BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
**Lampung Kejar Peningkatan Lama Tinggal dan Belanja Wisatawan**
- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung masih memiliki pekerjaan rumah di sektor pariwisata.
Meski jumlah kunjungan wisatawan mencapai 27 juta orang sepanjang 2025, lama tinggal dan belanja wisatawan masih perlu ditingkatkan.
Jumlah kunjungan tersebut menempatkan Lampung di peringkat kesembilan nasional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung Tony Ferdinansyah menyampaikan, fokus pembangunan daerah kini tidak hanya mengejar jumlah kunjungan wisatawan.
Menurutnya, pemerintah juga menargetkan peningkatan kualitas wisatawan melalui lama tinggal dan besaran pengeluaran selama berada di Lampung.
“Kalau sesuai data BPS sampai Desember 2025, lama tinggal wisatawan di Lampung masih 1,3 hari,” ujar Tony.
“Kemudian jumlah uang yang dikeluarkan sekitar Rp2.050.000 per orang. Itu yang sekarang kita kejar sebenarnya,” lanjutnya.
Tony menilai angka kunjungan wisatawan Lampung sebenarnya sudah cukup tinggi.
Namun, perputaran ekonomi dari sektor pariwisata dinilai belum maksimal dibanding Bali maupun Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kalau kita hitung kasar, 27 juta wisatawan dikali Rp2.050.000, perputaran uangnya sekitar Rp55 triliun,” jelasnya.
“Tapi kita masih kalah dengan Bali atau Yogya. Kenapa? Karena lama tinggal mereka lebih panjang dan uang yang dibelanjakan juga lebih besar,” sambung Tony.
Ia menyampaikan, wisatawan yang datang ke Lampung masih didominasi perjalanan singkat atau bahkan hanya balik hari.
Kondisi itu terutama terjadi pada wisatawan dari daerah sekitar seperti Sumatera Selatan.
Menurut Tony, situasi tersebut membuat potensi ekonomi bagi pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif belum optimal.
Karena itu, Pemprov Lampung mulai menggeser strategi pengembangan pariwisata agar wisatawan betah tinggal lebih lama.
“Untuk apa kita mencari kuantitas kalau orang tidak lama tinggal,” katanya.
“Yang penting sekarang bagaimana orang betah dan mau keluar uang untuk wisata, kuliner, ekonomi kreatif, dan aktivitas lainnya,” lanjut Tony.
“Dari situlah roda ekonomi bergerak,” tambahnya.
Ia menjelaskan, langkah yang dilakukan antara lain memperkuat sektor ekonomi kreatif dan memperbanyak atraksi wisata.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kualitas layanan destinasi dan mendorong pengembangan kuliner khas Lampung.
Upaya tersebut dilakukan agar wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berkunjung.
Disparekraf Lampung juga terus berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perkembangan data wisatawan.
Data tersebut akan digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan sektor pariwisata.
Tony menggarisbawahi, target utama pemerintah saat ini ialah meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan di Lampung.
“Itu yang akan kita kejar, length of stay sama spending money,” tegasnya.