Wednesday, 26 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Lampung Mulai Operasi Modifikasi Cuaca, Sasar Karhutla dan Kekeringan

26 August 2026 15:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Lampung Mulai Operasi Modifikasi Cuaca, Sasar Karhutla dan Kekeringan
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

agenda Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi dampak kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Taman Nasional Way Kambas.

Pesawat yang digunakan untuk agenda OMC lepas landas dari Bandara Radin Inten II pada pukul 12.06 WIB dan kembali mendarat pada pukul 13.23 WIB dengan membawa 800 kg garam, Rabu (26/8/2026).

Wakil Pimpinan tertinggi Provinsi Lampung Jihan Nurlela menyebutkan, pelaksanaan OMC dilakukan atas perhatian Presiden terhadap kondisi cuaca dan kekeringan yang terjadi di beberapa daerah.

Menurutnya, pelaksanaan OMC tidak hanya diarahkan untuk membantu pemadaman Karhutla, tetapi juga untuk meningkatkan curah hujan di wilayah yang mulai mengalami kekeringan, khususnya daerah yang kondisi waduk dan sumber airnya semakin menurun.

"Atas atensi Bapak Presiden agar bisa dilakukan OMC, dan dipantau BMKG, kondisi cuaca cukup mendukung sehingga pesawat sudah bisa melakukan take off,” kata Jihan.

Ia menjelaskan, pada pelaksanaan OMC kali ini beberapa wilayah menjadi perhatian, di antaranya Lampung Tengah dan Lampung Timur. 

Upaya tersebut diharapkan dapat membantu membasahi titik-titik yang mengalami kebakaran sekaligus memenuhi kebutuhan air untuk sektor pertanian.

"OMC hari ini bukan hanya membantu kebakaran, tetapi juga kekeringan. Ada beberapa daerah yang hari ini menjadi sasaran, di antaranya Lampung Tengah dan Lampung Timur,” ujarnya.

Jihan memiliki harapan pelaksanaan OMC dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama wilayah yang mulai kesulitan mendapatkan air.

"Semoga ini bisa bermanfaat, selain membantu membasahi titik hotspot, juga membantu pertanian yang membutuhkan air,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Rudy Sjawal Sugiarto menyebutkan, agenda OMC pertama ini mendapat dukungan operasi hingga 30 Agustus 2026.

Menurut Rudy, pelaksanaan OMC akan dimaksimalkan untuk meningkatkan debit air, terutama di waduk-waduk yang mulai mengalami kekeringan.

“OMC pertama ini dukungannya sampai tanggal 30. Kita akan maksimal meningkatkan debit air dan waduk yang sudah mengalami kekeringan, seperti di Lampung Tengah dan Lampung Selatan yang kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan,” jelas Rudy.

Selain menyasar wilayah yang mengalami kekeringan, tim juga akan memantau keberadaan waduk maupun wilayah lain yang masih memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.

Prakirawan BMKG Lampung Tito menyebutkan, tantangan utama dalam pelaksanaan OMC saat ini adalah terbatasnya pertumbuhan awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.

Pada penerbangan pertama, tim memantau wilayah Lampung Timur yang berbatasan dengan Lampung Selatan. Di kawasan tersebut terdapat hotspot dengan tingkat sedang hingga tinggi.

"Pertama di daerah Lampung Timur yang berbatasan dengan Lampung Selatan. Di sana ada hotspot titik sedang hingga tinggi. Sekarang kita cukup sulit memilih awan untuk disemai karena potensi awan nya sedikit,” kata Tito.

Meski demikian, ketika ditemukan awan yang dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan hujan, pesawat langsung diarahkan menuju lokasi tersebut untuk dilakukan penyemaian.

"Tadi ketika ada awan, langsung kami ke sana dengan harapan bisa langsung terjadi hujan,” ujarnya.

Tito menjelaskan, agenda OMC tidak hanya dilakukan di satu wilayah. Pada siang hingga sore hari, tim akan kembali memantau perkembangan awan di beberapa daerah, termasuk Lampung Barat, Lampung Tengah, dan Lampung Utara.

"Take off pukul 12.06 WIB. Kemudian siang hingga sore, awan yang memiliki potensi akan coba kita semai di Lampung Barat, Lampung Tengah dan Lampung Utara, sambil melihat kondisi hotspot yang ada,” jelasnya.

BMKG menyebut kondisi atmosfer saat ini membuat pencarian awan yang cukup ideal untuk dilakukan penyemaian menjadi tantangan tersendiri. 

Tidak semua awan dapat digunakan dalam operasi modifikasi cuaca karena diperlukan karakteristik awan tertentu agar proses penyemaian dapat menghasilkan hujan.

Karena itu, pelaksanaan OMC akan terus menyesuaikan perkembangan cuaca secara real time. Selain mempertimbangkan titik hotspot, tim juga akan memprioritaskan wilayah yang mengalami kekeringan dan memiliki kebutuhan air tinggi, termasuk kawasan waduk yang debitnya mulai menyusut.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari