BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Tanggamus — Hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau semakin meluas di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Bukan hanya wilayah pesisir seperti Pematang Sawa, Kelumbayan, dan Cukuh Balak, kepulan debu vulkanik juga dilaporkan berdampak sangat parah di Kecamatan Kotaagung, Kotaagung Timur, dan Kotaagung Barat, Minggu (6/9/2026).
Abu berwarna gelap mengepung aktivitas warga. Debu menempel di atap dan halaman rumah, memenuhi jalan serta terbawa masuk ke dalam rumah. Kondisi tersebut membuat warga khawatir terhadap kesehatan, terutama anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Situasi itu juga memunculkan kekhawatiran terhadap acara belajar mengajar. beragam orangtua meminta pemerintah mempertimbangkan penghentian sementara aktivitas sekolah atau mengubah pembelajaran menjadi jarak jauh/online hingga kondisi udara kembali aman dan situasi erupsi terkendali.
Permintaan tersebut muncul karena anak-anak dinilai menjadi kelompok yang rentan terpapar abu vulkanik ketika harus beraktivitas di luar rumah maupun melakukan perjalanan menuju sekolah.
Tiga Kecamatan Kotaagung Ikut Terdampak
Sebelumnya, BPBD Kabupaten Tanggamus menyampaikan bahwa hujan abu vulkanik telah berdampak di Kecamatan Pematang Sawa, Kelumbayan, dan Cukuh Balak.
Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan sebaran abu semakin luas. Warga di Kotaagung dan dua kecamatan yang berbatasan langsung dengan pusat pemerintahan Kabupaten Tanggamus, yakni Kotaagung Timur dan Kotaagung Barat, juga melaporkan kondisi serupa.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak erupsi Anak Krakatau tidak lagi hanya menjadi persoalan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir tertentu.
beragam warga mengaku aktivitas sehari-hari terganggu. Debu vulkanik membuat warga harus lebih sering membersihkan rumah dan kendaraan. Sebagian warga juga memilih mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Laporan mengenai abu vulkanik di beragam wilayah Tanggamus sebelumnya juga muncul melalui media sosial. Foto dan video yang beredar memperlihatkan debu berwarna gelap menempel di atap rumah, pepohonan, jalan, serta fasilitas umum.
Laporan media lokal juga menyebut abu vulkanik telah dirasakan warga di Pematang Sawa sejak sekitar pukul 06.00 WIB pada Sabtu (5/9/2026). Di Pekon Karang Brak, misalnya, jarak pandang dilaporkan turun hingga sekitar 300 meter.
Kondisi serupa dilaporkan terjadi di Pekon Tirom dan Teluk Brak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tanggamus, Hendarman Wahid, sebelumnya membenarkan adanya dampak abu vulkanik di tiga kecamatan.
“Terkait hujan abu vulkanik di wilayah Kabupaten Tanggamus, yaitu terjadi di Pematang Sawa, Kelumbayan, dan Cukuh Balak.”
Warga Pertanyakan Posko BPBD
Di tengah kepanikan akibat meluasnya abu vulkanik, muncul pula sorotan terhadap kesiapsiagaan penanganan bencana di tingkat kabupaten.
Ahmad Ridial, warga Pekon Talang Rejo, mengaku mendatangi kantor BPBD Tanggamus untuk mencari informasi mengenai posko tanggap darurat bencana vulkanik Anak Krakatau.
Namun, menurut kesaksiannya, ia tidak menemukan petugas di lokasi yang diharapkan menjadi pusat koordinasi penanganan bencana tersebut.
“Izin bang, posko tanggap darurat kita terkait abu vulkanik Anak Gunung Krakatau di mana ya? Saya ke kantor BPBD ini kok kosong melompong,” ujar Ahmad.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena masyarakat membutuhkan pusat informasi yang mudah diakses, terutama ketika kondisi di lapangan berubah cepat.
Meski demikian, keberadaan atau tidak adanya petugas di satu lokasi pada saat tertentu belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa seluruh sistem penanganan bencana BPBD tidak berjalan. Pemerintah daerah perlu memberikan penjelasan mengenai lokasi posko, jadwal piket, mekanisme pengaduan, serta bagaimana masyarakat memperoleh informasi resmi secara cepat.
Orangtua Minta Sekolah Dipertimbangkan
Kondisi udara yang dipenuhi abu membuat sebagian orangtua mulai mempertanyakan kelanjutan acara sekolah.
Mereka meminta pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan melakukan evaluasi terhadap kondisi lingkungan sekolah sebelum pembelajaran tatap muka dilanjutkan secara normal.
Pilihan yang dinilai paling aman adalah meliburkan sekolah untuk sementara atau menerapkan pembelajaran jarak jauh selama paparan abu masih tinggi.
Permintaan itu bukan semata-mata karena kekhawatiran terhadap perjalanan anak menuju sekolah. Abu vulkanik yang beterbangan juga berpotensi masuk ke ruang kelas, menempel pada fasilitas sekolah, serta mengganggu kenyamanan dan kesehatan siswa maupun guru.
Karena itu, keputusan mengenai acara belajar mengajar idealnya didasarkan pada hasil pemantauan kualitas udara, intensitas abu, kondisi masing-masing wilayah, dan rekomendasi instansi terkait.
Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga
Badan Geologi mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut sebenarnya telah berlaku sejak 2 Juli 2026, bukan baru dinaikkan pada 5 September.
Dalam laporan resmi Badan Geologi mengenai aktivitas Anak Krakatau pada 5 September, erupsi menerus disertai lontaran batu pijar dan abu vulkanik masih berlangsung.
BNPB melaporkan erupsi menerus mulai terjadi pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB dan disertai suara gemuruh atau dentuman yang terdengar dari wilayah sekitar.
Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung api hanya untuk melihat, memotret, atau merekam aktivitas erupsi karena masih terdapat potensi lontaran material vulkanik.
Pada status Level III, masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi. Potensi bahaya yang harus diwaspadai meliputi lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu lebat.
Abu Bahkan Mengganggu Penerbangan
Dampak erupsi juga meluas ke wilayah lain di Pulau Jawa dan Sumatera.
Pada Minggu (6/9/2026), beragam penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta mengalami gangguan akibat sebaran abu vulkanik. Laporan Reuters menyebut sebanyak 209 penerbangan terdampak atau dihentikan sementara, sementara kolom abu dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebaran material erupsi Anak Krakatau dapat bergerak jauh mengikuti arah angin dan tidak terbatas di sekitar tubuh gunung api.
Meski demikian, BNPB menyebutkan tidak ada ancaman tsunami langsung akibat aktivitas erupsi tersebut dan belum ada laporan korban jiwa maupun kebutuhan evakuasi massal.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
BPBD Tanggamus sebelumnya telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan menyusul laporan Pusdalops-PB dan kondisi aktivitas Anak Krakatau.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama kelompok rentan. Warga juga dianjurkan menggunakan masker atau alat pelindung pernapasan serta kacamata pelindung ketika harus keluar rumah.
Pintu, jendela, dan ventilasi rumah dianjurkan ditutup untuk mengurangi masuknya abu. Sumber air bersih perlu dilindungi dari kontaminasi abu, sedangkan makanan dan minuman yang telah terpapar abu sebaiknya tidak dikonsumsi.
Peralatan makan dan bahan makanan yang terkena abu juga harus dibersihkan sebelum digunakan.
BPBD meminta camat meneruskan informasi dan langkah mitigasi tersebut hingga tingkat pekon dan dusun.
Dalam kondisi seperti sekarang, kecepatan informasi menjadi sama pentingnya dengan bantuan fisik. Warga membutuhkan kepastian mengenai kondisi gunung, wilayah terdampak, layanan kesehatan, lokasi posko, distribusi masker, hingga keputusan pemerintah mengenai acara sekolah.
Bagi masyarakat Tanggamus yang kini hidup di tengah kepungan abu, yang paling dibutuhkan bukan hanya imbauan untuk waspada, tetapi juga kehadiran pemerintah yang terlihat, mudah diakses, dan mampu bergerak cepat ketika kondisi di lapangan memburuk. (*)