BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Perjalanan pulang menuju rumah dinas di kawasan Jalan By Pass Soekarno-Hatta, Kedaton, Bandar Lampung, setelah menghadiri aktivitas Maulid Nabi Muhammad SAW, pada Kamis (27/8/2026) malam, mendadak berubah menjadi tugas kemanusiaan bagi Direktur Pengamanan Objek Vital (Dirpamobvit) Polda Lampung, Kombes Pol Jonner Samosir.
Sekitar pukul 18.30 WIB, dalam perjalanan melintasi kawasan Perumnas Way Halim, Bandar Lampung, Kombes Pol Jonner mendapat informasi dari masyarakat bahwa terjadi tawuran antar remaja di sekitar Jalan Soekarno-Hatta.
Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti. Naluri kepolisian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat membuatnya tidak sekadar melintas. Ia bergerak cepat untuk memastikan situasi di lapangan segera dikendalikan.
Sekitar pukul 19.00 WIB, tawuran terjadi di seberang perputaran SMAN 5 Bandar Lampung.
Sekelompok remaja yang mengendarai sepeda motor, sebagian bahkan berboncengan tiga orang, datang dari arah Rajabasa menuju Panjang.
Mereka kemudian berhenti di sekitar lokasi. Tak lama berselang, aksi saling serang pecah. Situasi semakin mengkhawatirkan karena berdasarkan keterangan saksi, terdapat remaja yang membawa senjata tajam jenis celurit.
Kelompok tersebut kemudian meninggalkan lokasi dengan sepeda motor menuju arah Panjang, bahkan melaju melawan arus. Tawuran itu telah menimbulkan korban.
Dua pelajar SMKN 7 Bandar Lampung mengalami luka bacok. Alfi Hapis (17), siswa kelas XI, mengalami luka bacok pada bagian belakang kepala dan tangan kiri serta lecet pada punggung kaki.
Sementara Muhammad Khoiril Mustofa (16), siswa kelas X, mengalami luka bacok pada bagian belakang kepala.
Keduanya kemudian dibawa untuk mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Bagi Kombes Pol Jonner Samosir, kejadian itu bukan sekadar tawuran yang kebetulan dilihat saat perjalanan pulang.
Langkah cepat ia dilakukan untuk memastikan tawuran tidak berkembang menjadi aksi yang lebih besar dan membahayakan lebih banyak orang.
Dirpamobvit memberikan asistensi kepada Kapolsek Sukarame, Kompol HD Pandiangan, bersama jajaran personel yang berada di lokasi. Koordinasi juga dilakukan setelah para korban mendapat penanganan di rumah sakit.
Langkah tidak berhenti pada pengamanan lokasi. Upaya mengungkap kelompok yang terlibat, motif tawuran, hingga asal sekolah para remaja yang ikut dalam aksi tersebut juga dilakukan.
Jaringan intelijen diminta dipertajam. Tim Reserse Polda Lampung, Polresta Bandar Lampung dan jajaran Polsek diarahkan melakukan penyelidikan guna mengidentifikasi para pelaku serta mencegah aksi serupa kembali terjadi.
Koordinasi dengan pihak SMKN 7 Bandar Lampung juga dilakukan karena kedua korban merupakan siswa sekolah tersebut.
Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan sebagian barang yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, yakni satu kemeja sekolah warna krem dengan badge Bhakti Pemuda Tanjung Bintang yang berlumuran darah serta satu unit sepeda motor milik korban.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tawuran pelajar bukan lagi sekadar kenakalan remaja ketika senjata tajam mulai digunakan.
Aksi yang berlangsung dalam hitungan menit dapat berubah menjadi tragedi dan mengancam keselamatan jiwa.
Respons cepat aparat menjadi sangat penting untuk memutus aksi sebelum berkembang lebih luas.
Bagi Kombes Pol Jonner Samosir, perjalanan pulang malam itu akhirnya bukan sekadar perjalanan dari satu tempat menuju rumah dinas.
Ketika laporan masyarakat datang, ia memilih berhenti sejenak, turun tangan dan memastikan persoalan tidak dibiarkan berkembang.
Langkah spontan tersebut setidaknya menjadi upaya untuk mencegah tawuran berlanjut menjadi lebih parah. Sebab, jika aksi kelompok remaja bersenjata tajam itu dibiarkan, bukan tidak mungkin jumlah korban bertambah dan keselamatan jiwa lebih banyak orang terancam.