merencanakan salah satu rangkaian Festival Krakatau berupa tabur bunga di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Namun, rencana tersebut kini sedang dikaji ulang menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang saat ini berstatus Level III (Siaga).
"Awalnya memang kita merencanakan salah satu agenda berupa tabur bunga di Gunung Krakatau. Tetapi sekarang kita melihat kondisi Gunung Krakatau sedang mengalami peningkatan aktivitas dan sudah berada pada Level III, sehingga kita masih melihat perkembangan situasinya. Apakah agenda itu bisa dilanjutkan atau konsepnya akan diubah, masih terus kita kaji," jelasnya.
Tony menggarisbawahi keselamatan peserta dan masyarakat menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan Festival Krakatau.
Ia mengingatkan bahwa Gunung Anak Krakatau bukan merupakan kawasan wisata, melainkan kawasan cagar alam yang memiliki pembatasan aktivitas sesuai rekomendasi otoritas kebencanaan dan vulkanologi.
"Gunung Krakatau bukan tempat wisata. Itu merupakan kawasan cagar alam yang memang tidak bisa didatangi dengan mudah. Saat ini masyarakat juga diimbau untuk tidak mendekati kawasan tersebut. Radius yang direkomendasikan sekarang sekitar 5 kilometer," katanya.
Menurut Tony, imbauan tersebut telah disampaikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kepada masyarakat dan para pelaku wisata agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sekitar kawasan berbahaya.
"Kami bersama BPBD terus mengikuti perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau. Terkait pelaksanaan Festival Krakatau, nanti akan diputuskan apakah salah satu rangkaian acara di sana tetap dapat diselenggarakan atau harus dialihkan ke konsep yang lain," pungkasnya.