BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kabut pagi masih menyelimuti lereng hijau Register 39, kawasan Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Ketika Jumino perlahan menyusuri kebun kopinya. Dengan topi tudung di kepala, serta jaket hitam-kuning dan bakul tergantung di pinggang, petani lanjut usia itu memilah buah kopi yang telah berwarna merah.
Di balik rutinitas itu tersimpan kisah panjang masyarakat yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup di kawasan hutan lindung. Kini, mereka tidak hanya berusaha meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga belajar menjadi penjaga hutan melalui sistem agroforestri.
Tahun ini, hasil panen kopi Jumino menurun. Jika musim lalu ia mampu menghasilkan sekitar 6,5 kuintal kopi, kini produksinya berkurang akibat keterbatasan modal untuk membeli pupuk.
Namun, meski panen kopi nya menurun. Jumino masih memiliki sumber penghasilan lain dari tanaman yang tumbuh berdampingan di kebunnya.
"Penyebab utamanya karena saya tidak sempat memupuk. Modalnya tidak ada. Tetapi untung ada tanaman jengkol dan pala yang sesekali dipanen untuk dijual,"ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Bagi Jumino, keberadaan beragam tanaman di satu lahan bukan sekadar menjaga tutupan hutan, tetapi juga menjadi penyangga ekonomi keluarga ketika salah satu komoditas mengalami penurunan hasil. Inilah yang membuat sistem agroforestri memberi rasa aman dibanding hanya mengandalkan satu jenis tanaman.
Perjalanan Jumino menjadi petani di kawasan Batutegi bukan tanpa alasan. Ia berasal dari keluarga sederhana. Di kampung halamannya, ia bekerja sebagai buruh dan penyewa lahan dengan penghasilan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Di kampung saya orang enggak punya. Kerjanya nyewa lahan. Hasilnya kurang untuk kebutuhan keluarga. Akhirnya saya mencoba menggarap lahan di kawasan ini untuk mengubah nasib,"kenangnya.
Kini, meski hidup sederhana, ia merasa bersyukur. Hasil kebun mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bersama istrinya, ia tinggal di kebun dan hanya pulang ke kampung setiap dua hingga tiga pekan untuk menjenguk anak dan cucunya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jumino juga mulai menerapkan praktik agroforestri melalui pendampingan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama para pemangku kepentingan. Ia belajar menggunakan pupuk sesuai anjuran, merawat tanaman tanpa merusak kawasan hutan, serta mempertahankan keberagaman tanaman di lahannya.
"Alhamdulillah ada peningkatan. Saya mengikuti apa yang disarankan, terutama soal pemupukan dan cara merawat tanaman. Mudah-mudahan hasilnya semakin baik,"katanya.
Bagi Jumino, menjaga keberagaman tanaman bukan hanya soal meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian hutan. Di kawasan yang menjadi habitat berbagai satwa liar itu, ia memilih hidup berdampingan.
"Saya di sini numpang usaha. Mudah-mudahan saya tidak mengganggu mereka (satwa), mereka juga tidak mengganggu saya. Masing-masing mencari kehidupan,"tuturnya.
Regenerasi Petani Muda Telah Mencoba Mengelola Hutan dengan konsep agroforestry.
Perubahan serupa mulai dirasakan Wawan (36), petani kopi yang telah menggarap lahan di Register 22 selama lebih dari satu dekade. Melalui pendampingan YIARI, ia diperkenalkan dengan pola agroforestri, yaitu mengombinasikan kopi dengan tanaman keras seperti alpukat, durian, pala, pinang, dan kemiri.
Namun proses regenerasi cara bertani tidak berjalan tanpa keraguan.
"Memang kami sudah mendapat edukasi dari YIARI, tapi saya masih ragu mengganti sebagian tanaman kopi dengan buah-buahan karena belum punya pengalaman,"katanya.
Kekhawatiran itu muncul karena petani tidak bisa sembarangan mengubah kembali lahan yang telah ditanami pohon konservasi sesuai aturan Hutan Kemasyarakatan (HKm).
Meski demikian, salah satu petani muda di Register 22 Batutegi ini. Wawan memilih secara bertahap untuk memulai mengelola hutan dengan konsep agroforestry.
"Di lahan dua hektare yang saya garap, saya tanami juga30 batang alpukat, 30 batang durian, dan 15 batang pala," ungkapnya.
Baginya, keberanian mencoba muncul karena petani tidak berjalan sendiri. Mereka mendapatkan pelatihan pembibitan sehingga mampu menghasilkan bibit tanaman secara mandiri.
Menurut Wawan, keberanian mencoba muncul karena petani tidak dibiarkan berjalan sendiri. Melalui pelatihan yang diberikan YIARI, mereka mampu memproduksi bibit tanaman secara mandiri.
"Bersama teman-teman kami sudah diajari cara pembibitan oleh YIARI, jadi tidak perlu beli lagi,"tuturnya.
Dari Rasa Takut Menjadi Kesadaran
Ketua Gapoktan Sumber Makmur, Dayat, mengingat betul bagaimana kehidupan petani sebelum memperoleh izin untuk mengelola HKm di Register 22.
Sejak awal 2000 hingga 2016, para petani hidup dalam ketidakpastian. Setiap kali petugas Polisi Kehutanan maupun Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) datang, mereka merasa waswas.
"Waktu itu kami sadar lahan yang digarap masuk kawasan register. Tapi karena memang dari dulu sumber penghidupannya dari menggarap lahan ini, maka kami tetap bertani meski harus kucing-kucingan dengan petugas,"kenangnya.
Perubahan mulai terjadi ketika YIARI hadir melakukan pendampingan kepada masyarakat.
"Kita diedukasi melalui pendekatan yang lebih persuasif, sehingga petani mulai memahami bahwa menjaga hutan tidak harus menghilangkan mata pencaharian mereka, "katanya.
Momentum penting datang pada 2017 ketika pemerintah menerbitkan izin HKm. Sejak saat itu, para petani memiliki kepastian hukum untuk mengelola lahan dengan syarat tetap menjaga kelestarian kawasan.
Meski demikian, mengubah pola pikir petani bukan pekerjaan singkat.
"Secara signifikan kami memang belum sepenuhnya menerapkan penanaman tanaman akar tunjang. Tapi beberapa petani sudah mulai mencoba menanamnya di sela-sela tanaman kopi melalui sistem tumpangsari,"jelas Dayat.
Sebagai ketua Gapoktan yang membina 18 kelompok tani, Dayat terus mendorong anggotanya mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik, pembibitan tanaman konservasi hingga teknik persemaian.
"Kami terus berjuang sejak 2017 bersama YIARI menuju konservasi yang maksimal. Memang menyadarkan petani butuh waktu,"ujarnya.
Caption: Supervisor Pemberdayaan Masyarakat dan Edukasi Lanskap YIARI, Aji Mandala Putra, saat mengedukasi para petani di Gapoktan Sumber Makmur.
Agroforestri Menjadi Jalan Tengah
Supervisor Pemberdayaan Masyarakat dan Edukasi Lanskap YIARI, Aji Mandala Putra, menjelaskan bahwa awalnya YIARI hanya fokus pada pelepasliaran kukang di kawasan Register 22 Batutegi.
Namun hasil kajian menunjukkan, keberhasilan konservasi satwa tidak mungkin tercapai tanpa melibatkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.
Di kawasan register, khususnya yang dekat dengan zona inti, banyak masyarakat yang masih beraktivitas sebagai petani kopi.Keberadaan mereka bisa menjadi ancaman, karena akan sia-sia satwa yang sudah kita obati dan dilepas liarkan ke hutan alaminya, jika tidak diberikan pendampingan dan edukasi, "ujarnya.
Karena itu, sejak 2017 YIARI mulai membangun hubungan dengan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.
Sekolah lapang yang dimulai pada 2022 menjadi salah satu upaya memperkenalkan pertanian berkelanjutan. "Petani kita ajarkan membuat pupuk organik, memanfaatkan kotoran kambing sebagai bahan kompos, hingga memproduksi bibit tanaman konservasi secara mandiri, "jelasnya.
Salah satu peserta bahkan telah menguasai teknik pembuatan pupuk organik dan mulai membagikan ilmunya kepada anggota kelompok tani lainnya.
Menurut Aji, agroforestri bukan berarti mengganti kopi sepenuhnya dengan tanaman buah, melainkan menciptakan sistem pertanian yang lebih seimbang antara produksi dan konservasi.
"Lahan yang mereka garap digunakan dalam jangka panjang, bahkan bisa diwariskan kepada anak-anak mereka. Karena itu penting menerapkan pola bertani berkelanjutan agar tanah dan hutan tetap terjaga,"katanya.
Saat ini, hampir 10 ribu tanaman akar tunjang telah ditanam di Resort Way Wayak. YIARI terus melakukan pemantauan terkait dengan tanaman baru.
Menyiapkan Generasi Penjaga Hutan
Kepala UPTD KPH Batutegi, Zelli Noorochim, menilai pendampingan masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang membuat Resort Way Wayak memiliki kondisi hutan lebih baik dibanding beberapa resort lainnya di Register 22.
Menurutnya, kesadaran masyarakat menjaga tutupan hutan meningkat setelah adanya kolaborasi antara pemerintah dan YIARI.
"Hutan tutupan di wilayah atas masih membutuhkan pemulihan. Pendampingan YIARI berperan penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga tutupan hutan,"ujarnya.
Hutan Register Batutegi memiliki luas sekitar 58.163 hektare. Namun kawasan hutan yang masih benar-benar utuh diperkirakan kurang dari 7.000 hektare. Sekitar 80 persen kawasan telah dimanfaatkan masyarakat sejak awal 2000-an, mayoritas untuk budidaya kopi.
Melalui skema HKm seluas 1.412 hektare yang dikelola sekitar 800 kepala keluarga,
"Gapoktan Sumber Makmur kini menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan kawasan hutan tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya, "jelasnya.
Kepala Bidang Penyuluhan, Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Hendika Jaya Putra, menyebutkan pola tanam monokultur masih menjadi tantangan utama karena berdampak terhadap menurunnya fungsi ekologis kawasan.
Menurutnya, kondisi bentang alam Batutegi yang didominasi perbukitan membutuhkan tutupan vegetasi berlapis melalui sistem agroforestri agar mampu menjaga fungsi resapan air, mencegah erosi, sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati.
"Kalau semuanya ditanam monokultur, fungsi ekologinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan agroforestri yang memiliki berbagai jenis tanaman,"katanya.
Ia menjelaskan, luas kawasan Batutegi yang mencapai lebih dari 58 ribu hektare juga membuat pengawasan menjadi tidak mudah. Sementara jumlah personel KPH Batutegi masih terbatas.
"Kami tidak bisa memaksa secara langsung. Pendekatan kami bertahap karena petani membutuhkan waktu untuk penyesuaiannya, "ucap dia.
Karena itu, Dinas Kehutanan memilih memperkuat pendampingan kepada masyarakat dengan membentuk kader-kader lokal, baik sebagai Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat maupun mitra polisi kehutanan.
Selain itu, perubahan iklim turut menjadi tantangan serius. Ketidakpastian musim menyebabkan produktivitas tanaman menurun, termasuk kopi yang sulit berbunga saat curah hujan tinggi berlangsung dalam waktu lama.
"Tantangan perubahan iklim ini sangat memengaruhi hasil panen petani. Cuaca yang tidak menentu membuat produktivitas ikut turun,"ujarnya.
Di sisi lain, Hendika mengakui regenerasi kelompok tani mulai mengalami hambatan. Saat agenda penyuluhan dilakukan, peserta yang hadir umumnya masih didominasi tokoh-tokoh lama, sementara generasi muda belum banyak terlibat aktif.
Menurutnya, sebagian anak muda memang masih membantu orang tua berkebun, tetapi belum melihat sektor pertanian sebagai profesi yang menjanjikan.
"Kalau kaderisasi tidak berjalan, ke depan banyak kelompok tani yang dikhawatirkan menjadi vakum,"katanya.
Kemudian, Hendika menilai keberlanjutan usaha masih menjadi tantangan. Banyak kelompok yang semula fokus mengembangkan usaha olahan justru meninggalkan kebun, sehingga produktivitas menurun dan usaha yang dirintis akhirnya terhenti.
"Karena itu kami mendorong pendampingan yang lebih intensif, termasuk melalui YIARI agar regenerasi petani dan penerapan agroforestri bisa berjalan lebih baik,"pungkasnya.
Caption: Petani muda saat memperlihatkan pencangkokan tanaman kopi nya untuk menciptakan tanaman dengan sifat terbaik dari dua tanaman dalam satu.
Agroforestri Butuh Regenerasi
Regenerasi petani dinilai menjadi tantangan utama dalam keberlanjutan penerapan sistem agroforestri di Lampung. Tanpa keterlibatan generasi muda, produktivitas lahan dan upaya menjaga kelestarian hutan dikhawatirkan akan terus menurun.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr. Ir. Christine Wulandari, M.P., menyebutkan agroforestri tidak hanya dimaknai sebagai pola tanam yang menggabungkan berbagai jenis tanaman, tetapi juga mencakup proses regenerasi, penguatan kapasitas petani, hingga tata kelola pemasaran dan kebijakan.
"Prinsipnya kalau kita bicara agroforestri itu memang meregenerasi tanaman dengan kondisi yang sudah ada (existing). Jadi kalau bisa disesuaikan dengan jenis-jenis yang memang cocok tumbuh di kawasan tersebut,"kata Christine.
Menurutnya, persoalan regenerasi petani kini mulai terlihat di berbagai kawasan agroforestri di Lampung, termasuk di wilayah Repong Damar Krui, Kabupaten Pesisir Barat.
Ia menjelaskan, banyak anak muda memilih merantau dan bekerja di luar daerah dibanding melanjutkan usaha pertanian yang telah dikelola orang tua mereka selama bertahun-tahun.
"Di Krui misalnya, sekarang banyak generasi mudanya yang keluar dari daerah. Yang tersisa tinggal orang-orang tua. Akibatnya regenerasi tanaman tidak berjalan dengan baik, hanya mengandalkan proses alami tanpa ada campur tangan manusia,"ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Christine, berpotensi menurunkan produktivitas lahan dalam jangka panjang.
Meski demikian, ia menilai perpindahan generasi muda ke sektor lain juga dapat memberikan dampak positif apabila diiringi dengan meningkatnya kesadaran menjaga hutan.
"Harapannya mereka tidak mengambil hasil hutan secara ilegal. Yang dikhawatirkan justru kalau mereka tidak mau bertani, tetapi memilih cara-cara yang cepat seperti menebang kayu atau melakukan aktivitas yang merusak hutan,"katanya.
Karena itu, menurut Christine, regenerasi petani harus dibarengi dengan penguatan kapasitas generasi muda, termasuk melalui pendidikan, pendampingan, serta penguatan kelembagaan kelompok tani.
"Regenerasi harus disertai pembekalan dan penguatan kapasitas, juga kelembagaan petani untuk generasi berikutnya,"tegasnya.
Ia menambahkan keterangan, konsep agroforestri memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibanding sekadar pola tanam. Dalam praktiknya, petani perlu didampingi sejak menentukan jenis tanaman, proses budidaya, pemasaran hasil, hingga dukungan kebijakan dari pemerintah.
"Agroforestri bukan hanya soal tanaman. Petani harus mampu merencanakan apa yang akan ditanam, bagaimana mengelolanya, sampai bagaimana hasilnya dipasarkan. Di situ juga ada peran kebijakan pemerintah,"jelasnya.
Selain mengombinasikan tanaman kehutanan dengan komoditas pertanian, Christine menyebut sistem agroforestri juga dapat dipadukan dengan usaha peternakan, maupun perikanan untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan.
"Agroforestri itu sangat luas. Di dalamnya bisa dipadukan dengan peternakan, perikanan, bahkan budidaya lebah. Jadi manfaat ekonominya bisa semakin beragam, sementara fungsi hutannya tetap terjaga,"pungkasnya.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan tantangan lainnya, maka kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan YIARI membangun harapan baru bagi keberlanjutan hutan lindung Batutegi.
Melalui agroforestri, harapan itu perlahan tumbuh, dari satu kebun, satu keluarga, hingga satu generasi penjaga hutan berikutnya.