Tuesday, 28 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

SPPG Sekincau 1 Bantah Limbah Cemari Kebun Warga, Klaim Sistem IPAL Berfungsi Normal

28 July 2026 19:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
SPPG Sekincau 1 Bantah Limbah Cemari Kebun Warga, Klaim Sistem IPAL Berfungsi Normal
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

(SPPG) Sekincau 1 akhirnya memberikan klarifikasi terkait keluhan warga yang menyebut adanya rembesan limbah diduga berasal dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga memasuki kebun kopi di bagian belakang bangunan. Pengelola membantah tudingan tersebut dan menggarisbawahi sistem pengelolaan limbah di lokasi telah berfungsi sesuai prosedur.

Kepala SPPG Sekincau 1, M. Samsi, menuturkan pihaknya langsung melakukan pengecekan setelah menerima informasi mengenai dugaan rembesan limbah yang dikeluhkan warga. Berdasarkan hasil pemeriksaan internal, ia memastikan tidak ditemukan kebocoran pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

"Setelah langsung kami cek dan tindak lanjuti, ternyata memang ada yang sengaja menjebol tembok kami. Posisi tersebut bukan IPAL, karena pembuangan akhir limbah cair kami berada di depan dan sudah aman setelah melewati IPAL serta filter biotabung. Keluaran limbah sudah jernih dan tidak berbau," ujar Samsi kepada wartawan.

Menurutnya, lokasi yang disebut sebagai sumber rembesan bukan merupakan titik pembuangan limbah dari dapur MBG. Ia menjelaskan seluruh limbah cair yang dihasilkan dari operasional SPPG terlebih dahulu diproses melalui instalasi pengolahan air limbah sebelum dialirkan ke saluran pembuangan akhir.

Samsi menggarisbawahi pengelolaan limbah menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam operasional dapur MBG. Karena itu, pihaknya memastikan sistem IPAL dan filter yang digunakan tetap berfungsi agar limbah yang keluar memenuhi ketentuan serta tidak mencemari lingkungan sekitar.

Meski demikian, pernyataan pihak pengelola berbeda dengan pengakuan warga yang memiliki kebun di belakang bangunan SPPG. Jana, pemilik kebun yang mengaku terdampak, menuturkan rembesan air tersebut bukan terjadi baru-baru ini, melainkan sudah berlangsung cukup lama.

Menurut Jana, ketika musim hujan tiba, air yang diduga berasal dari kawasan SPPG kerap merembes hingga ke lahannya dan menimbulkan bau yang cukup menyengat.

"Sebenarnya kejadian itu sudah lama, bukan baru dan itu kalau waktu musim hujan bau benar, Pak," ungkapnya.

Ia juga mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak yang dikenalnya sebagai Haji No. Namun, hingga kini ia mengaku belum melihat adanya tindak lanjut atas keluhan tersebut. Jana juga membantah tudingan bahwa ada pihak yang sengaja menjebol tembok di sekitar lokasi. "Tidak ada kerjaan jebol tembok," katanya singkat.

Sementara itu, Koordinator Wilayah MBG Lampung Barat, Septa, mengaku belum menerima laporan resmi terkait dugaan rembesan limbah tersebut. Kendati demikian, ia memastikan informasi yang beredar akan segera ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pihak pengelola SPPG maupun yayasan yang menjadi mitra pelaksana.

"Terima kasih sebelumnya atas informasinya. Untuk saat ini saya belum mendapatkan informasi terkait hal ini. Segera akan saya tindak lanjuti ke pihak SPPG dan PIC Mitra/Yayasan SPPG tersebut," ujarnya.

Perbedaan keterangan antara pengelola SPPG dengan warga membuat persoalan tersebut dinilai perlu dibuktikan melalui pemeriksaan lapangan oleh instansi yang berwenang. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan sumber rembesan air, kondisi sistem IPAL, serta ada atau tidaknya dampak terhadap lingkungan.

Menanggapi persoalan tersebut, aktivis sekaligus Founder Gerakan Masyarakat Independent (GERMASI), Ridwan Maulana, mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional SPPG Sekincau 1 agar polemik tersebut dapat diselesaikan secara objektif.

Ridwan menggarisbawahi, apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya ketidaksesuaian dalam pengelolaan limbah, maka perbaikan harus segera dilakukan. Menurutnya, evaluasi bukan untuk mencari kesalahan pihak tertentu, melainkan memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai standar operasional, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

"Kami meminta Badan Gizi Nasional segera turun ke lapangan untuk mengevaluasi SPPG Sekincau 1 secara menyeluruh. Apabila ditemukan ketidaksesuaian dalam sistem pengelolaan limbah, maka harus segera ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis nasional yang harus dijaga kualitas pelaksanaannya, termasuk kepatuhan terhadap aspek lingkungan," tegas Ridwan. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari