Friday, 24 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Klasika Minta Festival Krakatau 2026 Tak Hanya Sajikan Hiburan, Edukasi Sejarah Harus Diperkuat

24 July 2026 11:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Klasika Minta Festival Krakatau 2026 Tak Hanya Sajikan Hiburan, Edukasi Sejarah Harus Diperkuat
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

‎ Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menyoroti minimnya ruang edukasi dalam penyelenggaraan Festival Krakatau 2026. Agenda tahunan yang mengusung nama Krakatau itu dinilai masih didominasi acara seremonial, padahal seharusnya menjadi media refleksi sejarah sekaligus pembelajaran publik mengenai letusan Gunung Krakatau.

‎‎Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, menuturkan aspek edukasi semestinya menjadi salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan Festival Krakatau.

‎‎"Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan. Ia harus menjadi tuntunan. Peristiwa letusan Krakatau 1883 bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran penting tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan," ujar Mufid, Jumat (24/07/2026).

‎‎Festival Krakatau 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 dan dipusatkan di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung. acara tersebut menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN).

‎‎Rangkaian acara meliputi festival band, solo song, tari, Mengan Balak, Seruit Battle, Krakatau Run, festival mewarnai, karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, festival kuliner, Pesona Kemilau Krakatau, tur edukasi Gunung Anak Krakatau, balap perahu, lomba layang-layang, serta pameran seni rupa dan kerajinan lokal.

‎‎Meski beragam acara tersebut dinilai mampu menarik partisipasi masyarakat, Klasika menilai masih terdapat kekosongan pada aspek edukasi yang substansial, khususnya yang mengangkat sejarah lokal Lampung.

‎‎Sebagai bentuk penguatan edukasi, Klasika mengusulkan agar panitia menghadirkan Dr. Suryadi dari Universitas Leiden, peneliti naskah Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh. Naskah tersebut merupakan dokumentasi langka yang merekam secara rinci dampak letusan Gunung Krakatau 1883 dari perspektif masyarakat lokal.

‎‎"Teks ini merupakan reportase pribumi yang mendokumentasikan kengerian dan kedahsyatan letusan Gunung Krakatau 1883, menggabungkan nilai sejarah, catatan ilmiah, dan jurnalistik," jelas Mufid.

‎‎Menurutnya, Syair Lampung Karam memiliki nilai penting sebagai sumber pengetahuan lokal yang selama ini belum banyak mendapat perhatian. Keberadaan naskah tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran sejarah sekaligus memperkuat literasi kebencanaan berbasis pengalaman masyarakat Lampung.

‎‎Klasika mengingatkan, penyelenggaraan Festival Krakatau tanpa penguatan aspek edukasi berpotensi mengaburkan makna historis letusan Krakatau. Festival dikhawatirkan hanya menjadi agenda hiburan tahunan tanpa memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesadaran sejarah masyarakat.

‎‎"Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai festival, tetapi lupa bahwa di baliknya ada tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung," tegasnya.

‎‎Karena itu, Klasika mendorong Jajaran Pemprov Lampung dan seluruh pemangku kepentingan menghadirkan ruang edukasi yang lebih serius dan terstruktur dalam Festival Krakatau. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui diskusi publik, pameran arsip sejarah, pemutaran film dokumenter, hingga kolaborasi dengan akademisi dan peneliti.

‎‎Dengan demikian, Festival Krakatau diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan dan promosi pariwisata, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran yang memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sejarah, kebencanaan, dan identitas Lampung. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari