BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
(Tubaba), Ir. Novriwan Jaya, S.P. mengungkapkan arah infrastruktur dan pengembangan daerahnya yang bertumpu pada lima prioritas utama, yakni kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, lingkungan hidup, dan infrastruktur.
Menariknya, infrastruktur dan pengembangan infrastruktur ditempatkan pada urutan kelima. Novriwan memilih memperkuat kualitas manusia dan ekonomi masyarakat terlebih dahulu sebelum infrastruktur dan pengembangan fisik.
Hal tersebut disampaikan Novriwan saat menerima kunjungan Praeses HKBP Distrik XXXII Lampung, Pdt. Mauli H. Aritonang, S.Th., bersama rombongan di Bandar Lampung, Sabtu (15/8/2026).
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah penguatan ekonomi masyarakat melalui perluasan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Novriwan menyampaikan, pada 2026 pihaknya menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp500 juta untuk setiap tiyuh. Tahun depan, target tersebut akan ditingkatkan menjadi Rp1 miliar per tiyuh.
"Tahun ini kita targetkan masing-masing tiyuh Rp500 juta. Tahun 2027 kita naikkan menjadi Rp1 miliar per tiyuh. Kita ingin uang berputar dan ekonomi tumbuh langsung dari desa," kata Novriwan.
Kabupaten Tulang Bawang Barat memiliki 100 tiyuh dan tiga kelurahan. Dengan 100 tiyuh, target Rp500 juta per tiyuh berarti potensi penyaluran KUR pada 2026 mencapai sekitar Rp50 miliar.
Apabila target Rp1 miliar per tiyuh pada 2027 tercapai, perputaran pembiayaan melalui program tersebut berpotensi mencapai Rp100 miliar.
Menurut Novriwan, KUR tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang memiliki usaha produktif dan membutuhkan tambahan modal. Besaran pinjaman dapat mencapai Rp100 juta per penerima.
Untuk memperluas akses pembiayaan tersebut, Pemkab Tubaba bekerja sama dan membangun sinergi dengan lembaga perbankan, di antaranya Bank Lampung dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
"KUR maksimal Rp100 juta per penerima. Untuk plafon sampai Rp100 juta tidak menggunakan agunan tambahan. Kami sudah sepakat dengan pihak bank. Pemerintah daerah mendorong dan memfasilitasi agar masyarakat yang memiliki usaha bisa mengakses permodalan," ujarnya.
Menurut Novriwan, akses modal menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong masyarakat meningkatkan skala usahanya, menciptakan acara ekonomi baru dan memperbesar perputaran uang di tingkat tiyuh.
Kebijakan tersebut juga sejalan dengan program KUR Super Mikro yang telah dikembangkan Pemkab Tubaba sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kesehatan Jadi Prioritas Pertama
Novriwan menyampaikan infrastruktur dan pengembangan Tubaba tidak hanya berorientasi pada infrastruktur dan pengembangan fisik. Pemerintah daerah justru menempatkan kesehatan sebagai prioritas pertama.
Salah satu terobosan yang dilakukan adalah menghadirkan pelayanan hemodialisis atau cuci darah di RSUD Tubaba.
Dengan adanya pelayanan tersebut, masyarakat yang membutuhkan terapi cuci darah tidak harus selalu pergi ke luar daerah untuk memperoleh pelayanan.
"Hari ini masyarakat Tubaba sudah bisa melakukan cuci darah di rumah sakit daerah kita sendiri. Kita ingin pelayanan kesehatan semakin dekat dan semakin mudah dijangkau masyarakat," katanya.
Selain pelayanan rumah sakit, Pemkab Tubaba juga menjalankan program TubabaQ Sehat untuk mendekatkan pelayanan kesehatan hingga ke tingkat tiyuh.
Novriwan menilai kesehatan merupakan fondasi utama infrastruktur dan pengembangan. Infrastruktur yang baik tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila masyarakat yang menggunakannya tidak sehat.
Pendidikan, Gandeng Universitas Brawijaya
Setelah kesehatan, pendidikan menjadi prioritas kedua. Novriwan menyampaikan Pemkab Tubaba berupaya memperluas kesempatan generasi muda untuk memperoleh pendidikan berkualitas, termasuk dengan membangun kerja sama dengan beragam perguruan tinggi.
Salah satunya Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Pada 24 Juni 2026, Novriwan telah melakukan audiensi dengan Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo untuk menjajaki kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurut Novriwan, kerja sama dengan perguruan tinggi juga diarahkan untuk membuka kesempatan lebih luas bagi putra-putri Tubaba melanjutkan pendidikan tinggi, termasuk melalui skema afirmasi maupun dukungan beasiswa.
"Kita ingin anak-anak Tubaba memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan terbaik. Kalau sumber daya manusianya kuat, daerah ini juga akan semakin kuat," ujarnya.
Ekonomi Diperkuat dari Tiyuh
Prioritas ketiga adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Di sektor inilah program KUR menjadi salah satu instrumen utama. Pemerintah daerah ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat infrastruktur dan pengembangan, tetapi menjadi pelaku ekonomi yang produktif.
Melalui akses permodalan hingga Rp100 juta per penerima, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan UMKM, perdagangan, pertanian, peternakan maupun berbagai usaha produktif lainnya.
Novriwan menyampaikan pertumbuhan ekonomi daerah harus dimulai dari bawah.
Ketika pelaku usaha di tiyuh berkembang, akan tercipta perputaran uang, peningkatan pendapatan keluarga dan lapangan pekerjaan baru.
Target KUR Rp500 juta per tiyuh pada tahun ini dan Rp1 miliar per tiyuh pada 2027 menjadi bagian dari strategi tersebut.
Lingkungan Prioritas Keempat, Sampah Jadi "Emas"
Setelah kesehatan, pendidikan dan ekonomi, Novriwan menempatkan lingkungan hidup sebagai prioritas keempat.
Salah satu program yang dikembangkan adalah Bank Sampah Bergerak.
Program Bank Sampah telah dibentuk di seluruh tiyuh di Tubaba dan sebagian besar telah aktif. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk membersihkan lingkungan, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Masyarakat didorong memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi, terutama plastik, dikumpulkan dan disalurkan melalui bank sampah sehingga dapat dikonversi menjadi uang.
"Sampah plastik jangan dibuang atau dibakar. Sampah itu punya nilai. Masyarakat bisa mengumpulkan, memilah dan menjualnya. Sampah menjadi emas, masyarakat mendapatkan uang, lingkungan juga menjadi bersih," kata Novriwan.
Gerakan tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi instrumen edukasi dan pemberdayaan ekonomi.
Perkembangan program ini cukup signifikan. Pada 2025 tercatat 55 unit bank sampah aktif, meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Target satu tiyuh satu bank sampah bahkan telah dicapai lebih cepat.
Budaya pengelolaan sampah juga diperluas ke sekolah, puskesmas dan lingkungan perkantoran. Dalam beragam acara masyarakat, warga bahkan didorong membawa sampah plastik untuk dikumpulkan melalui bank sampah.
Menurut Novriwan, pola tersebut sengaja dibangun untuk mengubah paradigma bahwa sampah semata-mata merupakan persoalan menjadi sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi.
Infrastruktur Justru Prioritas Kelima
Setelah empat fondasi tersebut diperkuat, barulah Pemkab Tubaba menempatkan infrastruktur sebagai prioritas kelima.
Novriwan menggarisbawahi bukan berarti infrastruktur dan pengembangan jalan dan infrastruktur fisik tidak penting. Namun, menurutnya, infrastruktur dan pengembangan fisik harus menjadi penunjang kualitas hidup masyarakat, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pemerintah.
"Kita kuatkan dulu kesehatannya, pendidikannya, ekonominya dan lingkungannya. Setelah itu baru infrastrukturnya. Infrastruktur tetap penting, tetapi manusianya harus kita bangun terlebih dahulu," tegasnya.
Menurut Novriwan, jalan yang mulus akan jauh lebih bermanfaat ketika masyarakat yang melewatinya sehat, memiliki pendidikan yang baik, mempunyai usaha dan daya beli serta hidup dalam lingkungan yang bersih.
Karena itu, infrastruktur dan pengembangan Tubaba diarahkan melalui urutan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, lingkungan hidup, kemudian infrastruktur.
Konsep tersebut, menurutnya, merupakan upaya membangun daerah dari fondasi yang paling mendasar, yakni kualitas manusianya.
"Kalau masyarakat sehat, pendidikannya baik, ekonominya kuat dan lingkungannya bersih, maka infrastruktur dan pengembangan infrastruktur akan semakin memberikan manfaat. Jadi yang kita bangun bukan hanya jalannya, tetapi juga manusianya," ujarnya.
Silaturahmi dengan Praeses HKBP Distrik XXXII Lampung Pdt. Mauli H. Aritonang bersama rombongan tersebut berlangsung dalam suasana hangat. Dalam pertemuan itu juga dibahas berbagai hal mengenai infrastruktur dan pengembangan daerah, pemberdayaan masyarakat serta pentingnya menjaga kerukunan dan keharmonisan masyarakat di Provinsi Lampung.