Thursday, 23 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

‎Polisi Selidiki 2 Kasus Dugaan Keracunan di Tanggamus, 55 Warga dan 8 Siswa Jadi Korban

23 July 2026 08:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
‎Polisi Selidiki 2 Kasus Dugaan Keracunan di Tanggamus, 55 Warga dan 8 Siswa Jadi Korban
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

‎Polres Tanggamus menyelidiki dua peristiwa dugaan keracunan yang terjadi hampir bersamaan di wilayahnya.

Kasus pertama menimpa 55 warga Pekon Dadimulyo, Kecamatan Wonosobo, yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi bubur sumsum yang dijual pedagang keliling.

Sementara kasus kedua dialami delapan siswa SMP Negeri 1 Talang Padang yang mengeluhkan mual, muntah, pusing, sakit kepala, hingga diare usai mengonsumsi makanan di sekolah.

‎Polisi menggarisbawahi penyebab kedua kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan seluruh kemungkinan, termasuk adanya unsur pidana, masih didalami.

Dua peristiwa dugaan keracunan yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan di Kabupaten Tanggamus menjadi perhatian aparat kepolisian.

‎Jajaran Polres Tanggamus melalui Polsek Wonosobo dan Polsek Talang Padang bergerak cepat melakukan penyelidikan, berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, Tim Penyelidikan Epidemiologi, pihak puskesmas, pemerintah kecamatan, hingga pihak sekolah guna memastikan penyebab kejadian sekaligus mengantisipasi dampak yang lebih luas.

‎Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, melalui Kapolsek Wonosobo Iptu Primadona Laila menyampaikan, kasus pertama terjadi di Pekon Dadimulyo, Kecamatan Wonosobo.

Berdasarkan laporan yang diterima, puluhan warga mengalami sakit perut, mual, muntah, diare, hingga tubuh lemas setelah mengonsumsi bubur sumsum yang dijual pedagang keliling berinisial J (42), warga setempat.

‎Dari hasil penyelidikan sementara, bubur sumsum tersebut dijual pada Senin (20/7/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.

Beberapa jam setelah dikonsumsi, para pembeli mulai mengalami keluhan dengan gejala yang hampir sama sehingga harus mendapatkan penanganan medis.

‎"Berdasarkan keterangan penjual, sekitar 100 cup bubur sumsum yang dibawanya pada hari itu habis terjual," kata Primadona.

‎Mendapat informasi tersebut, Polsek Wonosobo bersama Satreskrim Polres Tanggamus langsung turun ke lokasi bersama Camat Wonosobo, Danramil Wonosobo, UPTD Puskesmas Wonosobo, Tim Penyelidikan Epidemiologi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, serta aparat pekon untuk melakukan pendataan korban dan penyelidikan penyebab kejadian.

‎Hingga Rabu (22/7/2026) pukul 15.00 WIB, sebanyak 55 warga tercatat mengalami gejala yang diduga akibat keracunan makanan.

Rinciannya, 54 orang merupakan warga Pekon Dadimulyo dan satu orang warga Pekon Sudimoro.

‎Dari jumlah tersebut, 49 orang telah dinyatakan sehat setelah menjalani penanganan oleh dokter UPT Puskesmas Wonosobo dan bidan desa.

‎Sementara enam orang masih menjalani perawatan, yakni Daminem Astuti (41), Nurmaini (44), dan Yeni Angraini (34) di Puskesmas Sanggi. Sedangkan Rini Selpiyan (14), Wagiyem (66), dan Pariyah (51) dirawat di Puskesmas Siring Betik.

‎"Berdasarkan keterangan tenaga medis, kondisi keenam korban semakin membaik dan terus dipantau secara intensif," ujarnya.

‎Untuk mengungkap penyebab kejadian, polisi melakukan deteksi dini terhadap warga yang mengalami gejala, mengumpulkan bahan keterangan dari saksi, serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.

‎Karena bubur sumsum yang diduga dikonsumsi warga telah habis terjual, petugas mengamankan seluruh bahan baku pembuatan bubur, yakni tepung terigu, tepung beras, tepung maizena, susu, sekoteng, pasta pandan, santan, air rebusan, dan gula merah.

‎Seluruh bahan tersebut kemudian dibawa petugas Puskesmas Siring Betik untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

‎"Penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Kami juga mendalami apakah terdapat unsur pidana dalam kejadian ini," kata Primadona.

‎Selain penyelidikan, Polsek Wonosobo meningkatkan patroli dialogis di Pekon Dadimulyo melalui Unit Samapta serta meminta Bhabinkamtibmas rutin menyambangi keluarga korban guna memastikan kondisi mereka sekaligus menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.

‎Sementara itu, kasus kedua terjadi di SMP Negeri 1 Talang Padang. Delapan siswa mengalami mual, muntah, pusing, sakit kepala, dan sebagian mengalami buang air besar cair setelah mengonsumsi makanan di sekolah pada Rabu (22/7/2026).

‎Kapolsek Talang Padang Iptu Harunur Rasyid menyampaikan, pihaknya langsung melakukan identifikasi dengan mendatangi sekolah, berkoordinasi dengan UPT Puskesmas Talang Padang, mendampingi pengambilan sampel makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sinar Betung, serta berkoordinasi dengan pihak sekolah dan tenaga kesehatan.

Berdasarkan kronologi, menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tiba di sekolah sekitar pukul 09.00 WIB.

‎Sesuai prosedur, seorang guru yang bertugas sebagai penanggung jawab (PIC) terlebih dahulu mencicipi makanan tersebut.

‎Setelah menunggu sekitar 15 menit tanpa mengalami keluhan, makanan kemudian dibagikan kepada sekitar 830 siswa dan dewan guru.

‎Sekitar pukul 10.20 WIB siswa mulai mengonsumsi makanan. Namun sekitar pukul 12.00 WIB, delapan siswa mulai mengeluhkan mual, muntah, pusing, sakit kepala, dan sebagian mengalami diare sehingga langsung dibawa ke UPT Puskesmas Talang Padang.

‎"Dari delapan siswa yang mengalami keluhan, lima siswa telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis, sedangkan tiga siswa masih menjalani perawatan di UPT Puskesmas Talang Padang," kata Harunur.

‎Hasil anamnesis tenaga kesehatan menunjukkan adanya kemungkinan sumber makanan lain. Dari delapan siswa tersebut, lima siswa mengaku selain mengonsumsi menu MBG juga membeli dan mengonsumsi sate usus di kantin sekolah.

‎Dokter UPT Puskesmas Talang Padang, dr. Asha Dwi Apsari, menyampaikan penyebab pasti belum dapat dipastikan.

‎"Gejala yang dialami para siswa diduga merupakan reaksi tubuh terhadap makanan yang dikonsumsi. Namun penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," ujarnya.

‎Menurut dr. Asha, sampel makanan MBG dan sampel muntahan siswa telah diambil untuk diperiksa di Labkesda Provinsi Lampung dengan pendampingan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus.

‎"Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru akan diketahui sekitar satu minggu," katanya.

‎Kepala SPPG Sinar Betung, Muzaki Dewantara, bersama ahli gizi dan tim pengawas juga turun ke sekolah dan puskesmas. Pihak SPPG menyerahkan sampel makanan kepada petugas kesehatan serta menjelaskan bahwa seluruh bahan baku diterima dalam kondisi baik dan diolah sesuai standar operasional.

‎Menu MBG yang disajikan pada hari itu terdiri atas nasi putih, ayam saus mentega, tahu goreng, oseng buncis dan jagung, serta buah jeruk.

Harunur menggarisbawahi kepolisian akan terus mengumpulkan bahan keterangan, berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait, serta mengawal proses pemeriksaan laboratorium hingga hasil resmi diterbitkan.

‎"Kami meminta masyarakat, khususnya orang tua siswa, agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Penyebab kedua kejadian ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari instansi yang berwenang," tegasnya.

‎Polres Tanggamus menggarisbawahi kedua peristiwa tersebut merupakan kasus yang berbeda, baik dari lokasi, waktu, maupun dugaan sumber makanan. Oleh karena itu, proses penyelidikan dilakukan secara terpisah dengan melibatkan instansi terkait.

‎Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab pasti kedua kejadian sekaligus menentukan langkah hukum apabila ditemukan adanya unsur kelalaian maupun tindak pidana.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari