BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemprov Lampung melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) memastikan pelaksanaan program perbaikan jalan provinsi pada Tahun Anggaran 2026 terus berjalan sesuai target.
Hingga akhir Juli 2026, progres fisik pekerjaan secara keseluruhan telah mencapai rata-rata sekitar 30 persen.
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, M. Taufiqullah, menjelaskan capaian tersebut merupakan progres agregat dari seluruh paket pekerjaan yang saat ini sedang berlangsung.
Menurutnya, pada 2026 terdapat 62 paket pekerjaan yang diselenggarakan melalui tiga tahap proses lelang. Tahap pertama terdiri dari 30 paket, tahap kedua sebanyak 25 paket, sedangkan sisanya dilelang pada tahap ketiga.
"Kalau secara agregat, progres pekerjaan saat ini sekitar 30 persen. Namun untuk paket-paket yang dilelang lebih awal, rata-rata progresnya sebenarnya sudah di atas 50 persen," kata Taufiqullah saat dimintai keterangan, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, capaian rata-rata menjadi lebih rendah karena masih terdapat sebagian paket yang baru menandatangani kontrak sehingga progres fisiknya masih berada di bawah 10 persen.
Meski demikian, pihaknya terus mendorong percepatan pelaksanaan seluruh paket pekerjaan, terutama proyek-proyek yang dibiayai melalui skema pinjaman daerah.
"Kita terus kejar seluruh progres pekerjaan, terutama paket-paket dari pinjaman. Targetnya pada September hingga Oktober nanti sudah banyak pekerjaan yang bisa dilakukan Provisional Hand Over (PHO)," ujarnya.
Menurut Taufiqullah, masyarakat saat ini sudah mulai merasakan hasil infrastruktur dan pengembangan tersebut. Di sebagian ruas jalan, pekerjaan telah menunjukkan perkembangan signifikan, bahkan ada yang hampir selesai seluruhnya.
"Kalau melihat langsung ke lapangan, masyarakat juga sudah banyak yang membagikan progresnya. Ada ruas yang sudah selesai di satu sisi, bahkan ada yang sudah selesai dua jalur. Memang masih ada beberapa segmen yang belum terhubung, tetapi secara umum hasilnya cukup menggembirakan," jelasnya.
Di tengah percepatan infrastruktur dan pengembangan, BMBK mengakui terdapat tantangan yang dihadapi para kontraktor, yakni meningkatnya harga solar industri yang digunakan untuk mengoperasikan alat berat.
Menurut Taufiqullah, kenaikan harga BBM industri dipicu fluktuasi harga minyak dunia akibat konflik geopolitik internasional, sehingga berdampak terhadap biaya operasional pelaksanaan proyek.
"Sejauh ini tidak ada kendala berarti. Hanya saja harga solar industri naik cukup signifikan. Seluruh pekerjaan sekarang menggunakan alat mekanis, sehingga kebutuhan BBM sangat besar. Ini membuat para kontraktor cukup kesulitan karena biaya operasional meningkat," katanya.
Meski demikian, seluruh pekerjaan tetap berjalan karena telah terikat kontrak.
Ia melanjutkan, hingga kini pembayaran proyek masih mengacu pada harga kontrak yang telah disepakati. Pemprov Lampung juga telah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat.
"Kami sudah melaporkan adanya kenaikan harga tersebut. Kalau nanti ada kebijakan dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Keuangan, terkait penyesuaian atau eskalasi harga, tentu akan kami ikuti. Tetapi selama belum ada kebijakan, maka yang digunakan tetap harga kontrak," tegasnya.
Taufiqullah menyebutkan, salah satu ruas dengan progres pekerjaan tertinggi berada di kawasan Kotabaru. Hampir seluruh badan jalan di ruas tersebut telah selesai dilakukan pengecoran dan tinggal menyisakan sebagian kecil pekerjaan.
Sementara itu, progres paling rendah terdapat pada ruas Jalan Martadinata. Rendahnya capaian di lokasi tersebut bukan disebabkan kendala teknis, melainkan karena proses pembebasan lahan yang masih berlangsung.
"Untuk Kotabaru, hampir sepanjang jalan sudah dicor semua, tinggal sedikit lagi. Sedangkan Martadinata progresnya masih rendah karena pekerjaan berjalan beriringan dengan proses pembebasan lahan. Pelaksana belum bisa mengerjakan pada bagian yang lahannya belum bebas," pungkasnya.