BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kamis (25/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur yang akrab disapa Mirza itu menggarisbawahi bahwa masyarakat Lampung memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan adat serta budaya sebagai fondasi utama pembangunan daerah daerah.
Menurutnya, budaya Lampung telah membentuk karakter masyarakat selama ratusan tahun sehingga mampu menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada di Provinsi Lampung.
"Kita semua punya utang kepada budaya Lampung. Ada filosofi-filosofi luhur yang telah dibentuk selama ratusan tahun dan menjadi dasar masyarakat Lampung hidup berdampingan, berdamai, serta berkemajuan bersama seluruh masyarakat yang datang dari berbagai daerah di Indonesia," kata Mirza.
Ia menilai kemajuan Lampung saat ini tidak terlepas dari nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Hal itu tercermin dari minimnya konflik antarsuku, antaragama maupun kecemburuan sosial di tengah masyarakat.
"Budaya Lampung mengajarkan falsafah hidup yang menjunjung kebersamaan, saling menghormati dan menghargai. Orang Lampung sebagai tuan rumah mempersilakan siapa saja datang, sementara yang datang menghormati tuan rumah. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan utama kita," ujarnya.
Mirza mengingatkan agar kemajuan teknologi, pendidikan, dan arus globalisasi tidak menghilangkan identitas serta karakter generasi muda Lampung di masa depan.
Sebagai gubernur, ia mengaku ingin memastikan pembangunan daerah sumber daya manusia di Lampung tidak hanya berorientasi pada kemajuan ekonomi dan fisik, tetapi juga dibarengi dengan penguatan karakter berbasis adat dan budaya.
"Saya tidak ingin 10 sampai 20 tahun ke depan anak-anak Lampung kehilangan karakter. Mungkin kita maju, gedung-gedung tinggi berdiri, wisatawan ramai datang ke Lampung, tetapi jika karakter kita hilang maka kemajuan itu tidak ada artinya," tegasnya.
Karena itu, menurut Mirza, adat dan budaya harus ditempatkan sebagai pondasi pembangunan daerah daerah. Dengan demikian, Lampung dapat berkembang menjadi daerah yang maju dan makmur tanpa kehilangan jati diri.
"Kita ingin Lampung maju, tetapi maju dengan karakter. Kita ingin masyarakat makmur, tetapi tetap memiliki adat dan budaya yang kuat," lanjutnya.
Mirza juga menyoroti kekayaan budaya Lampung yang dinilai memiliki nilai historis tinggi. Salah satunya adalah keberadaan aksara Lampung yang menjadi salah satu warisan budaya penting di Indonesia.
Ia menyebut Rumah Adat Lamban Dalom bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan simbol karakter dan identitas masyarakat Lampung yang harus dijaga keberlangsungannya.
"Rumah adat ini adalah simbol budaya Lampung, simbol karakter masyarakat Lampung. Kelak anak cucu kita bisa datang ke sini untuk melihat dan memahami seperti apa kehidupan masyarakat Lampung yang sesungguhnya," katanya.
Dalam upaya pelestarian budaya, Pemerintah Provinsi Lampung juga telah mengidentifikasi sedikitnya 16 desa budaya yang akan dikembangkan dan dihidupkan kembali sebagai pusat pelestarian adat sekaligus destinasi wisata budaya.
Menurut Mirza, kawasan Marga Teluk Bandar Lampung memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dan aktivitas masyarakat sejak abad ke-19, bahkan sebelum letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.
"Dulu kawasan ini sangat ramai. Ada pelabuhan, pasar, masjid, tempat pengajian, aktivitas perdagangan hingga kesenian dan budaya yang berkembang dengan baik. Kehidupan masyarakatnya sangat maju pada masanya," jelasnya.
Jajaran Pemprov Lampung, lanjut Mirza, berkomitmen menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya tersebut agar dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia.
"Ini yang akan kita bangkitkan lagi agar seluruh masyarakat Indonesia bisa melihat seperti apa Lampung yang sesungguhnya," ujarnya.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, pengembangan desa budaya juga diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata yang memperkenalkan kehidupan, tradisi, dan nilai-nilai masyarakat Lampung kepada wisatawan.
"Saya sering bertemu wisatawan yang ingin mengetahui seperti apa Lampung sebenarnya. Dengan adanya desa budaya seperti ini, masyarakat dan wisatawan dapat melihat langsung kehidupan serta kebudayaan Lampung dalam satu kawasan yang mudah dijangkau," pungkasnya. (*)