Sunday, 02 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kolaborasi Menjaga Hutan Batutegi, Menghadirkan Kesejahteraan Bagi Masyarakat

02 August 2026 12:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Kolaborasi Menjaga Hutan Batutegi, Menghadirkan Kesejahteraan Bagi Masyarakat
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

dari kayu di Rumah Produksi Bumi Tani Sejahtera yang terletak di Pekon Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, berjejer berbagai produk olahan makanan hasil hutan.

Keripik pisang nangka dengan berbagai varian rasa, bubuk kopi murni, minyak kemiri, tusuk gigi hingga ikan lele hasil budidaya tersusun rapi, siap dipasarkan ke berbagai daerah.

Di balik produk-produk itu, tersimpan kisah panjang tentang kesadaran masyarakat tentang pentingnya hutan sebagai penyangga kehidupan mereka. Bukan sekadar perubahan ekonomi, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat terhadap hutan yang menjadi penyangga kehidupan mereka.

Perubahan itu dimulai pada 2023 ketika Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mendampingi 10 ibu rumah tangga membentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bumi Tani Sejahtera (BTS).

Ketua KUPS BTS, Nurul, masih mengingat bagaimana kelompok itu lahir.

"KUPS BTS ini murni inisiasi dari YIARI. Mereka (YIARI) ingin ibu-ibu di sini bisa mandiri, punya acara meski tetap di rumah," ujarnya, Sabtu (4/6/2026) . 

Sebelum ada pendampingan, sebagian besar perempuan di desa hanya membantu suami bertani atau menanam komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan bawang di lahan yang terbatas.

Melalui YIARI, mereka memperoleh bantuan bibit tanaman, ayam kampung, pelatihan pembuatan pupuk organik, hingga pendampingan mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai jual.

Caption: Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Gapoktan Sumber Makmur, Sri Atmiyatun, saat menunjukan kopi yang baru dipetik dari lahan garapannya. 

Kini, aktivitas produksi berlangsung hampir setiap hari. Keripik pisang nangka yang dahulu hanya dibuat sesekali, kini rutin diproduksi karena permintaan terus berdatangan. Produknya bahkan telah dipasarkan hingga Jambi dan Cilacap.

"Bahan bakunya kami beli dari petani sini. Jadi manfaatnya dirasakan bersama. Dulu hanya menunggu penghasilan suami, sekarang kami alhamdulillah ada penghasilan sendiri,"kata Nurul.

Dari Sekolah Lapang Menuju Pertanian Berkelanjutan

Perjalanan serupa juga dirasakan Sri Atmiyatun, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Gapoktan Sumber Makmur.

Melalui sekolah lapang yang difasilitasi YIARI, ia belajar membuat pupuk organik padat, pupuk organik cair, pestisida nabati hingga minyak kemiri.

Menurutnya, penggunaan pupuk organik berhasil mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sehingga biaya produksi pertanian menjadi lebih ringan.

Namun tantangan petani belum selesai. Cuaca ekstrem menyebabkan hasil panen kopi turun drastis.

"Tahun kemarin kami agak gagal. Biasanya dapat minimal lima kuintal, hanya menjadi satu kuintal karena iklim yang ekstrem,"ujarnya.

Meski demikian, semangatnya tidak surut.

"Aku ingin kampung ini maju. Aku tinggal di sini, jadi aku ingin berhasil dari sini," katanya.

Caption: Tamar mendirikan Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, di Pekon Datar Lebuay, Tanggamus. Sebagai ruang belajar yang sejak 2015 menjadi tempat anak-anak mengenal dunia literasi.

Menjaga Hutan dengan Menguatkan Ekonomi

Bagi YIARI, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang diselamatkan atau luas hutan yang tetap terjaga.

Supervisor Pemberdayaan Masyarakat dan Edukasi Lanskap YIARI, Aji Mandala Putra, menekankan perlindungan kawasan hanya akan berhasil apabila masyarakat di sekitar hutan ikut memperoleh manfaat ekonomi.

Saat ini YIARI secara aktif mendampingi empat Gapoktan, yakni Sumber Makmur, Wana Tani, Mitra Jaya, dan Sinar Harapan Jaya yang berada di sekitar kawasan hutan Batutegi.

Pendampingan dilakukan secara rutin melalui pelatihan budidaya, penguatan kelembagaan kelompok, diskusi, evaluasi hingga pengembangan usaha.

"Keempat Gapoktan tersebut memiliki jumlah anggota yang cukup besar. Seperti Gapoktan Sumber Makmur tercatat memiliki sekitar 840 kepala keluarga dari 18 kelompok, Wana Tani sekitar 500 kepala keluarga yang mengelola lahan sekitar 3.000 hektare, sedangkan Mitra Jaya dan Sinar Harapan Jaya juga menaungi ratusan petani di wilayah dampingan," Ungkapnya. 

Aji mengaku, awalnya YIARI hanya fokus pada program pelepasliaran kukang ke habitat alaminya di kawasan Register 22, tepatnya di Batu Tegi.

Akan tetapi, banyaknya masyarakat yang masih beraktivitas di dekat kawasan zona inti sebagai petani kopi. Maka keberadaan kukang ini bisa menjadi ancaman jika tidak diberikan pendampingan dan edukasi

Sehingga fokus pendampingan YIARI bukan sekadar meningkatkan pendapatan masyarakat, melainkan menciptakan keseimbangan antara kelestarian ekologi dan kesejahteraan ekonomi.

"Kalau masyarakat tidak didampingi, satwa yang sudah direhabilitasi di Bogor dengan biaya besar bisa saja kembali diburu. Karena itu pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari konservasi," kata Aji.

Pendekatan yang digunakan adalah agroforestri, yakni sistem budidaya yang mempertahankan tutupan pohon di kebun sehingga fungsi ekologis kawasan tetap terjaga sekaligus memberikan hasil ekonomi bagi petani.

Selama sekitar empat hingga lima tahun terakhir, lebih dari 700 petani dari empat hingga lima Gapoktan telah mengikuti berbagai acara pendampingan YIARI. 

"Sekitar 30 hingga 40 persen di antaranya masih aktif mengikuti program hingga saat ini," katanya. 

YIARI secara berkala melakukan survei dampak program untuk mengetahui sejauh mana pelatihan yang diberikan dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Hasil evaluasi menunjukkan respons positif dari para petani terhadap program yang dijalankan.

Selain pendampingan masyarakat, YIARI juga menjalankan lima program lainnya di Lanskap Batutegi, yakni perlindungan kawasan, konservasi keanekaragaman hayati, mitigasi konflik satwa melalui program kukang dan jaringan listrik, pengelolaan stasiun riset, serta edukasi kepada masyarakat.

Seluruh program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan Jajaran Pemprov Lampung, Dinas Kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Balai Perhutanan Sosial, dunia pendidikan, hingga sektor swasta.

"Peran YIARI adalah melengkapi keterbatasan pemerintah, terutama dari sisi pendanaan dan sumber daya manusia, sehingga upaya perlindungan Lanskap Batutegi dapat berjalan lebih optimal," jelasnya. 

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemasaran kopi secara kolektif melalui KUPS. Pada komoditas kopi misalnya, petani sebelumnya hanya memperoleh harga sekitar Rp 46 ribu hingga Rp48 ribu per kilogram melalui tengkulak. 

"Setelah dipasarkan secara kolektif melalui KUPS langsung ke perusahaan di Bandar Lampung, harga jual mampu meningkat hingga sekitar Rp53 ribu per kilogram," ucap Aji. 

Selisih harga tersebut bukan hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menjadi modal usaha kelompok untuk berkembang.

"Ke depan, kita mengharapkan melalui KUPS ini mampu memperluas pemasaran komoditas lain seperti gula aren, lada, dan kemiri," Harapnya. 

Kolaborasi YIARI tidak berhenti di sektor pertanian.

Di Pekon Datar Lebuay berdiri Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, ruang belajar yang sejak 2015 menjadi tempat anak-anak mengenal dunia literasi.

Pendirinya ialah Tamar. Ia mengaku, awalnya hanya mengajarkan membaca, seni, dan pendidikan karakter.

Namun sejak bekerja sama dengan YIARI, materi konservasi menjadi bagian dari acara belajar.

"Awalnya saya lebih fokus ke literasi dan seni. Setelah YIARI masuk, kami juga mengarah ke konservasi agar anak-anak memiliki kepedulian terhadap lingkungan,"katanya.

Staf Pemberdayaan Masyarakat dan Edukasi YIARI, Hinggrit Enggar Rara, menilai perubahan perilaku memang tidak dapat terjadi dalam waktu singkat.

"Karena itu edukasi dilakukan secara konsisten agar tumbuh generasi yang memahami pentingnya menjaga hutan sebagai sumber kehidupan, "jelasnya. 

Batutegi, Penyangga Kehidupan Lampung

Supervisor Riset dan Biodiversitas YIARI, Aris Subagio, mengingatkan bahwa nilai Batutegi jauh melampaui keberadaan satwa liar.

Lanskap ini merupakan daerah tangkapan air utama bagi DAS Way Sekampung dan Way Putih yang menyuplai Bendungan Batutegi sebagai sumber irigasi, pembangkit listrik, dan air baku masyarakat Lampung.

Data YIARI menunjukkan kawasan KPHL Batutegi seluas sekitar 60.435 hektare masih mempertahankan sekitar 50.669 hektare kawasan berhutan.

Meski laju kehilangan hutan dalam lima tahun terakhir cenderung menurun, ancaman pembukaan lahan baru dan berkurangnya pohon penaung di kebun kopi masih menjadi tantangan serius.

"Kalau hutan ini rusak, dampaknya akan dirasakan hingga wilayah hilir. Karena itu kami tidak hanya melindungi satwa, tetapi juga habitatnya,"ujar Aris.

Menurutnya, tekanan terhadap hutan sering kali berakar dari persoalan ekonomi masyarakat.

Karena itu solusi terbaik bukan hanya penegakan hukum, melainkan menyediakan sumber penghasilan yang berkelanjutan

"Sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada aktivitas perambahan maupun perburuan, "kata Aris. 

Kolaborasi Menjadi Kunci

Kepala Bidang Penyuluhan, Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Hendika Jaya Putra, menyampaikan kawasan Batutegi memiliki peran yang sangat strategis karena menjadi daerah hulu yang menopang keberlangsungan Bendungan Batutegi serta wilayah-wilayah di bagian hilir.

Menurutnya, kerusakan hutan di kawasan hulu akan berdampak langsung terhadap kondisi lingkungan dan perekonomian masyarakat di wilayah bawah. Karena itu, pemerintah terus mendorong masyarakat pemegang izin Perhutanan Sosial untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan melalui pola pengelolaan yang berkelanjutan.

"Selama ini kelompok-kelompok perhutanan sosial lebih banyak fokus pada pemanfaatan hasil. Sekarang kami mengajak mereka berpikir lebih luas, bagaimana menjaga fungsi hutan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sesuai perannya masing-masing, termasuk YIARI,"kata Hendika.

Ia menilai pendampingan yang dilakukan YIARI menjadi contoh nyata kolaborasi tersebut. YIARI memberikan pendampingan di bidang konservasi, sementara pemerintah memperkuat kelembagaan kelompok, dan akademisi berkontribusi melalui penelitian mengenai tutupan lahan serta dampaknya terhadap produktivitas masyarakat.

"Hasil penelitian dari akademisi nantinya menjadi dasar untuk melihat hubungan antara kondisi tutupan hutan dengan produktivitas pertanian maupun perkebunan masyarakat. Informasi seperti ini tidak mungkin dilakukan sendiri oleh kelompok tani sehingga membutuhkan kerja sama berbagai pihak,"ujarnya.

Saat ini terdapat 42 kelompok Perhutanan Sosial di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi dengan luas kelola mencapai 39.428 hektare yang melibatkan sekitar 13.600 kepala keluarga.

Selain menjaga kawasan, pemerintah juga mengembangkan program agroforestri sebagai strategi meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian hutan.

Melalui pola tersebut, petani tidak hanya menanam kopi, tetapi juga didorong membudidayakan tanaman palawija maupun tanaman bernilai ekonomi lainnya di sela-sela tanaman utama.

"Kalau masyarakat sudah produktif dan sibuk mengelola lahannya, keinginan untuk membuka kawasan hutan baru akan semakin kecil,"jelasnya.

Pendampingan tidak berhenti pada peningkatan produksi. Kelompok tani juga didorong mengembangkan usaha berbasis hasil panen, seperti mengolah kopi dari sekadar menjual green bean menjadi kopi bubuk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Namun demikian, Hendika mengakui pengelolaan Lanskap Batutegi masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan petani memperluas tanaman monokultur yang dinilai kurang ramah lingkungan dibandingkan sistem agroforestri karena memiliki fungsi ekologis yang lebih rendah.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan personel pengawasan di kawasan Batutegi yang memiliki luas lebih dari 58 ribu hektare. Dengan jumlah petugas yang terbatas, pengawasan terhadap aktivitas perambahan dan pelanggaran kawasan belum dapat dilakukan secara maksimal.

Sebagai solusi, Dinas Kehutanan mendorong lahirnya kader-kader konservasi dari masyarakat, baik sebagai penyuluh maupun mitra polisi kehutanan, sehingga pengawasan tidak hanya bergantung pada aparat pemerintah.

"Selain itu, perubahan iklim juga menjadi ancaman serius karena memengaruhi produktivitas tanaman masyarakat, "ungkapnya. 

Di sisi lain, regenerasi petani juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting. Menurut Hendika, minat generasi muda untuk terlibat aktif dalam kelembagaan kelompok tani masih rendah sehingga dikhawatirkan akan memengaruhi keberlanjutan pengelolaan kawasan di masa depan.

"Kami melihat proses kaderisasi mulai menjadi tantangan. Karena itu kami mendorong pendampingan yang lebih intensif, termasuk bersama YIARI, agar lahir generasi baru yang mampu melanjutkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan,"pungkasnya. 

Melalui kolaborasi yang baik, diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat komitmen masyarakat untuk mempertahankan tutupan hutan. Dengan memperoleh manfaat ekonomi dari lahan yang sudah dikelola, tekanan untuk membuka kawasan hutan baru dapat terus ditekan.

Selain itu, pendekatan yang menggabungkan konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal yang menjadi fondasi kolaborasi strategis YIARI bersama pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Lanskap Batutegi. (*) 

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari