Tuesday, 26 May 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Keliling Lampung Cari Barang Langka, Widia Bertahan Jual Koleksi Adat Puluhan Tahun

26 May 2026 11:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Keliling Lampung Cari Barang Langka, Widia Bertahan Jual Koleksi Adat Puluhan Tahun
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

35 tahun terakhir, Widia setia menjaga denyut perdagangan barang-barang adat di rukonya yang berada di kawasan Jalan Teuku Umar, Bandar Lampung.

Dari luar, rukonya tampak sederhana. Namun di dalamnya tersimpan beragam benda bernilai sejarah tinggi, mulai dari kain tapis tua, batik leluhur, hingga senjata tradisional seperti keris, badik, dan tombak.

Setiap hari, toko itu selalu buka. Bahkan hari Minggu pun tetap melayani pembeli. Sebab bagi Widia, tempat usahanya bukan sekadar toko, melainkan juga bagian dari hidupnya sehari-hari.

"Kita jual barang-barang adat kayak kain, senjata-senjata, keris, badik, tombak, pokoknya khusus barang adat," ujar Widia saat ditemui ditempat ia berjualan, Selasa (26/5/2026).

Usaha yang awalnya hanya berangkat dari hobi mengoleksi barang antik itu perlahan berkembang menjadi bisnis turun-temurun yang kini dikenal para kolektor.

Menurutnya, ketertarikan terhadap barang adat justru semakin tinggi karena keberadaannya yang makin langka.

Salah satu koleksi paling tua yang pernah dimilikinya adalah kain batik leluhur dan tapis kuno berusia ratusan tahun. Bahkan ada tapis yang diperkirakan berumur hingga 300 tahun.

"Namanya barang tua ya tambah lama tambah susah nyari. Barang-barang itu kan sudah nggak diproduksi lagi, jadi makin dicari orang," katanya.

Kelangkaan itulah yang membuat harga barang-barang koleksinya bisa mencapai puluhan juta rupiah. 

Untuk tapis tua misalnya, harga tertinggi bisa menyentuh Rp35 juta hingga Rp75 juta, tergantung usia, motif, dan kondisi kain.

Meski kini semakin sulit mendapatkan barang antik, Widia tetap mempertahankan caranya berburu koleksi seperti dulu.

Ia mengaku sering berkeliling dari kampung ke kampung mencari barang-barang adat yang masih tersimpan di rumah warga.

"Kalau lewat Kota Agung ya mampir Kota Agung, lewat Kotabumi ya mampir juga. Pokoknya setiap kampung kita tanya-tanya," ujarnya.

Tak jarang, ia juga dibantu warga yang sudah dikenalnya sejak lama untuk mencari barang-barang kuno di daerah. Dari jaringan itulah berbagai koleksi langka berhasil ditemukan dan dibawa ke rukonya.

Di tengah perkembangan zaman dan maraknya barang modern, Widia percaya benda-benda adat tetap memiliki nilai tersendiri.

Bukan hanya soal harga, tetapi juga tentang sejarah dan warisan budaya yang tersimpan di dalamnya.

"Awalnya sih hobi. Tapi lama-lama kayak seru juga kalau dijual-belikan. Ini juga turun temurun dari mertua saya," katanya sambil tersenyum.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari