Friday, 04 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Rentetan Dugaan Keracunan MBG Beberapa Hari Terakhir, Ribuan Siswa dan Guru Terdampak

04 September 2026 15:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Rentetan Dugaan Keracunan MBG Beberapa Hari Terakhir, Ribuan Siswa dan Guru Terdampak
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah rentetan dugaan keracunan makanan terjadi di beragam daerah dalam beberapa hari terakhir. Kasus dilaporkan mulai muncul sejak awal pekan dan melibatkan ratusan siswa, santri hingga guru.

Peristiwa tersebut terjadi di beragam wilayah, mulai dari Sidoarjo, Agam, Nganjuk, Jombang, Rembang hingga Tana Toraja. Di beberapa daerah lain, seperti Sleman dan Bener Meriah, gangguan kesehatan serupa juga dilaporkan. Jumlah korban di beragam lokasi bahkan terus berubah seiring proses pendataan dan pemeriksaan kesehatan.

Sidoarjo, Jawa Timur: 730 Orang

Kasus pertama yang mencuat terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur, setelah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG pada Selasa (1/9/2026). Data korban kemudian terus bertambah. Hingga Kamis (3/9), Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 730 orang terdampak, dengan 706 telah diperbolehkan pulang, 23 masih menjalani rawat inap dan satu orang berada dalam observasi.

Agam, Sumbar: 334 Orang

Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, gangguan kesehatan dilaporkan terjadi setelah penerima manfaat mengonsumsi MBG pada Senin (31/8). Keluhan mulai muncul pada Rabu (2/9). Data awal yang sempat berada di angka 276 orang kemudian berkembang menjadi 334 orang berdasarkan pendataan lanjutan. Korban berasal dari beragam penerima manfaat, termasuk siswa dan warga lainnya, dan sebagian mendapatkan perawatan medis. Operasional SPPG yang memasok makanan tersebut dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Nganjuk, Jawa Timur: 64 Orang

Pada Rabu (2/9), dugaan keracunan juga terjadi di SMAN 3 Nganjuk, Jawa Timur. Data awal menyebut 49 orang mengalami gejala, terdiri dari 48 siswa dan satu guru. Namun, pembaruan data berikutnya menyebut jumlah korban terdampak mencapai 64 siswa, dengan sebagian masih menjalani perawatan di beragam fasilitas kesehatan. Gejala yang muncul antara lain mual, pusing dan muntah.

Kabuh, Jombang: 256 Orang

Masih pada 2 September, gangguan kesehatan juga terjadi di SMPN 1 Kabuh, Kabupaten Jombang. Sebanyak 256 siswa dan guru dilaporkan mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG. Dari jumlah tersebut, 81 siswa sempat mendapatkan penanganan di tiga fasilitas kesehatan, sementara 175 siswa dan guru menjalani pengobatan secara mandiri. Hingga Kamis, tujuh siswa masih menjalani rawat inap. Menu yang disantap antara lain nasi putih, udang saus padang, tahu susu, sayuran dan pepaya.

Lasem, Rembang: 777 Orang

Kasus dengan jumlah korban besar berikutnya muncul di SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada Kamis (3/9), sebanyak 777 orang, terdiri dari 752 siswa dan 25 guru atau tenaga kependidikan, dilaporkan mengalami keluhan seperti diare, mual dan muntah. Sebagian korban mendapat penanganan medis, sementara lima orang sempat menjalani rawat inap di Puskesmas Lasem. Dinkes masih menguji sampel makanan untuk memastikan penyebabnya.

Tana Toraja, Sulsel: 152 Orang

Pada hari yang sama, dugaan keracunan MBG juga terjadi di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebanyak 152 orang, termasuk empat guru, dari SMPN 1 dan SMPN 2 Makale mendapat perawatan di tiga rumah sakit setelah mengalami keluhan seperti mual, muntah, sakit kepala dan nyeri perut. Pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.

Sleman, Yogyakarta: 28 Orang

Selain daerah-daerah tersebut, dugaan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG juga dilaporkan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan sedikitnya 28 orang mengalami gejala. 

Sebelumnya, beragam siswa TK, SD, hingga SMA di wilayah Nyaen, Pandowoharjo, Sleman dilaporan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG. Ketiga sekolah itu menerima MBG dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama. Alhasil operasional SPPG pun distop sementara.

Panewu Sleman Rohmiyanto menjelaskan, keracunan ini awalnya diketahui saat Satu siswa SD di wilayah Nyaen mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG pada Senin (31/8). Siswa itu bahkan harus dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan.

"Jadi itu MBG yang hari Senin, (tanggal) 31. Kemudian mulai bergejalanya kan malam Selasa ya. Malam Selasa sampai Selasa kemarin," terang Rohmi, Rabu (2/9) dikutip dari Detik.com.

Atas kejadian itu, lanjut Rohmi, Dinas Kesehatan Sleman pun menindaklanjuti dengan menyebarkan angket google form guna mendeteksi adanya siswa lain yang terdampak. Tracking dilakukan tak hanya di SD tersebut, namun juga di sekolah lain yang menerima MBG dari SPPG yang sama.

Hasilnya, terdapat 28 orang lagi yang mengalami gejala keracunan. Rinciannya 25 siswa dan satu guru di SD Nyaen, serta dua siswa TK Keluarga. Namun 28 itu menurutnya hanya mengalami gejala ringan.

"Hasil tracking yang pakai Google Form itu, memang bergejala ringan tapi tetap sekolah. Kemudian yang satu itu TK Keluarga, masih di wilayah sekitaran situ juga dan cuma dua siswa, tapi itu juga ringan ttetap bersekolah. Yang satu tendik (tenaga pendidik) kalau informasi tadi iya (tendik SD Nyaen)," papar Rohmi.

Bener Meriah, Aceh: 16 Orang

Di Bener Meriah, Aceh, sebanyak 16 orang yang terdiri dari 15 siswa SD dan seorang kepala sekolah juga dilaporkan mendapat penanganan medis. Data kasus di beragam daerah tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan pemeriksaan belum seluruhnya selesai.

Sebelumnya, sebanyak 15 siswa SDN Bukit Mulie dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengeluhkan gejala gangguan pencernaan. Dugaan awal mengarah pada kemungkinan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang dikonsumsi di lingkungan sekolah. 

Namun, pihak Dinas Kesehatan memastikan bahwa penyebab pasti belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar. 

Plt Kepala Dinas Kesehatan Bener Meriah, Riswandika Putra, menekankan bahwa indikasi awal memang mengarah pada keracunan makanan, tetapi belum bisa dipastikan sumber utamanya. 

“Indikasinya itu kan keracunan. Cuma kita belum berani memastikan akibat makanan MBG itu. Karena harus diuji lab dulu ya, baru boleh kita memberikan kepastian,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Untuk memastikan penyebab pasti kejadian, tim kesehatan tidak hanya mengambil sampel dari menu makanan bergizi gratis (MBG), tetapi juga dari makanan lain yang tersedia di lingkungan sekolah, termasuk kantin. 

Langkah ini dilakukan untuk memperluas ruang analisis agar sumber dugaan keracunan dapat diketahui secara akurat.

Tanggapan BGN

Rentetan kasus tersebut mendapat perhatian serius dari Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala BGN Sudaryono menyampaikan permohonan maaf atas kejadian di Sidoarjo dan menyebut adanya kelalaian dalam pelaksanaan program. Ia juga mengemukakan dugaan unsur pidana dalam kasus tersebut diserahkan kepada kepolisian untuk diproses sesuai ketentuan.

"Saya juga menyampaikan di tempat ini, keracunan makanan yang terjadi di Sidoarjo kemarin, permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Sidoarjo, di pondok pesantren yang sampai saat ini datanya terekap di tempat kami," ujar Sudaryono saat memberikan pengarahan ke jajaran BGN seperti dalam video yang diunggah di Instagram resminya, Kamis (3/9/2026).

Sudaryono menjelaskan BGN terus memonitor jumlah korban yang keracunan. Dia juga meminta jajaran terus mendata semua siswa yang telah menyantap MBG itu.

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana sebelumnya mengungkap dugaan masalah di Sidoarjo berkaitan dengan ketidakdisiplinan dalam proses pendistribusian makanan. 

Menurutnya, makanan seharusnya selesai didistribusikan dalam waktu maksimal empat jam setelah dimasak. Namun, dalam kasus tersebut prosesnya disebut berlangsung lebih dari batas waktu yang ditentukan, sehingga meningkatkan risiko makanan basi dan pertumbuhan bakteri.

“Yang utama bagi kami saat ini adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak kita. Untuk itu, BGN akan terus mengawal siswa yang masih menjalani rawat inap dan memastikan mereka mendapatkan penanganan yang diperlukan hingga kondisi mereka kembali sehat dan dapat pulang ke rumah masing-masing,” ujar Ketut, Rabu (2/9).

BGN kemudian melakukan penghentian sementara terhadap SPPG yang bermasalah dan melakukan investigasi. Dalam perkembangan terbaru, BGN juga mengemukakan sebagian besar kasus keracunan yang terjadi berkaitan dengan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) oleh pengelola dapur. Pengawasan dan evaluasi terhadap SPPG pun didorong untuk diperketat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Kami juga suspend berat selama 30 hari SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah. Selain itu, kami juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot dan digantikan," ujarnya. 

Rentetan kasus ini menjadi perhatian karena terjadi dalam waktu berdekatan dan melibatkan penerima manfaat dalam jumlah besar. Pemerintah kini dituntut memastikan setiap tahapan program MBG, mulai dari pemilihan bahan pangan, proses memasak, penyimpanan hingga distribusi, benar-benar memenuhi standar keamanan pangan sebelum makanan dikonsumsi para penerima manfaat. (Disadur dari beberapa sumber)